RSS

Penerapan Konsep dan Prinsip Pembelajaran Kontekstual

 

SISTEM INFORMASI DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata sistem informasi dan teknologi pendidikan

Dosen : Iwan Hermawan., S.Ag., M.Pd.I

Disusun oleh kelompok I/VIIB PAGI

1. Ahmad Faqih Al-Ghifari (1341170501074)

2. Abdul Latif (1341170501071)

3. Ai Sumirah (1341170501019)

4. Bayu Sutrisna (1341170501065)

5. Nanang (1341170501058)

6. Nurul Jamillah (1341170501060)

7. Syifa Fauziah (1341170501047)

8. Umi Ratna Suminar (1341170501101)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kehadirat Allah S.W.T yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini sebagai salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi pendidikan . Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, mulai dari cara penulisan, penyusunan, penguraian maupun isinya. Oleh sebeb itu, kami mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah ini.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil dalam penulisan makalah ini. Akhirnya, kami mengharapkan semoga makalah ini dapat berguna bagi semua pihak baik bagi pembaca maupun kami sendiri.

Karawang, November 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 1

C. Tujuan Masalah 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran Kontekstual 2

B. Prinsip Pembelajaran Kontekstual 3

C. Penerapan Pembelajaran Kontekstual 4

D. Kelebihan dan Kekurangan Kontekstual 6

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 7

B. Saran 7

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang Masalah

Penerapan pembelajaran kontekstual dapat dilaksanakan baik dalam kegiatan pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran yang dimediakan (mediated instruction). Bahan ajar media berupa media cetak atau tertulis adalah contoh bahan pembelajaran yang dimediakan. Apa pun format media yang digunakan, penyampaian pembelajaran pada hakekatnya merupakan kegiatan penyampaian pesan dan pengetahuan. Sesuai dengan fungsi pendidikan nasional tersebut terletak juga tanggung jawab guru untuk mampu mewujudkan pelaksanaan proses pembelajaran yang bermutu dan berkualitas. Salah satu strategi yang digunakan guru proses pembelajaran adalah menerapkan strategi pembelajaran contextual.

Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus merekonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nya. Filosofi itulah yang mendasari pengembangan pendekatan kontekstual (Countextual Teaching and Learning = CTL).

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1Apa pengertian pembelajaran kontekstual ?

1.2.2 Apa prinsip pembelajaran kontekstual ?

1.2.3 Bagaimana peran pembelajaran kontekstual ?

1.2.4 Apa kelebihan dan kekurangan pembelajaran kontekstual ?

1.3 Tujuan Masalah

1.3.1 Untuk mengetahui pengertian pembelajaran kontekstual.

1.3.2 Untuk mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual.

1.3.3 Untuk mengetahui peran pembelajaran kontekstual.

1.3.4 Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pembelajaran kontekstual.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel da-pat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.

CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.

Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber-sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesu-atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

2.2 Prinsip Pembelajaran Kontekstual

Manyampaikan pembelajaran sesuai dengan konsep teknologi pendidikandan pembelajaran pada hakekatnya merupakan kegiatan menyampaikan pesankepada siswa oleh nara sumber dengan menggunakan bahan, alat, teknik, dandalam lingkungan tertentu . Agar penyampaian tersebut efektif,perlu diperhatikan beberapa prinsip disain pesan pembelajaran. Prinsip dimaksudantara lain meliputi prinsip kesiapan dan motivasi, pengghunaan alat pemusatperhatian, partisipasi aktif siswa, perulangan, dan umpan balik.

A. Kesiapan dan motivasi (Readiness and motivation)

Prinsip pertama kesiapan dan motivasi menyatakan bahwa jika dalam menyampaikan pesan pembelajaran siswa siap dan motivasi tinggi hasilnya akan lebih baik. Siap di sini mempunyai makna siap pengetahuan prasyarat, siap mental, dan siap fisik. Untuk mmengetahui kesiapan siswa perlu diadakan tes prasyarat, tes diagnostik, dan tes awal. Jika pengetahuan, keterampilan dan sikap prasyarat untuk mempelajari suatu kompetensi belum terpenuhi perlu diadakan pembekalan atau matrikulasi. Selanjutnya, motivasi adalah dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, termasuk melakukan kegiatan belajar. Dorongan dimaksud bisa berasal dari dalam diri siswa mapun dari luar diri siswa. Teknik untuk mendorong motivasi antara lain dengan jalan menunjukkan kegunaan dan pentingnya materi yang akan dipelajari, kerugiannya jika tidak mempelajari, manfaat atau relevansinya untuk kegiatan belajar di waktu sekarang, di waktu yang akan datang, dan untuk bekerja dalam masyarakat. Motivasi juga dapat ditingkatkan dengan memberikan hadiah dan hukuman (reward and punishment).

B. Penggunaan alat pemusat perhatian (Attention directing devices)

Prinsip kedua penggunaan alat pemusat perhatian. Prinsip ini menyatakan bahwa jika dalam penyampaian pesan digunakan alat pemusat perhatian, hasil belajar akan meningkat. Hal ini didasarkan atas pemikiran bahwa perhatian yaitu terpusatnya mental terhadap suatu objek memegang peranan penting terhadap keberhasilan belajar. Semakin memperhatikan semakin berhasil, semakin tidak memperhatikan semakin gagal. Meskipun penting namun perhatian mempunyai sifat sukar dikendalikan dalam waktu lama. Karena itu perlu digunakan berbagai alat dan teknik untuk mengendalikan atau mengarahkan perhatian. Alat pengendali perhatian yang paling utama adalah media seperti gambar, ilustrasi, bagan warna warni, audio, video, alat peraga, penegas visual, penegas verbal, kecerahan, dsb. Teknik yang dapat digunakan untuk mengendalikan perhatian misalnya gerakan, perubahan, sesuatu yang aneh, lucu, humor, mengagetkan, menegangkan.

C. Partisipasi aktif siswa (Student’s active participation)

Prinsip ketiga adalah partisipasi aktif siswa. Dalam kegiatan pembelajaran jika siswa aktif berpartisipasi dan interaktif, hasil belajar akan meningkat. Aktifitas siswa meliputi aktifitas mental (memikirkan jawaban, merenungkan, membayangkan, merasakan) dan aktifitas fisik (melakukan latihan, menjawab pertanyaan, mengarang, menulis, mengerjakan tugas.

D. Perulangan (Repetion)

Prinsip keempat adalah perulangan. Jika penyampaian pesan pembelajaran diulang-ulang, maka hasil belajar akan lebih baik. Perulangan dilakukan dengan mengulangi dengan cara dan media yang sama mapun dengan cara dan media yang berbeda-beda. Perulangan dapat pula dilakukan dengan memberikan tinjauan selintas awal pada saat memulai pelajaran dan ringkasan atau kesimpulan pada akhir pelajaran. Perulangan dapat pula dilakukan dengan

jalan menggunakan kata-kata isyarat tertentu seperti “Sekali lagi saya ulangi”, “dengan kata lain”, “singkat kata”, atau “singkatnya”.

E. Umpan balik (Feedback)

Prinsip kelima adalah umpan balik. Jika dalam penyampaian pesan siswa diberi umpan balik, hasil belajar akan meningkat. Umpan balik adalah informasi yang diberikan kepada siswa mengenai kemajuan belajarnya. Jika salah diberikan pembetulan (corrective feedback) dan jika betul diberi konfirmasi atau penguatan (confirmative feedback). Siswa akan menjadi mantap kalau betul kemudian dibetulkan. Sebaliknya, siswa akan tahu di mana letak kesalahannya jika salah diberi tahu kesalahannya kemudian dibetulkan. Secara teknis, umpan balik diberikan dalam bentuk kunci jawaban yang benar

2.3 Penerapan Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran dikatakan mengunakan pendekatan kontekstual jika materi pembelajaran tidak hanya tekstual melainkan dikaitkan dengan peneapannya dalam kehidupan sehari-hari siswa di lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar, dan dunia kerja, dengan melibatkan ketujuh komponen utama tersebut sehinggga pembelajaran menjadi bermaknabagi siswa. Model pembelajaran apa saja sepanjang memenuhi persyaratan tersebut dapat dikatakan menggunakanpendekatan kontekstual. Pembelajaran kontekstual dapat diterapakan dalam kelas besar maupun kelas kecil, namun akan lebih mudah organisasinya jika diterapkan dalam kelas kecil. Penerapan pembelajaran kontekstual dalam kurikulum berbasis kompetensi sangat sesuai.

Dalam penerapannya pembelajaran kontekstual tidak memerlukan biaya besar dan media khusus. Pembelajaran kontekstual memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran yang ada di lingkungan sekitar seperti tukang las, bengkel, tukang reparasi elektronik, barang-barang bekas, koran, majalah, perabot-perabot rumah tangga, pasar, toko, TV, radio, internet, dan sebagainya. Guru dan buku bukan merupakan sumber dan media sentral, demikian pula guru tidak dipandang sebagai orang yang serba tahu, sehingga guru tidak perlu khawatir menghadapi berbagai pertanyaan siswa yang terkait dengan lingkungan baik tradisional maupun modern.

Seperti yang dikemukakan di muka, dalam pembelajaran kontekstual tes hanya merupakan sebagian dari teknik/ instrumen penelitian yang bermaca-macam seperti wawancara, observasi, inventory, skala sikap, penilaian kinerja, portofolio, jurnal siswa, dan sebagainya yang semuanya disinergikan untuk menilai kemampuan siswa yang sebenarnya (autentik). Penilainya bukan hanya guru saja tetapdsi juga diri sendiri, teman siswa, pihak lain (teknisi, bengkel, tukang dsb.). Saat penilaian diusahakan pada situasi yang autetik misal pada saat diskusi, praktikum, wawancara di bengkel, kegiatan belajar-mengajar di kelas dan sebagainya siswa.

Dalam pembelajaran kontekstual rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebenarnya lebih bersifat sebagai rencana pribadi dari pada sebagai laporan untuk kepala sekolah atau pengawas seperti yang dilakukan saat ini. Jadi RPP lebih cenderung berfungs mengingatkan guru sendiri dalam menyapkan alat-alat/media dan mengendalikan langkah-langkah (skenario) pembelajaran sehingga bentuknya lebih sederhana.

Beberapa model pembelajaran yang meruapakan aplikasi pembelajaran kontekstual antara lain model pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran koperatif (cooperatif learning), pembelajaran berbasis masalah ( problem based learning).

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Contextual

A. Kelebihan pembelajaran kontekstual diantaranya adalah :

· Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.

· Pembelajaran lebih produktif Pembelajaran CTL, mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, yang mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan dapat belajar melalui mengalami bukan menghafal.

B. Kekurangan Kekurangan pembelajaran kontekstual diantaranya adalah :

· Bagi Guru Guru harus memiliki kemampuan untuk memahami secara mendalam tentang konsep pembelajaran itu sendiri, potensi perbedaan individu siswa dikelas, beberapa pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada aktivitas siswa dan sarana, media, alat bantu serta kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas siswa dalam belajar.

· Bagi Siswa Diperlukan inisiatif dan kreativitas dalam belajar, diantaranya: memiliki wawasan pengetahuan yang memadai dari setiap mata pelajaran, adanya perubahan sikap dalam menghadapi persoalan dan memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam meyelesaikan tugas- tugas.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi nyata sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka.

CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata. Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan peserta didik di lapangan. Ada beberapa perbedaan antara strategi pembelajaran CTL dan konvensional yang membuktikan bahwa CTL lebih efektif dan mampu menjadi alternatif pilihan strategi pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah. Diperlukan pola dan langkah pembelajaran CTL di kelas agar strategi CTL dapat diterapkan secara efektif dan sesuai materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).

3.2 Saran

Dengan pemahaman tentang Contextual Teaching and Learning (CTL) ini diharapkan semua guru mata pelajaran dapat menerapkan strategi ini dalam melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) di sekolah dan dapat lebih meningkatkan kualitas maupun kuantitas penguasaan materi mata pelajaran siswa di sekolah dan pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagaimana tujuan dan fungsi pendidikan nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, C. Asri, DR. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Wasis, . (2002). Beberapa Model Pengajaran dan Strategi Pembelajaran IPA Fisika. Jakarta : Depdiknas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Januari 2017 in Tak Berkategori

 

Telematika dalam Pendidikan

“Telematika dalam Pendidikan”

Disusun oleh

Kelompok 6

Rizki Firdaus (11411705010470)

Umar Suryana (1341170501163)

Aizi Mustapa (1341170501009)

Moch Yusup (1341170501145)

Rita Fatimah (1341170501093)

Nandar Andra P (1341170501120)

Sunarya (1341170501086)

Sari Barokah (1341170501122)

Nurul Fitriani (1341170501067)

Kelas VIIC

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

Kata Pengantar

Segala puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa kita junjungkan kepada Nabi Tercinta,tauladan yang baik bagi manusia, Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa peradaban manusia ke peradaban sempurna, semoga terlimpahkan juga kepada keluargannya, saudaranya, para sahabatnya,tabi’in, dan juga kepada kita semua selaku umatnya.amiin.

Tujuan kami membuat makalah dengan judul “Telematika Pendidikan” ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi dan teknologi.

Tak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebeser-besarnya kepada Iwan Hermawan, S.Pd.i , M.Pd.i selaku dosen pengampu yang telah membimbing kami. Tak lupa juga diuncapkan kepada teman-teman yang telah berkerja sama dengan baik.

Karena kami masih dalam proses belajar, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk tugas kami selanjutnya.

Karawang, Desember 2016

Kelompok 6

Daftar Isi

Kata Pengantar…………………………………………………………………….. 1

Daftar Isi…………………………………………………………………………….. 2

BAB I Pendahuluan

A. Latar belakang ……………………………………………………………. 3

B. Rumusan Masalah………………………………………………………. 3

C. Tujuan……………………………………………………………………….. 3

BAB II Pembahasan

a. Pengertian Teleamtika…………………………………………………. 4

b. Macam-macam telematika di dunia pendidiakn …………… 4

c. Manfaat Telamatika di dunia pendidika……………………….. 7

d. Dampak negative teleamtika ……………………………………….. 7

BAB III Kesimpulan

Kesimpulan…………………………………………………………………………. 8

Daftar Pusaka………………………………………………………………………. 9

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Era digitalisasi mempengaruhi segala segi kehidupan baik di dunia ekonomi, politik, sosial budaya. Telamatika juga memperngaruhi di dunia pendidikan baik dari sudut pandang siswa maupun guru dan media pembelajaran.

Telematika memudahkan kita dalam mengambil akses informasi dalam sekejap dimanapun dan kapanpun, tidak ada batasan ruang dan waktu. Telematika dimanfaat kan oleh banyak kalangan walau tidak semua kalangan bisa mendapatkan fasilitas ini.

Banyak keuntungan dan juga keruagian dalammemanfaatkan telamtika maka pemakalah ingin membahas ini dalam penbentuk makalah ini dengan judul “Telematika Pendidikan “

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian teleamtika

2. Apa saja mancam-macam bentuk telamatika dalam dunia pendidika

3. Apa saja manfaat telamatika di dunia pendidika

4. Apa saja dampak negated teleamtika di dunia pendidikan

C. Tujuan

1. Mengetahui pengertian teleamtika

2. Mengetahui mancam-macam bentuk telamatika dalam dunia pendidika

3. Mengetahui manfaat telamatika di dunia pendidika

4. Mengetahui dampak negated teleamtika di dunia pendidikan

BAB II

Pembahasan

A. Pengertian Telamatika Pendidikan

Kata “telematika” diambil dari bahasa perancis yaitu “ telematique” yang kurang lebih dapat di artikan dengan “ bertemunya jaringan computer dengan teknologi informasi. Telematika adalah saranan lomunikasi jarak jauh melalui elektromagnetik yang memiliki kemampuan transmisikan sejumlah besar informasi den sekejap, dengan jangkauan seluruh dunia dengan berbagai cara.

Dalam dunia pendidikan telematikan sangat berpengaruh dalam membantu dunia pendidikan. Seperti pembuatan aplikasi pembelajaran secara virtual, membuat buku-buku elektronik sehingga bisa di nikmati di berbagai kalangan. Dan bisa di bawa kemana-mana.

B. Macam-Macam Telematika dalam dunia pendidikan

B.1 E-Book

e-book atau buku elektronik merupakan berupa buku yang dapat dibuka dengan elektronik melalui komputer. ebook ini biasanya berupa file yang isinya berupa informasi dari sebuah buku dalam bentuk yang ringkas. dengan ebook kita dapat belajar melalui komputer, kita juga dapat menyimpan ebook sebanyak-banyaknya tanpa harus membeli buku.

B.2 E-Learning

e-learning singkatan dari elektronik learning merupakan cara baru media pembelajaran secara komputerisasi khususnya internet dalam pembelajarannya. e-learning ini tidak selalu menggunakan internet tapi juga ada pembelajaran meltimedia secara ofline. Banyak software e-learning saat ini.

B.3 E-Library

e-library singkatan dari electronic library merupakan perpustakaan yang sebagian besar bentuk bukunya adalah dalam bentuk format digital dan hanya dapat di akses melalui komputer. perpustakaan tidak seperti perpustakaan pada aslinya tetapi dalan virtual perpustakaan ini menyimpan semua e-book dan kita dapat mengunduhnya secara gratis.

Menurut Miarso (2004) terdapat sejumlah pilihan alternatif pemanfaatan di bidang pendidikan, yaitu :

1. Perpustakaan Elektronik

Perpustakaan yang biasanya arsip-arsip buku dengan di Bantu dengan teknologi informasi dan internet dapat dengan mudah mengubah konsep perpustakaan yang pasif menjadi agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Homepage dari The Library of Congress merupakan salah satu perpustakaan yang terbesar di dunia. Saat ini sebagian informasi yang ada di perpustakaan itu dapat di akses melalui internet.

2. Surat Elektronik (email)

Dengan aplikasi sederhana seperti email maka seorang dosen, pengelola, orang tua dan mahasiswa dapat dengan mudah berhubungan. Dalam kegiatan di luar kampus mahasiswa yang menghadapi kesulitan dapat bertanya lewat email.

3. Ensiklopedia

Sebagian perusahan yang menjajakan ensiklopedia saat ini telah mulai bereksperimen menggunakan CD ROM untuk menampung ensiklopedia sehingga diharapkan ensiklopedia di masa mendatang tidak hanya berisi tulisan dan gambar saja, tapi juga video, audio, tulisan dan gambar, dan bahkan gerakan. Dan data informasi yang terkandung dalam ensklopedia juga telah mulai tersedia di internet. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka data dan informasi yang terkandung dalam ensiklopedi elektronik dapat diperbaharui.

4. Sistem Distribusi Bahan Secara Elektronis ( digital )

Dengan adanya sistem ini maka keterlambatan serta kekurangan bahan belajar bagi warga belajar yang tinggal di daerah terpencil dapat teratasi. Bagi para guru SD yang mengikuti penyetaraan D2, sarana untuk mengakses program ini tdk menjadi masalah karena mereka dapat menggunakan fasilitas yang dimiliki kantor pos yang menyediakan jasa internet.

5. Tele-edukasi dan Latihan Jarak Jauh dalam Cyber System

Pendidikan dan pelatihan jarak jauh diperlukan untuk memudahkan akses serta pertukaran data, pengalaman dan sumber daya dalam rangka peningkatan mutu dan keterampilan professional dari SDM di Indonesia. Pada gilirannya jaringan ini diharapkan dapat menjangkau serta dapat memobilisasikan potensi masyarakat yang lain, termasuk dalam usaha, dalam rangka pembangunan serta kelangsungan kehidupan ekonomi di Indonesia, baik yang bersifat pendidikan formal maupun nonformal dalam suatu “cyber system”.

6. Pengelolaan Sistem Informasi

Ilmu pengetahuan tersimpan dalam berbagai bentuk dokumen yang sebagian besar tercetak dalam bentuk buku, makalah atau laporan informasi semacam ini kecuali sukar untuk diakses, juga memerlukan tempat penyimpanan yang luas. Beberapa informasi telah disimpan dalam bentuk disket atau CD ROM, namun perlu dikembangkan lebih lanjut sistem agar informasi itu mudah dikomunikasikan. Mirip halnya dengan perpustakaan elektronik, informasi ini sifatnya lebih dinamik (karena memuat hal-hal yang mutakhir) dapat dikelola dalam suatu system

7. Video Teleconference

Keberadaan teknologi ini memungkinkan siswa atau mahasiswa dari seluruh dunia untuk dapat berkenalan, saling mengenal bangsa di dunia. Teknologi ini dapat digunakan sebagai sarana diskusi, simulasi dan dapat digunakan untuk bermain peran pada kegiatan pembelajaran yang berfungsi menumbuhkan kepercayaan diri dan kerjasama yang bersifat sosial.

C. Manfaat Telematika di dunia pendidikan

1. Memudahkan kita dalam memperoleh data/informasi dimana saja, dan kapan saja sesuai kebutuhan

2. Meningkatkan kinerja pelaku pendidikan karena kemudahan pengaksesan informasi

3. Mecerdaskan masyrakat karena masyarakat dapat mudah menambah pengetahuan yang dimiliki

4. Mempererat hubungan pelaku pendidika antar wilayah dan antar Negara tanpa ada batasan ruang dan waktu

D. Dampak Negatif Telematika di Dunia Pendidika

1. Kemudahan memperoleh informasi membuat para siswa malam untuk membaca informasi tersebut. Siswa lebih memilih menggunakan fasilitas Copy Paste

2. Memperenggang hubungan pelaku pendidikan yang terdekat.

3. Tidak semua kalangan bisa mengunakan telematika karena factor biaya membeli alat dan akses internet.

BAB III

Kesimpulan

Telematika adalh saranan komunikasi jarak jauh, telamtika berfungsi untuk menghubungkan antar personal jarak jauh serta digunakan untukmendapatkan informasi kapanpun dan di manapun dengan syarat perangkat atau alat yang memadai dan terhubung dengan akses internet.

Telamatika didunia pendidikan terdiri dari e-book yaitu buku dalam bentuk elektronik, e-learning yaitu belajar dengan jarak jauh, dan yang terakhir dalah E-library itu perpustakaan digital

Daftar Pustaka

1. Virtualight.blogspot.com/2012/12/telamatika-dalam-dunia-pendidika.html akses 27 Desember 2016

2. http:://andryisnandar.wordpress.com/peran-telematika-dalam-bidang-pindidikan.html di akses 27 desember 2016

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Desember 2016 in Tak Berkategori

 

E-LEARNING

E-LEARNING

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Iwan Hermawan, S.Ag., M.Pd.I

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 5 / VII C

1. Didin Nurjaya (1341170501143)

2. Agus Suryana (1341170501194)

3. Saefudin (1341170501127)

4. Sendi Febriyana (1341170501027)

5. Alfi Fajriyani (1341170501070)

6. Sucia Gardini (1341170501113)

7. Nurul Fitriani (1341170501067)

Prodi Pendidikan Agama Islam

Fakultas Agama Islam

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah “Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan”. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan Sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan program studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Singaperbangsa Karawang. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak Iwan Hermawan, S.Ag., M.Pd.I selaku dosen pembimbing mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

Akhirnya kami menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Karawang, November 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang…………………………………………………………………………………………. 1

B. Rumusan Masalah………………………………………………………………………………………

C. Tujuan Penulisan………………………………………………………………………………………..

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian E-learning serta sejarah perkembangan E-learning…………………………

B. Fungsi dan tujuan E-learning………………………………………………………………………..

C. Karakteristik dan manfaat E-learning…………………………………………………………….

D. Kelebihan dan kekurangan E-learning…………………………………………………………..

E. Metode penyampaian E-learning…………………………………………………………………..

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan………………………………………………………………………………………………..

B. Kritik dan Saran………………………………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………..

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang semakin pesat, kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis TI menjadi tidak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan E-Learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik secara isi (contents) dan sistemnya. Saat ini konsep E-Learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi E-Learning di lembaga-lembaga pendidikan (sekolah, training dan universitas) maupun industri (Cisco System, IBM, HP, Oracle, dsb).

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan permasalahan yang akan kami ambil sebagai acuan pada makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Apa pengertian E-learning serta bagaimana sejarah perkembangan E-learning?

2. Apa fungsi dan tujuan E-learning?

3. Apa karakteristik dan manfaat E-learning?

4. Apa kelebihan dan kekurangan E-learning?

5. Bagaimana metode penyampaian E-learning?

C. Tujuan Masalah

Tujuan masalah makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengertian E-learning dan sejarah perkembangan E-Learning

2. Untuk mengetahui fungsi dan tujuan E-Learning

3. Untuk mengetahui karakteristik dan manfaat E-Learning

4. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan E-Learning

5. Untuk mengetahui metode penyampaian E-Learning

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian E-Learning dan Sejarah Perkembangan E-Learning

1.1 Pengertian E-Learning

Sistem pembelajaran elektronik atau e-pembelajaran (Inggris: Electronic learning disingkat E-learning) adalah cara baru dalam proses belajar mengajar. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan.

E-learning adalah pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan atau internet. e-learning memungkinkan pembelajaran untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. e-learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet, Distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.

Ada beberapa pengertian berkaitan dengan e-learning sebagai berikut :

a) Pembelajaran jarak jauh.

E-Learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. pembelajaran bisa berada di Semarang, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di kota lain bahkan di negara lain. Interaksi bisa dijalankan secara on-line dan real-time ataupun secara off-line atau archieved. .

b) Pembelajaran dengan perangkat komputer

E-Learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan CD drive dan koneksi internet ataupun intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-learning. Jumlah pembelajaran yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajaran.

c) Pembelajaran formal dan informal

E-Learning bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. e-learning secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di bidang penyediaan jasae-learning untuk umum. e-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).

1.2 Sejarah dan Perkembangan E-Learning

E-pembelajaran atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:

1. Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.

2. Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.

3. Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.

4. Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

2. Fungsi Dan Tujuan E-Learning

2.1 Fungsi E-learning

Ada tiga fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di kelas (classroom instruction), yaitu sebagai tambahan (suplemen) yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi).

a. Suplemen

Dikatakan berfungsi sebagai suplemen, apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

b. Komplemen

Dikatakan berfungsi sebagai komplemen apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi penguatan (reinforcement) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Materi pembelajaran elektronik dikatakan sebagai pengayaan (enrichment), apabila kepada peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pelajaran yang disampaikan guru secara tatap muka (fast learners) diberikan kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang disajikan guru di dalam kelas. Dikatakan sebagai program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran yang disajikan guru secara tatap muka di kelas (slow learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan guru di kelas.

c. Pengganti (substitusi)

Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswa-nya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa.

Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih peserta didik, yaitu:

· sepenuhnya secara tatap muka atau konvensional,

· sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan

· sepenuhnya melalui internet.

Alternatif model pembelajaran mana pun yang akan dipilih peserta didik tidak menjadi masalah dalam penilaian, karena ketiga model penyajian materi perkuliahan mendapatkan pengakuan atau penilaian yang sama. Jika mahasiswa dapat menyelesaikan program perkuliahannya dan lulus melalui cara konvensional atau sepenuhnya melalui internet, atau bahkan melalui perpaduan kedua model ini, maka institusi penyelenggara pendidikan akan memberikan pengakuan yang sama. Keadaan yang sangat fleksibel ini dinilai sangat membantu mahasiswa untuk mempercepat penyelesaian perkuliahannya.

2.2 Tujuan E-Learning

Penggunaan metode belajar E-Learning di Indonesia mulai digunakan di beberapa di sekolah ataupun universitas yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Tujuan pembelajaran E-Learning adalah :

1. Siswa atau mahasiswa dapat belajar mandiri tanpa harus bertatap muka langsung denga guru atau dosen yang bersangkutan. Contoh universitas yang memilih metode pembelajaran E-Learning sebagai metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar sehari-hari yaitu Universitas Terbuka (UT) yang berdomisili di Pamulang, Tangerang, Banten.

2. Siswa atau mahasiswa mendapatkan materi pembelajaran mereka tanpa harus membeli buku aslinya.

3. Materi pembelajaran mereka ada di dalam E-Book dan E-Book ada di dalam sebuah CD atau DVD. E-Book tersebut nantinya akan berisi materi-materi yang sesuai dengan kurikulum siswa atau mahasiswa tersebut. Maka dengan adanya ebook bisa menghemat siswa dalam biaya pembelian buku-buku sekolah ataupun kuliah.

3. Karakteristik Dan Manfaat E-Learning

3.1 Karakteristik E-Learning

a. Memanfaatkan jasa teknologi informasi dan komunikasi berupa internet sehingga penyampaian pesan dan komunikasi guru dan siswa secara mudah dan cepat.

b. Memanfaatkan media komputer seperti jaringan komputer (computer networks atau digital media).

c. Menggunakan pendekatan pembelajaran mandiri. Dengan menggunakan e-learning, pembelajar dituntut untuk melepaskan ketergantungannya terhadap pembelajar karena pembelajaran tidak dilakukan secara langsung.

d. Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer.

e. Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran dan juga mengetahui hasil kemajuan belajar, administrasi pendidikan, serta untuk mengetahui informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi.

f. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di computer.

3.2 Manfaat e-learning

Manfaat E-learning diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).

Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar. Hal tersebut berbeda dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Hal ini disebabkan karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas.

b. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran darimana dan kapan saja (time and place flexibility).

Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada guru/dosen/instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan dosen/instruktur.

c. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach aglobal audience).

Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan sehingga, siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar juga dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.

d. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak (software) yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian guru/dosen/instruktur selaku penanggungjawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.

e. Lebih mudah mendapatkan materi atau info

Jika kita menggunakan sistem pembelajaran berbasis e-learning, kita akan lebih mudah untuk mencari dan mendapatkan materi atau info. Tinggal ketik apa yang kita cari, tunggu sebentar, kita langsung dapat materinya.

f. Bisa mendapatkan materi yang lebih banyak

Kita bisa mendapatkan banyak sekali materi, tidak hanya dari dalam negeri, bahkan kita bisa mencari materi yang berasal dari luar negeri yang tentunya akan menambah wawasan bagi kita dan juga bisa untuk meningkatkan hasil belajar kita.

g. Pembelajaran lebih efektif dan efisien waktu dan tenaga

Jika ada tugas, kita bisa mencari bahan yang kita butuhkan dengan cepat. Tidak harus ke sana ke mari untuk mendapatkan bahan yang kita butuhkan. Tinggal duduk di depan komputer atau laptop, lalu cari yang kita butuhkan. Setelah itu, susun tugasnya dan selesai.

4. Kelebihan Dan Kekurangan E-Learning

4.1 Kelebihan E-Learning

a. Pembelajar dapat belajar kapan dan dimana saja mereka punya akses internet.

b. Efisiensi waktu dan biaya perjalanan.

c. Pembelajar dapat memilih materi pembelajaran sesuai dengan level pengetahuannya.

d. Fleksibilitas untuk bergabung dalam forum diskusi setiap saat, atau menjumpai teman sekelas dan pengajar secara remote melalui ruang chatting.

e. Mampu memfasilitasi dan menerapkan gaya belajar yang berbeda melalui beragam aktivitas.

f. Pengembangan keterampilan TIK yang mampu mendukung aktivitas lain pembelajar.

g. Keberhasilan menyelesaikan pembelajaran/perkuliahan online mampu membangun kemampuan belajar mandiri dan kepercayaan diri pembelajar serta mendorong pembelajar untuk lebih bertanggung jawab dalam studinya.

h. Mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih ekonomis.

i. Mempermudah interaksi antara peserta didik dengan materi, peserta didik dengan guru maupun sesama peserta didik.

j. Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang.

k. Kehadiran guru tidak mutlak diperlukan.

l. Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.

m. Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif.

4.2 Kekurangan E-Learning

a. Pembelajar yang tidak termotivasi dan perilaku belajar yang buruk akan terbelakang/tertinggal dalam pembelajaran.

b. Pembelajar dapat merasakan terisolasi dan bermasalah dalam interaksi sosial.

c. Pengajar tidak mungkin selalu dapat menyediakan waktu pada saat dibutuhkan.

d. Koneksi internet yang lambat dan tidak handal dapat menimbulkan rasa frustasi.

e. Beberapa subjek/mata kuliah bisa saja sulit direalisasikan dalam bentuk e-learning.

f. Pembelajar harus menyediakan waktu untuk mempelajari software/aplikasi e-learning sehingga dapat mengganggu beban belajarnya.

g. Pembelajar yang tidak familiar dengan struktur dan rutin software akan tertinggal.

h. Untuk sekolah tertentu terutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang mahal untuk membangun e-learning.

i. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.

j. Keterbatasan jumlah komputer yang dimiliki oleh sekolah akan menghambat pelaksanaan e-learning.

k. Bagi siswa yang gagap teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.

l. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT.

m. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri sehingga memperlambat terbentuknya nilai dalam proses belajar dan mengajar.

n. Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan internet.

o. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet.

p. Proses belajar mengajar cenderung kearah pelatihan daripada pendidikan.

5. Metode Penyampaian E-Learning

Seperti kita lihat di atas, peralatan teleconference yang mahal itu posisinya ada di infrastruktur e-Learning (komponen pertama). Meskipun kalaupun tidak ada juga tidak masalah. Lho kok bisa? Ya karena peralatan teleconference akan mendukung e-Learning yang Synchronous tapi tidak untuk yang Asynchronous. Jadi metode penyampaian bahan ajar di e-Learning ada dua:

1. Synchrounous e-Learning: Guru dan siswa dalam kelas dan waktu yang sama meskipun secara tempat berbeda. Nah peran teleconference ada di sini. Misalnya saya mahasiswa di Universitas Ujung Aspal mengikuti kuliah lewat teleconference dengan professor yang ada di Stanford University. Nah ini disebut dengan Synchronous e-Learning. Yang pasti perlu bandwidth besar dan biaya mahal. Jujur saja Indonesia belum siap di level ini, dalam sudut pandang kebutuhan maupun tingginya biaya. Tapi ada yang main hajar saja (tanpa study yang matang) mengimplementasikan synchronous e-Learning ini. Hasilnya peralatan teleconference yang sudah terlanjur dibeli mahal hanya digunakan untuk coffee morning, itupun 6 bulan sekali

2. Asynchronous e-Learning: Guru dan siswa dalam kelas yang sama (kelas virtual), meskipun dalam waktu dan tempat yang berbeda. Nah disinilah diperlukan peranan sistem (aplikasi) e-Learning berupa Learning Management System dan content baik berbasis text atau multimedia. Sistem dan content tersedia dan online dalam 24 jam nonstop di Internet. Guru dan siswa bisa melakukan proses belajar mengajar dimanapun dan kapanpun. Tahapan implementasi e-Learning yang umum, Asynchronous e-Learning dimatangkan terlebih dahulu dan kemudian dikembangkan ke Synchronous e-Learning ketika kebutuhan itu datang.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa E-learning adalah sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Perbedaan Pembelajaran antara Metode Tradisional dan Metode E-Learning yaitu pada Metode Tradisional, seorang guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuannya kepada siswa atau mahasiswa.

Sedangkan pembelajaran pada Metode E-Learning seorang siswa atau mahasiswa dituntut untuk dapat mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran dengan Metode E-Learning akan ‘memaksa’ pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya. Pelajar membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha, dan inisiatif sendiri.

B. Kritik dan Saran

Metode pembelajaran E-learning sangatlah bagus sehingga diperlukan inovasi-inovasi yang lebih kreatif untuk menunjang metode pembelajaran ini, diharapkan metode ini semakin berkembang dan mencerdaskan anak-anak bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Romi Satria Wahono, Sistem eLearning Berbasis Model Motivasi Komunitas, Jurnal Teknodik No. 21/XI/TEKNODIK/AGUSTUS/2007, Agustus 2007

http://arlisnayanti.blogspot.co.id/2013/03/makalah-e-learning.html Diakses Senin, 28 November 2016

http://misrauye.blogspot.co.id/2016/01/makalah-e-learning_3.html Diakses Senin, 28 November 2016

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Desember 2016 in Tak Berkategori

 

TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KOMIK

TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KOMIK
Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu:
IWAN HERMAWAN. S, Pd I M, Pd I
Disusun Oleh:
Enjay Setiawan : 1341170501078
Yunita Yuandini : 1341170501140
Santi : 1341170501043
Tunih Nurhayati : 1341170501102
Fitria Rahmat : 1341170501013
Iin Inayatullah : 1341170501025

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG
FAKULTAS AGAMA ISLAM
TahunAjaran 2016/2017
Jl. HS Ronggowaluyo Ds. Telukjambe Kec.Telukjambe Timur – Karawang 41373 KATA PENGANTAR

Pertama-tama Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan pertolongan-Nya yang telah memberikan kemudahan pada kami sehingga penyusunan juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam penyususnan makalah ini, terutama kepada teman-teman mahasiswa, yang secara bersama-sama saling memberikan motivasi untuk tetap semangat. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tidak terhingga, tidak lupa pula kami sampaikan kepada Bapak selaku dosen pengampu mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan, yang telah memberikan petunjuk dalam penyusunan makalah ini.
Akhir kata, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada segala pihak jika dalam makalah ini terdapat kekeliruan atau ada kata yang tidak berkenan dihati pembaca. Sebagai manusia biasa, penyusun tentu tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun penyusun sangat diharapkan untuk kesempurnaan penyusun selanjutnya.

Karawang, 18 November 2016

Penyusun.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTARi
DAFTAR ISIii
BAB I PENDAHULUAN1
A. Latar Belakang1
B. Rumusan Masalah2
C. Tujuan Pembahasan2
BAB II PEMBAHASAN3
A. Pengertian Teknologi Pendidikan3
B. Pengertian Komik3
C. Teknologi Pendidikan Dalam Komik4
D. Cara Merancang Teknologi Pendidikan Dalam Komik7
BAB III PENUTUP11
A. Kesimpulan11
DAFTAR PUSTAKAiii

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Teknologi pendidikan adalah salah satu pendekatan dalam teknologi komunikasi pendidikan. Teknologi pendidikan disini diartikan sebagai cara sistematis dalam merancang, melaksanakan dan menilai keseluruhan proses belajar-mengajar dalam kaitannya dengan tujuan khusus yang telah ditetapkan. Ini didasarkan pada hasil penelitian proses belajar dan komunikasi, serta dengan memanfaatkan berbagai sumber, baik yang berupa manusia maupun bukan, untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pendidikan.
Teknologi pendidikan erat kaitannya dengan proses pembelajaran yang di lakukan oleh seorang pendidik ketika memberikan materi pelajaran kepada peserta didiknya. Misalnya metode, media, dan strategi pembelajaran. bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. Penggunaan media yang tepat akan meningkatkan hasil belajar dan membuat proses belajar menjadi menarik dan menyenangkan, dapat mengurangi kesalahpahaman dan ketidakjelasan.
Komik sebagai media berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam konteks ini pembelajaran menunjuk pada sebuah proses komunikasi antara pemelajar dan sumber belajar (dalam hal ini komik pembelajaran). Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secarajelas, runtut, dan menarik.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan teknologi pendidikan ?
2. Apa yang dimaksud dengan komik?
3. Apa yang di maksud dengan teknologi pendidikan dalam komik ?
4. Bagaimanakah cara merancang teknologi pendidikan dalam komik ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa itu teknologi pendidikan
2. Untuk mengetahui apa itu komik
3. Untuk mengetahui apa itu teknologi pendidikan dalam komik
4. Untuk mengetahui bagaimana cara merancang teknologi pendidikan dalam komik

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teknologi Pendidikan
Secara etimologis, akar kata teknologi adalah techne yang berarti serangkaian metode rasional yang berkaitan denganpembuatan sebuah objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang metode dan seni. Secara umum, teknologi dapat di definisikan sebagai entitas, benda maupun tak benda yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai nilai atau tujuan tertentu.
Menurut Donald P. Ely, definisi teknologi pendidikan ialah suatu bidang yang mencakup berbagai fasilitas belajar melalui identifikasi yang sistematis, pengembangan, pengorganisasian, dan penggunaan sumber-sumber yang maksimal dan pengolaan prosesnya. Teknologi pendidikan bukan semacam audiovisual aids atau alat-alat semacam komputer, radio, kaset, dan sebagainya.
B. Pengertian Komik
Komik adalah sebuah media yang menyampaikan cerita dengan visualisasi atau ilustrasi gambar, dengan kata lain komik adalah cerita bergambar, dimana gambar berfungsi untuk pendeskripsian cerita agar si pembaca mudah memahami cerita yang disampaikan oleh si pengarang. Biasanya komik sangat digemari oleh orang-orang yang mempunyai tipe belajar visual karena dalam komik suatu cerita disampaikan dengan dominasi gambar yang sangat menonjol. Kadang komik bersifat menghibur sehingga kalangan penggemar komik adalah anak-anak dan remaja.
Komik yang sering kita temukan adalah komik-komik yang bercerita superhero, cerita kartun dan legenda. Akan tetapi komik pun dapat dirancang dengan gagasan yang berisi materi atau nilai-nilai yang positif yaitu berisi tentang nilai-nliai sosial, budaya, agama dan ekonomi.
Komik mempunyai unsur dasar visual yaitu komik dapat dipakai sebagai alat penyampai pesan yang berisi arti dan makna sehingga terjadi komunikasi visual antara pesan yang disampaikan oleh komik tersebut dengan si pembaca melalui daya imajinasinya.
Adapun landasan dipergunakannya komik (gambar) dalam pendidikan anatara lain yaitu :
1) Gambar (komik) bersifat kongkrit
2) Gambar mengatasi ruang dan waktu
3) Gambar mengatasi kekurangan daya mampu panca indera manusia
4) Gambar mudah didapat dan murah
5) Mudah digunakan
C. Teknologi Pendidikan dalam Komik
Komik dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan kepada para pembaca.
Karakteristik Komik
Komik terdiri atas berbagai situasi cerita bersambung, sifatnya humor, sumbangan yang paling unit dan berarti dari kartun pada bidang politik dan sosial. Komik harus dikenal agar kekuatan pada medium ini bisa dihayati. Komik memusatkan perhatian disekitar rakyat.
Cerita-ceritanya mengenai diri pribadi, sehingga pembaca dapat segera mengidentifikasi dirinya melalui perasaan serta tindakan dari perwatakan-perwatakan tokoh utama, ceritanya ringkas dan menarik perhatian, terkadang dilengkapi dengan aksi.
Penggunaan Komik dalam Pembelajaran
Sebagai ilustrasi, guru harus menggunakan motivasi potensial dari buku-buku komik, tetapi jangan berhenti hanya sampai disitu saja. Cerita bergambar harus dilengkapi oleh materi bacaan, film, gambar tetap (foto), model, percobaan serta berbagai kegiatan yang kreatif. Peranan pokok dari buku komik dalam pembelajaran adalah kemampuannya dalam menciptakan minat siswa. Penggunaan komik dalam pembelajaran sebaiknya dipadu dengan metode mengajar, sehingga komik akan dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif.
Komik Pembelajaran Sebagai Penerapan Kawasan Teknologi Pendidikan
Menjadikan komik sebagai media pembelajaran merupakan contoh penerapan Teknologi Pendidikan. Dalam hal ini termasuk ke dalam penerapan teknologi pendidikan dari kawasan Desain dan Pengembangan, yaitu desain sumber untuk belajar dan pengembangan sumber untuk belajar. Dalam kawasan desain, komik sebagai media pembelajaran termasuk ke dalam sub kawasan Desain Pesan,yang meliputi proses perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan. Pesan atau materi ajar yang hendak disampaikan direkayasa sehingga dapat dirancang dalam bentuk komik pembelajaran. Sedangkan dalam kawasan pengembangan, komik sebagai media pembelajaran termasuk ke dalam sub kawasan pengembangan teknologi cetak. Dalam kawasan ini hasil desain pesan diterjemahkan ke dalam bentuk fisik, yaitu dalam bentuk teks dan visual, melalui teknologi cetak sebagai buku komik pembelajaran.
Komik pembelajaran merupakan contoh dari penerapan teknologi pendidikan, sebab dengan adanya media komik sebagai sumber untuk belajar akan mempermudah pelajar dalam proses pembelajaran, khususnya dalam merealisasi konsep-konsep pelajaran yang bersifat abstrak apabila disajikan dalam bentuk teori saja dan perlu adanya penyajian konkrit, seperti konsep-konsep pada ilmu sains. Dalam hal inilah komik pembelajaran berperan besar dalam menyajikan konsep-konsep abstrak tersebut ke dalam contoh yang konkrit dalam ke hidupan sehari-hari. Itulah yang menjadi inti penerapan dari teknologi pendidikan, yaitu untuk memecahkan permasalahan dalam proses belajar, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan efektif, efisien, dan menarik.
Kesesuaian Prinsip Komik Pembelajaran dengan Prinsip-Prinsip Penerapan Teknologi Pendidikan
Dalam mendesain dan mengembangkan komik pembelajaran, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, sehingga penerapan tersebut dapat dikatakan sesuai dengan prinsip penerapan teknologi pendidikan.
Hal-hal yang menjadi prinsip dalam sub kawasan desain pesan, yaitu perhatian, persepsi, dan daya serap peserta didik, yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi antara pengirim (pembuat komik pembelajaran) dan penerima (pemelajar yang membaca komik pembelajaran). Sehingga pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan tersebut, serta mempertimbangkan persepsi-persepsi yang mungkin timbul dalam benak penerima pesan.
Pada dasarnya kawasan pengembangan dapat dijelaskan dengan adanya:
1) Pesan yang didorong oleh isi
Artinya isi dari komik pembelajaran yang dikembangkan harus sesuai dengan pesan (informasi) yang hendak disampaikan. Sehingga dengan pengembangan media belajar berupa komik pembelajaran dapat mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau kompetensi tertentu.
2) Strategi pembelajaran yang didorong oleh teori
Pengembangan komik pembelajaran dalam bentuk bahan teks cverbal dan visual sangat bergantung pada teori persepsi visual, teori membaca, dan teori belajar.
3) Manifestasi fisik dari teknologi – perangkat keras, perangkat lunak dan bahan pembelajaran.
Komik pembelajaran merupakan contoh dari spsesifikasi desain pesan yang diterjemahkan dan diproduksi dalam bentuk buku (bahan visual) melalui teknologi cetak. Pengkombinasian antara bahan visual dan bahan teks dalam pengembangan komik pembelajaran sangat membantu dalam menciptakan kegiatan belajar yang diinginkan, yaitu belajar efektif.
Secara khusus komik sebagai penerapan dari teknologi cetak mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1) Teks dibaca secara linier, sedangkan visual direkam menurut ruang.
2) Memberikan komunikasi satu arah ynag bersifat pasif.
3) Berbentuk visual yang statis.
4) Pengembangannya bergantung pada prinsip-prinsip linguistik dan persepsi visual.
5) Informasi dapat diorganisasikan dan distruktur kembali oleh pemakai.
Cara Mengoptimalkan Penerapan Teknologi Pendidikan pada Komik Pembelajaran
Pesan pembelajaran yang disampaikan dalam komik pembelajaran dapat dikatakan baik apabila memenuhi beberapa syarat, yaitu :
Pesan pembelajaran harus meningkatkan motivasi pemelajar. Pemilihan isi dan gaya penyampaian pesan mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pemelajar.
Isi dan gaya penyampaian pesan juga harus merangsang pemelajar memproses apa yang dipelajari serta memberikan rangsangan belajar baru.
Pesan pembelajaran yang baik akan mengaktifkan pemelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong pemelajar untuk melakukan praktik-praktik dengan benar.
Menggunakan komik sebagai media pembelajaran juga harus mempertimbangkan evaluasi dari materi yang telah disampaikan, sehingga pembelajar dapat mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian (pemahaman) pemelajar terhadap materi yang disampaikan melalui komik pembelajaran.
D. Cara Merancang Teknologi Pendidikan Dalam Komik
Dalam perancangan sebuah komik yang akan digunakan sebagai media pembelajaran, adapun tahap-tahap yang harus kita tempuh dalam proses pembuatan antara lain:
1) Tahap Pengidentifikasian Target
Dalam pembuatan komik, kita harus dapat mengidentifikasikan siapa yang akan menjadi target kita. Dalam hal ini, target adalah si pembaca, kita harus dapat mengerti selera si pembaca berdasarkan umur yaitu kalangan anak pra sekolah (3-5 Tahun), pada usia ini biasanya anak lebih menyukai komik dengan tokoh hewan, misalnya miki tikus,donal bebek dan doraemon, yang berpakaian dan berbicara seperti manusia. Tetapi anak-anak di usia pra sekolah tidak menyukai komik yang berunsur teror.
Anak pada usia sekolah (6-12 Tahun) biasanya mereka menyukai komik yang mengandung cerita petualangan,misteri dan ketegangan. Karena pada usia ini anak lebih cenderung menyukai hal-hal yang berbau petualangan seiring dengan perkembangan sosialnya dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Pada usia remaja (15-20 Tahun) mereka telah mengalami perkembangan yang ketat, baik dari segi sosial,berfikir,berimajinasi dan menanggapi rangsangan dari luar. Oleh karena itu, sebaiknya komik yang akan disajikan untuk kalangan anak remaja yaitu hal-hal yang berhubungan dengan roman dan percintaan. Karena pada usia ini anak mulai memperhatikan lawan jenisnya dan saling tertarik antara satu dengan yang lain.
Pada saat anak beranjak dewasa (20-25 Tahun) terkadang selera mereka berubah,mereka cenderung menyukai hal-hal yang berhubungan dengan humor,kejahatan dan masalah-masalah sosial,budaya,ekonomi dan politik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada usia inilah anak sudah mulai berfikir luas seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan intelektualitasnya.
2) Tahap Pengidentifikasian warna
Warna yang akan dipilih oleh si pembuat komik haruslah menyesuaikan dengan selera si pembaca. Dalam mengklasifikasikan selera si pembaca yaitu dengan mengklasifikasikan umur si pembaca tersebut.
Pada usia pra sekolah (3-5 Tahun) mereka biasanya menyukai hal yang bercorak warna-warni, karena pada usia anak mulai dikenalkan berbagai jenis warna dan pada usia inilah daya fantasi anak sangat tinggi.
Di usia sekolah (6-12 Tahun) mereka masih cenderung menyukai berbagai jenis warna. Akan tetapi di usia 12 tahun mereka hanya menyukai beberapa warna saja. Oleh karena itu kontras warna yang akan dipilih sedikit sederhana.
Pada usia remaja dan dewasa mereka biasanya tidak menyukai banyak warna,mereka sudah mempunyai selera warna tersendiri. Oleh karena itu pembuatan komik untuk kalangan remaja dan dewasa janganlah didominasi corak berbagai warna.
3) Tahap Pembuatan Skenario
Skenario merupakan jantung proses pembuatan komik karena skenario yang memberikan arah pembuatan cerita komik. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan skenario komik antara lain : Tema, Alur, Setting dalam komik, Jendela, Halaman, Karakter Tokoh (Emosi). Keenam hal tersebut sangat berperan penting dalam proses pembuatan skenario komik karena diantara satu dengan yang lain mempunyai ketergantungan dalam kesempurnaan pesan yang akan disampaikan. Dan dalam proses pembuatan skenario juga harus memperhatikan selera dan minat si pembaca. Dalam hal menentukan skenario haruslah menyesuaikan materi yang akan disampaikan.
4) Tahap Pemilihan Gaya Bahasa
Dalam pemilihan gaya bahasa yang akan digunakan dalam pembuatan komik harus disesuaikan dengan umur si pembaca karena setiap pembaca mempunyai daya serap dan intelektualitas yang berbeda-beda. Untuk gaya bahasa dalam komik yang akan dibuat untuk kalangan anak pra sekolah sebaiknya tidak terelalu sulit dan rumit akan tetapi penuh dengan fantasi atau sesuatu yang menyenangkan.
Pada usia sekolah biasanya anak cenderung menyukai bahasa-bahasa yang penuh motivasi dan memacu andrenalin. Di usia ini pun anak belum menguasai istilah-istilah bahasa yang sulit dan rumit sehingga penggunaan gaya bahasa sedikit dipermudah.
Pada usia remaja dan dewasa, gaya bahasa sedikit ada istilah-istilah bahasa yang bermutu bahkan menggunakan istilah asing karena harus menyesuaikan perkembangan-perkembangan yang ada di masyarakat. Dan juga gaya bahasa digunakan untuk menambah pengetahuan.
5) Tahap Pengaturan Unsur Visual
a. Huruf
Dalam hal pemilihan huruf, haruslah memperhatikan warna pada latar belakang komik tersebut. Karena jika tidak menyesuaikan dengan warna latar maka bisa menyebabkan efek negatif bagi si pembaca yaitu iritasi mata. Huruf yang digunakan harus mudah dibaca dan jelas. Sebaiknya tidak menggunakan huruf yang berbentuk latin yang rumit.
b. Bentuk dan Garis
Buatlah gambar yang sederhana tetapi jelas. Artinya dalam bentuk tidak perlu bersifat naturalis. Hindari garis dan bentuk yang ruwet.
c. Keseimbangan
Dalam penggunaan bentuk,garis,warna dan huruf harus disusun secara seimbang, misalnya huruf yang ingin disusun secara simetris/asimetris maka haruslah seimbang sehingga kesan yang disampaikan dapat dterima dengan baik.
d. Kesatuan
Kesatuan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain harus diperhatikan. Hendaknya kesatuan unsur tersebut terlihat jelas, misalnya judul harus dibuat senyawa dengan apa yang akan dijelaskan dalam komik.
e. Penekanan
Dalam menyajikan pesan atau materi pembelajaran dalam bentuk komik, maka diperlukan adanya penekanan pada unsur-unsur pokok pesan yang akan disampaikan. Misalnya jika si pengarang akan menjelaskan makanan 4 sehat 5 sempurna, maka dalam menjelaskan susu sebaiknya tampilkan gambar susu di tengah-tengah makanan lainnya karena warna susu itu lemah (putih) bila dibandingkan dengan warna makanan lainnya.
f. Layout (susunan,tata letak)
Unsur-unsur visual seperti gambar, kata-kata, bentuk simbol dan lainnya harus terlebih dahulu direncanakan bagaimana susunannya dalam medan visual yang akan disajikan. Susunan harus dapat menempatkan semua unsur secara harmonis.
Dalam proses pembuatan komik harus memperhatikan tahap-tahap tersebut karana kesalahan atau kekurangan dari salah satu unsur dapat mempengaruhi unsur-unsur yang lain sehingga pesan yang akan disampaikan tidak menarik perhatian si pembaca.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Komik adalah salah satu media yang menyampaikan cerita melalui ilustrasi gambar, gambar berfungsi sebagai pendeskripsian cerita. Komik sebagai media berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam konteks ini pembelajaran menunjuk pada sebuah proses komunikasi antara pemelajar dan sumber belajar (dalam hal ini komik pembelajaran). Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secarajelas, runtut, dan menarik.
Komik mempunyai kekurangan yaitu dapat membuat malas, menumpulkan imajinasi, iritasi mata dan kenakalan remaja jika cerita yang disajikan dalam komik tersebut negatif.
Kelebihan komik yaitu dapat menumbuhkan minat baca, belajar membaca, berhitung dan menjadi motivasi anak dalam belajar karena materi yang disajikan dikemas semenarik mungkin. Dalam kawasan teknologi pendidikan, komik termasuk dalam kawasan desain yaitu desain pesan, dengan merekayasa bentuk fisik dari pesan. Dalam penyajian komik sebagai media pembelajaran haruslah memperhatikan karakteristik dari komik dan tahap-tahap yang harus ditempuh.

DAFTAR PUSTAKA
Seels, Barbara B.,dkk. Teknologi Pembelajaran.2004.Jakarta:UNJ
Prawiradilaga, Dewi S., dan Siregar, Eveline. Mozaik Teknologi Pendidikan.Jakarta:Kencana

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Desember 2016 in Tak Berkategori

 

PENGERTIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

PENGERTIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

(Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah system informasi dan teknologi pendidikan)

Dosen pembimbing :Iwan Hermawan S.Ag., M.Pd.I

Disusun Oleh:

KELOMPOK 3 (VII A)

Cuhaya 1341170501068
Erni Suryani 1341170501170
Fitri Alamshah 1341170501180
Iip Siva Nurfaoziah 1341170501144
Rasim Acep 1341170501015
Risna Mai Astuti 1341170501099
Silvia Wulandari 1341170501037
Vina Ropi Fuadah 1341170501128

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

Tahun Ajaran 2014/ 2015

Jl. Hs Ronggowaluyo Ds. Teluk jambe Kec. Teluk jambe Timur Kab Karawang 41373

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Sejarah Perkembangan Ilmu Kalam” dengan lancar. Dalam penulisan makalah ini kami tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terimakasih kepada Iwan Hermawan S.Ag., M.Pd.I

selaku dosen pembimbing mata kuliah system informasi dan teknologi pendidikan, dan semua pihak yang telah membantu selesainya penyusunan makalah ini.

Kami sadar bahwa sebagai manusia tentu mempunyai kesalahan dan kehilafan. Oleh karena itu kami selaku penyusun makalah ini mohon maaf apabila dalam pnyusunan makalah ini terdapat banyak kesalahan.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan para pembaca yang budiman pada umumnya.

Karawang, 29 September 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 2

1.3 Tujuan Masalah 2

BAB II PEMBAHASAN 3

2.1 Pengertian Teknologi Pendidikan 3

2.2 Ruang Lingkup Kajian Teknologi Pendidikan 4

BAB III PENUTUP 7

3.1 Kesimpulan 7

DAFTAR PUSTAKA iii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Teknologi adalah perkembangan alat bantu untuk memudahkan pekerjaan manusia. Teknologi juga sebagai alat untuk pemanfaatan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Teknologi pun memasuki berbagai bidang dalam kehidupan manusia untuk meningkatkan efektifitas suatu produksi ataupun kegiatan untuk penggunanya. Dunia pendidikan pun tidak luput dari integrasi teknologi dalam rangka efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Teknologi dalam bidang pendidikan juga harus dapat dikembangkan dengan baik demi terwujudnya kehidupan bangsa yang cerdas yang tertuang dalam UUD 1945.

Bangsa yang cerdas berarti mengarah pada sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas berakar pada kualitas pendidikan yang juga berkualitas. Karena hakikatnya untuk mengembangkan diri manusis membutuhkan pendidikan agar dapat menjadi manusia yang berkualitas dan berguna bagi masyarakat bangsa dan negara.

Manusia dapat mengembangkan diri melalui pendidikan karena manusia menyadari hakikat siapa sebenarnya dirinya. Salah satu pengenalan manusia terhadap dirinya sendirian diri ádalah dengan aspek-aspek berikut:

1. Kemampuan Menyadari Diri

2. Kemampuan Bereksistensi

3. Kata hati

4. Moral

5. Tanggung Jawab

6. Rasa Kebebasan

7. Kewajiban dan Hak

8. Kemampuan Menghayati Kebahagian

Aspek-aspek tersebut dalam rangka meningkatkan pengembangan dirinya dan kualitas hidup manusia jalan utama adalah melalui pendidikan. Dalam, mendidik atau bertugas sebagai pendidik sangat penting mengetahui aspek-aspek hakekat manusia tersebut agar menjadi arah sesungguhnya atau tujuan paling utama meningkatkan kualitas hidup manusia. Pendidikan memiliki konsep dan pengertian yang luas dan batasan-batasan untuk dikaji lebih dalam.Salah satu tugas penting para pendidik

adalah mengetahui, memahami dan dapat mengaplikasikan serta menerapkan kajian ilmu tentang konsep pendidikan.

Teknologi merupakan salah satu pemecahan masalah dalam dunia pendidikan, karena dapat menembus batas ruang dan waktu. Integrasinya pun makin kuat pada masa globalisasi teknologi dapat menjadi sarana penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang sangat memiliki berbagai pulau yang berjauhan dan terpisah-pisah serta ragam budaya. Pemecahan masalah tersebut merupakan salah satu kepentingan dari teknologi pendidikan. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, tapi dikarenakan kekayaan Indonesia yang memiliki berbagai daerah hal tersebut membuat masih adanya daerah-daerah yang belum tersentuh pendidikan. Sangat diperlukan pembentukan sumber-sumber belajar agar masyarakat Indonesia yang belum terjangkau pendidikan merasakan bagaimana pembelajaran. Disinilah peran penting Teknologi Pendidikan.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian tekhnologi

2. Apa pengertian pendidikan

3. Apa pengertian teknologi pendidikan

4. Bagaimana ruang lingkup teknologi pendidikan

1.3 TUJUAN PENULISAN

1. Dapat mengetahui pengertian teknologi

2. Dapat mengetahui pengertian pendidikan

3. Dapat mengetahui pengetrtian teknologi pendidikan

4. Dapat mengetahui ruang lingkup teknologi pendidikan

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

1. Pengertian Teknologi.

Terminologi teknologi berasal dari kata “textere” (bahasa Latin) yang artinya “to weave or construct”, menenun atau membangun. Dalam bahasa Yunani teknologi berasal dari kata “Technologia” yang menurut Webster Dictionary berarti systematetic treatment atau penanganan sesuatu secara sistematis. Arti lain dari Teknologi diambil dari kata Techne sebagai dasar yaitu art, skill dan science yang berarti keahlian, keterampilan, dan ilmu.

Teknologi dapat dijadikan alat untuk pemanfaatan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Salisbury (2002:7) mengungkapkan bahwa teknologi adalah penerapan ilmu atau pengetahuan yang terorganisir secara sistematis untuk penyelesaian tugas-tugas secara praktis. Praktik penggunaan teknologi akan meningkatkan nilai tambah terhadap produk ilmu pengetahuan Teknologi seringkali oleh masyarakat diartikan sebagai alat elektronik atau mesin.

2. Pengertian Pendidikan

Berikut merupakan pengertian pendidikan menurut ahli pendidikan, peraturan perundang-undangan :

a. Pendidikan adalah suatu proses untuk memanusiakan manusia sehingga membuat manusia mempunyai kehidupan berbudaya. (Pidarta, 2 : 1997)

b. Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

c. Pendidikan menurut Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

d. Pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.(Lasula & Tirtarahardja, 33: 2005)

3. Pengertian teknologi Pendidikan

Ada beberapa pengertian mengenai teknologi pendidikan yaitu anata lain :

a. Merupakan pengembangan, penerapan dan penilaian sistem-sistem, teknik dan alat Bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar siswa.

b. Menurut Webster Dictionary mengatakan bahwa teknologi pendidikan yaitu sebagai pegangan atau pelaksanaan pendidikan secara sistematis, menurut system tertentu yang akan dijelaskan kemudian.

c. Teknologi pendidikan ialah gabungan manusia, peralatan, teknik dan peristiwa yang bertujuan untuk memberi kesan baik kepada pendidikan” (Crowell (1971):Encyclopedia of education)

d. Teknologi Pendidikan/pembelajaran menurut Council for educational Technology for the United Kingdiom (CET) : pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik-teknik dan alat bantu untuk memperbaiki proses belajar manusia

2.2 RUANG LINGKUP KAJIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Teknologi Pendidikan dalam keseluruhan kegiatannya bertujuan untuk:

  1. Meningkatkan fungsi dan peran komponen-komponen sistem instruksional seperti guru, pesan, bahan, peralatan, teknik, lingkungan dan sebagainya untuk memecahkan masalah-masalah kependidikan;
  2. meningkatkan fungsi pengembangan instruksional seperti riset teori, desain, produksi, logistik dan sebagainya untuk menganalisis masalah, merancang, melaksanakan dan menilai upaya pemecahan masalah-masalah kependidikan;
  3. meningkatkan fungsi manejemen instruksional, baik manajemen personil maupun manajemen organisasinya untuk mengkoordinasikan salah satu atau beberapa fungsi yang telah disebutkan di atas.

Jika dikaji lebih mendalam mengenai ciri-ciri dan tujuan teknologi pembelajaran di atas, jelaslah bahwa kehadiran teknologi pembelajaran dalam dunia pendidikan adalah karena adanya dorongan-dorongan tertentu. Adapun hal-hal yang mendorong dikembangkannya teknologi pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Adanya siswa atau peserta didik yang memerlukan bantuan dalam belajar sesuai dengan kemampuannya, kebutuhannya, kondisinya dan tujuannya
  2. sumber-sumber tradisonal sudah tidak mencukupi lagi kebutuhan pendidikan, oleh karena itu, perlu dikembangkan dan dimanfaatkannya sumber-sumber belajar baru
  3. Adanya komponen-komponen sistem instruksional berupa pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan yang perlu didayagunakan agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektitif dan efisien
  4. Adanya kegiatan sebagai suatu sistem dalam mengembangkan sumber-sumber belajar sebagai komponen sistem instruksional yang bertolak dari suatu teori tertentu dan hasil penelitian, kemudian dirancang, diproduksi, disajikan, digunakan, dinilai untuk disempurnakan, kemudian disebarkan
  5. Adanya kegiatan belajar yang memanfaatkan sumber belajar sebagai komponen sistem instruksional, serta lembaga atau instansi yang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut sehingga perlu dikelola dengan baik agar kegiatan tersebut lebih berdaya guna.

Kelima latar belakang tersebut, secara konseptual merupakan gejala bidang garapan teknologi pembelajaran, sekaligus latar belakang diterapkannya konsep teknologi pembelajaran.

Berikut ini akan dikemukakan secara singkat gerakan yang mendasari terwujudnya bidang dan konsep teknologi pembelajaran seperti yang ada sekarang. Pertama adalah lahirnya konsep alat bantu visual (visual aid) dalam pembelajaran. Kedua adalah penggunaan alat bantu visual dalam pembelajaran berkembang dalam audio visual aid. Kemudian yang ketiga adalah dengan dimasukkannya prinsip-prinsip komunikasi dalam pembelajaran, dengan demikian maka tekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan pelajaran dalam bentuk audio visual, tetapi dipusatkan kepada keseluruhan proses komunikasi informasi/pesan (massage) dari sumber (source), yaitu guru, kepada penerima (receiver), yaitu siswa. Keempat adalah masuknya ilmu pengetahuan perilaku kepada teknologi pembelajaran. Kelima adalah perkembangan konsep teknologi pembelajaran dari komunikasi audio visual menuju ke pendekatan sistem dalam pembelajaran, dan akhirnya lahirlah konsep teknologi pembelajaran seperti yang ada sekarang

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa teknologi pembelajaran pada pokoknya mempunyai lima jenis kegiatan yaitu:

  1. Menganalisis masalah dan merumuskan masalah
  2. Merancang pemecahan masalah
  3. Mengembangkan pemecahan masalah
  4. uji coba, penilaian dan revisi pemecahan masalah, dan
  5. Penerapan dan pengendalian pemecahan masalah.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

  1. teknologi adalah penerapan ilmu atau pengetahuan yang terorganisir secara sistematis untuk penyelesaian tugas-tugas secara praktis. Praktik penggunaan teknologi akan meningkatkan nilai tambah terhadap produk ilmu pengetahuan Teknologi seringkali oleh masyarakat diartikan sebagai alat elektronik atau mesin.
  2. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
  3. Teknologi pendidikan ialah gabungan manusia, peralatan, teknik dan peristiwa yang bertujuan untuk memberi kesan baik kepada pendidikan”
  4. Adapun ruang lingkup kajian teknologi pendidikan ialah

a. Meningkatkan fungsi dan peran komponen-komponen sistem instruksional

b. Adanya kegiatan sebagai suatu sistem dalam mengembangkan sumber-sumber belajar sebagai komponen sistem instruksional.

c. Dll

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. S. Nasution. MA. Teknologi Pendidikan Penerbit Temmars Bandung tahun 1982

Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan. Yakarta: Rineka Cipta

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Desember 2016 in Tak Berkategori

 

Media Pembelajaran dalam Strategi Pembelajaran

Media Pembelajaran dalam Strategi Pembelajaran

(Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok)

Mata Kuliah sistem informatika dan teknologi pendidikan

Dosen : Bpk. Iwan Hermawan, S.Ag. M.Pd.I

DISUSUN OLEH KELOMPOK 6

Azis Mustopa Rizky Firdaus

Umar Suryana Rita fatimah

Sari Barokah Siti Nurjanah

Nurul Fitriani Sunarya

Nandar Andra Yusuf

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

TAHUN 2016

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Bismillahirrahmanirrahim. SyukurAlhamdulilah Kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Dalam makalah ini kami mengulas sedikit tentang “Media Pembelajaran dalam Strategi Pembelajaran” untuk memenuhi tugas Mata Kuliah “Sistem Informatika”.

Ucapan terimakasih kepada Bapak:Iwan Hermawan, S.Ag., M.Pd.i Selaku Dosen Pengampu mata kuliah, serta ucapan terimakasih pula kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung dalam penyelesaian makalah ini.Kesempurnaan hanya milik Allah, besar harapan kami akan kritik dan saran Anda sekalian dalam proses penyempurnaan makalah kami yang selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat serta perubahan yang berarti dan lebih baik untuk kita semua Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Karawang,Oktober 2016

Penulis

Daftar Isi

1. Kata Pengantar i

2. Daftar Isi ii

3. BAB I Pendahuluan 1

a. Latar belakang 1

b. Rumuasan Masalah 1

c. Tujuan 1

4. BAB II Pembahasan

a. Pengertian Media 2

b. Pengertian Stategi Pembelajaran 3

c. Posisi Media Pembelajaran 3

d. Fungsi Media Pembelajaran 4

e. Fungsi media dalam proses pembelajaran 5

f. Landasan dalam program media pembelajaran 5

g. Prinsip-prinsip penggunaan media pembelajaran 6

5. BAB III Kesimpulan 12

6. Daftar Pusaka 13

BAB 1

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Kehidupan manusia yang berkembang pesat baik dari segi negative atau dari segi positif.Perubahan ini juga tidak hanya di bidang IPTEK namun merambah kepada dunia pendidikan. Perubahan ini menuntut guru untuk ebih mengasah dan mengslporasi kepamupuannya untuk menunjang dalam proses pembelajaran di kelas.

Oleh karena itu makalah ini akan membahas tentang Media pembelajaran dalam strategi Pembelajaran” dengan adanya makalah ini diharapkan teman-eman mahasiswa calon pendidik mampu menciptakan dan menggunakan media pendidikan yang baik, agar pembelajaran yang dilakukan tidak monoton, dan peserta didik memperoleh pengetahuan serta pengalaman yang lebih maksimal.

1.2 Rumasan Masalah

a. Bagaimana Penjelasan pengertian dari media pembelajaran

b. Bagaimana penjelasan strategi pembelajaran

c. Bagaimana penjelasan landasan memilih media pembelajaran

1.3 Tujuan

a. Untuk mengetahui pengertian dari media pembelajaran

b. Untuk mengetahui strategi pembelajaran

c. Untuk mengetahui memilih media pembelajaran

BAB II

Pembahasan

2.1 Pengertian Media Pembelajaran

Dalamproses pembelajaran terdapat proses komnikasi yang berlangsunh dalam suatu sistem, dan di dalamnya terdapat media pembelajaran sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran tersebut. Menggunakan media dalam proses pembelajaran harus didefinisikan filosofi alas an teroritis yang benar. Istilah media yang merupakan bentuk jamak dari kata medium secara harfiah berarti perantara atau pengantar.Media dikatakan pula sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi. Jadi apapun bentuknya apabila dapat tuk mengantar pensan/informasi dapat disebut media

Dibawah ini ada beberpa pendapat media NEA (National Education Association) menyatakan media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual seta peralatannya.Media hendaknya dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dan dibaca. Dalam dunia pendidikan Arief S. Sadiman menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepenerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Adapun Umar Hamalik, pakar pendidikan Indonesia menyatakan media adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interest antara guru dan anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran disekolah

Sementara itu E. De Corte dalam WS.Winkel menyatakan bahwa media pembelajaran adalah suatu sarana non personal (bukan manusia) yang digunakan atau disediakan oleh tenaga pengajar yang memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar, untuk mencapai tujuan intruksional.

Selanjutnya menurut Russell (1993) media merupakan saluran komunikasi.Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara, yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver).Mereka mencontohkan media ini dengan film, televisi, diagram, bahan tercetak (printed materials), komputer, dan instruktur.Dalam situasi pembelajaran terdapat pesan-pesan yang harus dikomunikasikan.Pesan tersebut biasanya merupakan isi dari tema atau topik pembelajaran.

Dengan demikian, dari pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan atau disediakan oleh guru dimana penggunaannya diintegrasikan kedalam tujuan dan isi pembelajaran, sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran serta mencapai kompetensi pembelajarannya.Selain itu media dalam pembelajaran adalah segala bentuk alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi dari sumber kepada anak didik yang bertujuan agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, dan perhatian anak didik mengikuti kegiatan pembelajaran.

2.2 Pengertian Strategi Pembelajaran

Secara umum strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Strategi pembelajaran merupakan suatu serangkaian rencana kegiatan yang termasuk didalamnya penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam suatu pembelajaran. Strategi pembelajaran disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu.Strategi pembelajaran didalamnya mencakup pendekatan, model, metode dan teknik pembelajaran secara spesifik.

2.3Posisi Media Pembelajaran

Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran.Posisi media pembelajaran sebagai komponen komunikasi ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 1

Posisi media dalam pembelajaran

2.4 Fungsi Media Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Sedangkan metode adalah prosedur untuk membantu siswa dalam menerima dan mengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran. Fungsi media dalam proses pembelajaran ditunjukkan pada gambar

Gambar 2

Fungsi media dalam proses pembelajaran

2.5 Fungsi media dalam proses pembelajaran

Dalam kegiatan interaksi antara siswa dengan lingkungan, fungsi media dapat diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran. Tiga kelebihan kemampuan media (Gerlach & Ely dalam Ibrahim, et.al., 2001) adalah sebagai berikut. Pertama, kemapuan fiksatif, artinya dapat menangkap, menyimpan, dan menampilkan kembali suatu obyek atau kejadian.Dengan kemampuan ini, obyek atau kejadian dapat digambar, dipotret, direkam, difilmkan, kemudian dapat disimpan dan pada saat diperlukan dapat ditunjukkan dan diamati kembali seperti kejadian aslinya.Kedua, kemampuan manipulatif, artinya media dapat menampilkan kembali obyek atau kejadian dengan berbagai macam perubahan (manipulasi) sesuai keperluan, misalnya diubah ukurannya, kecepatannya, warnanya, serta dapat pula diulang-ulang penyajiannya.Ketiga, kemampuan distributif, artinya media mampu menjangkau audien yang besar jumlahnya dalam satu kali penyajian secara serempak, misalnya siaran TV atau Radio.

2.5Landasan dalam penggunaan Media Pembelajaran

Dalam konteks ini, kita akan menggunakan 4 sudut tinjauan, yaitu: tinjauan psikologis, teknologis, empirik, dan filosofis.

a. Landasan Psikologis.

Belajar adalah proses yang kompleks dan unik; artinya, sesorang yang belajar melibatkan segala aspek kepribadiannya, baik fisik maupun mental. Keterlibatan dari semua aspek kepribadian ini akan nampak dari perilaku belajar orang itu. Perilaku belajar yang nampak adalah unik; artinya perilaku itu hanya terjadi pada orang itu dan tidak pada orang lain. Setiap orang memunculkan perilaku belajar yang berbeda.

Keunikan perilaku belajar ini disebabkan oleh adanya perbedaan karakteristik yang menentukan perilaku belajar, seperti: gaya belajar (visual vs auditif), gaya kognitif (field independent vs field dependent), bakat, minat, tingkat kecerdasan, kematangan intelektual, dan lainnya yang bisa diacukan pada karakteristik individual siswa.

Perilaku belajar siswa yang kompleks dan unik ini menuntut layanan dan perlakuan pembelajaran yang kompleks dan unik pula untuk setiap siswa.Komponen pembelajaran yang bertanggungjawab untuk menangani masalah ini adalah strategi penyampaian pembelajaran, lebih khusus lagi media pembelajaran.Strategi (media) pembelajaran haruslah dipilih sesuai dengan karakteristik individual siswa.Ia sedapat mungkin harus memberikan layanan pada setiap siswa sesuai dengan karakteristik belajarnya. Umpamanya, siswa yang memiliki gaya

belajar visual harus mendapatkan rangsangan belajar visual, seperti halnya siswa yang memiliki gaya auditif harus mendapatkan rangsangan belajar auditif.

Perubahan perilaku sebagai akibat dari belajar dapat dikelompokkan ke dalam 3 aspek, yaitu: kognitif, sikap, dan keterampilan. Setiap aspek menuntut penggunaan media pembelajaran yang berbeda.Artinya, belajar kognitif memerlukan media yang berbeda dibandingkan siswa yang belajar aspek lainnya.Atas dasar ini, diperlukan strategi penyampaian yang menggunakan multimedia untuk memenuhi tuntutan belajar aspek yang berbeda-beda.

Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinum konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat.Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan simbol, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang dewasa. Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak. Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan simbol.

b. Landasan Teknologis.

Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan belajar siswa.Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap siswa sesuai dengan karakteristiknya.

Dalam upaya itu, teknologi bekerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan desainnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunannya dan akhirnya menggunakannya baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi (diseminasi). Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh siswa yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap siswa akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristiknya.

Jadi, dalam kaitannya dengan teknologi, media pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol. Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan komponen-komponen sistem pembelajaran yang telah disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga menjadi sistem pembelajaran yang lengkap. Komponen-komponen tersebut meliputi pesan, orang,bahan, media, peralatan, teknik, dan latar.

Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi anatara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, bahwa siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristiknya. Siswa yang memiliki gaya belajar visual akan lebih mendapatkan keuntungan dari menggunakan media visual, seperti film, video, gambar atau diagram. Sedangkan siswa yang memiliki gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan media pembelajaran auditif, seperti rekaman suara , radio atau ceramah dari guru/ pengajar. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual.Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri. Atas dasar ini, maka prinsip penyesuaian jenis media yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan karakteristik individual siswa menjadi semakin mantap. Pemilihan dan penggunaan media hendaknya jangan didasarkan pada kesukaan atau kesenanangan pengajar, tetapi dilandaskan pada kecocokan media itu dengan karakteristik siswa, disamping kriteria lain yang telah disebutkan sebelumnya.

d. Landasan filosofis.

Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbaga jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Benarkah pendapat tersebut?Bukankah dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media yang lebih sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain, siswa dihargai harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain, maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.

Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berangsung secara efektif. Untuk maksud tersebut, perlu:

(1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya,

(2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa.

2.6 Prinsip-prinsip Penggunaan Media Dalam Pembelajaran.

Ada beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan oleh pengajar dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran, yaitu:

(1) Tidak ada satu media yang paling unggul untuk semua tujuan. Satu media hanya cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin tidak cocok untuk yang lain.

(2) Media adalah bagian intregal dari proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar pengajar saja., tetapi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran. Penetapan suatu media haruslah sesuai dengan komponen yang lain dalam perancangan instruksional. Tanpa alat bantu mengajar mungkin pembelajaran tetap dapat berlangsung, tetapi tanpa media pembelajaran itu tidak akan terjadi.

(3) Media apapun yang hendak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk memudahkan belajar siswa. Kemudahan belajar siswa haruslah dijadikan acuan utama pemilihan dan penggunaan suatu media.

(4) Penggunaan berbagai media dalam satu kegiatan pembelajaran bukan hanya sekedar selingan/pengisi waktu atau hiburan, melainkan mempunyai tujuan yang menyatu dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.

(5) Pemilihan media hendaknya obyektif (didasarkan pada tujuan pembelajaran), tidak didasarkan pada kesenangan pribadi.

(6) Penggunaan beberapa media sekaligus akan dapat membingungkan siswa. Penggunaan multimedia tidak berarti menggunakan media yang banyak sekaligus,tetapi media tertentu dipilih untuk tujuan tertentu dan media yang lain untuk tujuan yang lain pula.

(7) Kebaikan dan keburukan media tidak tergantung pada kekonkritan dan keabstrakannya. Media yang kongkrit wujudnya, mungkin sukar untuk dipahami karena rumitnya, tetapi media yang abstrak dapat pula memberikan pengertian yang tepat.

BAB III

Kesimpulan

media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan atau disediakan oleh guru dimana penggunaannya diintegrasikan kedalam tujuan dan isi pembelajaran, sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran serta mencapai kompetensi pembelajarannya.Selain itu media dalam pembelajaran adalah segala bentuk alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi dari sumber kepada anak didik yang bertujuan agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, dan perhatian anak didik mengikuti kegiatan pembelajaran.

Landasan Pemilihan Media pembelajaran terdiri dari 3 landasan

1. Landasan terioritik

2. Landasan Psikologi

3. Landsan empirik

4. Landasan Filosofis

Daftar Pusaka

1. 2015. Buku Ajar Media Pembelajaran. Diakses 14 Oktober 2016 dari Education upi

2. I wayan Santayasa. 2015. “Landasan Kopseptual Media Pembelajaran”. makalah dipublikasikan, Universitas Pendidikan Ganesha

Pada 4 November 2016 06.23, Umar Suryana <umarsuryana87> menulis:

2016-11-04 6:20 GMT+07:00 Umar Suryana <umarsuryana87>:

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Desember 2016 in Tak Berkategori

 

PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

(Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah system informasi dan teknologi pendidikan)

Dosen pembimbing :Iwan Hermawan S.Ag., M.Pd.I

Disusun Oleh:

KELOMPOK 3 (VII A)

Cuhaya 1341170501068
Erni Suryani 1341170501170
Fitri Alamshah 1341170501180
Iip Siva Nurfaoziah 1341170501144
Rasim Acep 1341170501015
Risna Mai Astuti 1341170501099
Silvia Wulandari 1341170501037
Vina Ropi Fuadah

Intan Permatasari

1341170501128

1341170501142

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

Tahun Ajaran 2014/ 2015

Jl. Hs Ronggowaluyo Ds. Teluk jambe Kec. Teluk jambe Timur Kab Karawang 41373

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Pendayagunaan Teknologi Pendidikan” dengan lancar. Dalam penulisan makalah ini kami tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terimakasih kepada Iwan Hermawan S.Ag., M.Pd.I

selaku dosen pembimbing mata kuliah system informasi dan teknologi pendidikan, dan semua pihak yang telah membantu selesainya penyusunan makalah ini.

Kami sadar bahwa sebagai manusia tentu mempunyai kesalahan dan kehilafan. Oleh karena itu kami selaku penyusun makalah ini mohon maaf apabila dalam pnyusunan makalah ini terdapat banyak kesalahan.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan para pembaca yang budiman pada umumnya.

Karawang, 12 November 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 1

1.3 Tujuan Masalah 1

BAB II PEMBAHASAN 2

2.1 konsep teknologi pendidikan 2

2.2 Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Indonesia 4

2.3 pendayagunaan teknologi pendidikan Jepang 6

2.4 Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Negara-negara Asia Lainnya 7

2.5 Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Amerika 8

BAB III PENUTUP 9

3.1 Kesimpulan 9

DAFTAR PUSTAKA iii

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan masyarakat Indonesia yang semakin tinggi terhadap pendidikan yang bermutu menunjukkan bahwa pendidikan telah menjadi salah satu pranata kehidupan sosial yang kuat dan berwibawa, serta memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan peradaban bangsa Indonesia. Pendidikan telah memberi kontribusi yang cukup signifikan dalam membangun peradaban bangsa Indonesia dari satu masa kemasa yang lainnya, baik sebelum kemerdekaan maupun sesudah kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbagai kajian dan pengalaman menunjukkan bahwa pendidikan memberi manfaat yang luas bagi kehidupan suatu bangsa. Pendidikan mampu melahirkan masyarakat terpelajar dan berakhlak mulia yang menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat sejahtera. Pendidikan juga meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga mampu hidup harmoni dan toleran dalam kemajemukan, sekaligus mempekuat kohesi social dan memantapkan wawasan kebangsaan untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep teknologi pendidikan?

2. Bagaimana Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Indonesia?

3. Bagaimana pendayagunaan teknologi pendidikan Jepang?

4. Bagaimana Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Negara-negara Asia Lainnya?

5. Bagaimana Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Amerika?

1.3 Tujuan Makalah:

1. Untuk mengetahui konsep teknonologi pendidikan.

2. Untuk mengetahui pendayagunaan teknologi pendidikan di Indonesia.

3. Untuk mengetahui pendayagunaan teknologi pendidikan di Jepang.

4. Untuk mengetahui Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Negara-negara Asia Lainnya

5. Untuk mengetahui Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Amerika

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Teknologi Pendidikan

Definisi konseptual teknologi pendidikan adalah merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, gagasan, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mancari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Teknologi pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan usaha memudahkan proses belajar dengan ciri khas sebagai berikut:

1. Memberikan perhatian khusus pada pelayanan dan kebutuhan yang unik untuk masing-masing sasaran didik.

2. Menggunakan aneka ragam dan sebanyak mungkin sumber belajar.

3. Menerapkan pendekatan sistem.

Teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan bisa dimaknai dalam tiga paradigma, yaitu (1) TIK sebagai alat-alat berupa produk teknologi yang bisa jadi sebagai pelaku dalam pendidikan, (2) TIK sebagai bagian dari materi yang bisa membuat pendidikan menjadi lengkap, akurat, cepat, transparan dan mutakhir, (3) TIK sebagai alat bantu untuk menumpulkan, mengelola, menyimpan, menyelidiki, membuktikan, dan menyebarkan informasi penting secara efektif dan efisien.

Pada tahun 1960-an teknologi pendidikan menjadi salah satu kajian yang banyak mendapat perhatian di lingkungan ahli pendidikan. Pada awalnya, teknologi pendidikan merupakan kelanjutan perkembangan dari kajian-kajian tentang penggunaan Audiovisual, dan program belajar dalam penyelenggaraan pendidikan. Kajian tersebut pada hakekatnya merupakan usaha dalam memecahkan masalah belajar manusia (human learning). Solusi yang diambil melalui kajian teknologi pendidikan bahwa pemecahan masalah belajar perlu menggunakan pendekatan-pendekatan yang tepat dengan banyak memfungsikan pemanfaatan sumber belajar.

Perkembangan kajian teknologi pendidikan menghasilkan berbagai konsep dan praktek pendidikan yang banyak memanfaatkan media sebagai sumber belajar. Oleh karena

itu, terdapat persepsi bahwa teknologi pendidikan sama dengan media, padahal kedudukan media berfungsi sebagai sarana untuk mempermudah dalam penyampaian informasi atau bahan belajar. Dari segi sistem pendidikan, kedudukan teknologi pendidikan berfungsi untuk memperkuat pengembangan kurikulum terutama dalam disain dan pengembangan, serta implementasinya, bahkan terdapat asumsi bahwa kurikulum berkaitan dengan “what”, sedangkan teknologi pendidikan mengkaji tentang “how”. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, teknologi pendidikan memperkuat dalam merekayasa berbagai cara dan teknik dari mulai tahap disain, pengembangan, pemanfaatan berbagai sumber belajar, implementasi, dan penilaian program dan hasil belajar.

Berdasarkan sejarah perkembangannya, istilah teknologi pendidikan mulai digunakan sejak tahun 1963, dan secara resmi diikrarkan oleh Association of Educational and Communication Technology (AECT) sejak tahun 1977, walaupun adakalanya terjadi overlapping penggunaan istilah tersebut dengan teknologi pembelajaran. Namun, kedua istilah tersebut masih terus digunakan sesuai dengan pertimbangan penggunanya. Finn (1965) mengungkapkan bahwa di Inggris dan Kanada lebih lazim digunakan istilah teknologi pendidikan, sedangkan di Amerika Serikat banyak digunakan istilah teknologi pembelajaran. Tapi adakalanya kedua istilah tersebut digunakan secara serempak dalam kegiatan yang sama. Dan akhir-akhir ini berkembang konsep bahwa teknologi pembelajaran lebih layak digunakan untuk konteks penyelenggaraan pengajaran.

Lumsdaine (1964) dalam Romiszoswki (1981: 12) menyebutkan bahwa penggunaan istilah teknologi pada pendidikan memiliki keterkaitan dengan konsep produk dan proses. Konsep produk berkaitan dengan perangkat keras atau hasil-hasil produksi yang dimanfaatkan dalam proses pengajaran. Pada tahapan yang sederhana jenis teknologi yang digunakan adalah papan tulis, bagan, objek nyata, dan model-model yang sederhana. Pada tahapan teknologi menengah digunakannya OHP, slide, film proyeksi, peralatan elektronik yang sederhana untuk pengajaran, dan peralatan proyeksi (LCD).

Konsep dan prinsip teknologi pembelajaran kemudian diperkaya oleh ahli-ahli bidang Psikologi, seperti Bruner (1966), dan Gagne (1974), ahli Cybernetic seperti Landa (1976), dan Pask (1976), serta praktisi seperti Gilbert (1969), dan Horn (1969), serta lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki ketertarikan atas pengembangan program pembelajaran. Walaupun teknologi pembelajaran termasuk masih prematur, akan tetapi usaha pengembangannya terus dilakukan secara kreatif dan teliti sehingga mampu memecahkan permasalahan yang muncul dalam pembelajaran.

2.2 Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Indonesia

Sebelum menguraikan pendayagunaan teknologi pendidikan di Indonesia, terlebih dahulu diuraikan tantangan pendidikan di Indonesia, diantaranya:

1. Masih banyak anak usia sekolah yang belum dapat menimati pendidikan dasar sembilan tahun.

2. Tidak meratanya penyebaran sarana dan sarana pendidikan/sekolah.

Untuk mengatasi hal tersbut, bida dilakukan melalui pemanfaatan TIK atau teknologi pendidikan sebagai berikut:

1. Memperluas kesempatan belajar.

2. Meningkatkan efisiensi.

3. Meningkatkan kualitas belajar.

4. Meningkatkan kualitas mengajar.

5. Memfasilitasi pembentukan keterampilan.

6. Mendorong belajar sepanjang hayat.

7. Meningkatkan perencanaan kebijakan manajemen.

8. Mengurangi kesenjangan digital.

Adapun kebijakan TIK untuk pendidikan nasional sebagai berikut:

1. Pendayagunaan untuk pemerataan dan perluasan akses.

2. Pendayagunaan untuk meningkatkan mutu relevansi dan daya saing.

3. Pendayagunaan untuk penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik.

Pendayagunaan Teknologi pendidikan menjadi salah satu program beberapa negara baik berkembang maupun maju. Indonesia salah satu negara berkembang yang sedang gencar-gencarnya mencanangkan peningkatan pendidikan dalam berbagai sisi. program belajar 9 (sembilan) tahun yang telah lama dikembangkan, kini mulai ditingkatkan dengan menghadirkan Education of Technology. Dalam hal pendayagunaan teknologi pendidikan setidaknya terdapat dua hal penting yang perlu dicapai peningkatan mutu pendidikan dan perluasan kesempatan belajar di bebagai jenjang.

Dalam peningkatan mutu pendidikan yang mendorong, terciptanya manusia atau generasi yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat, serta dapat bersaing dalam kanca percaturan globalisasi serta tidak menghilangkan identitas nasional yang telah tertanam. Maka perlu di perhatikan kualitas dalam mendesain pembelajaran serta kurikulum. Pembelajaran yang menjadi hal pokok dalam transformasi ilmu serta pengalaman belajar perlu adanya pembentukan baik suasana, sarana-prasarana, maupun sikap mental yang tersistem baik. Bila hal itu terlaksana maka kurikulum yang akan diterapkan menjadi lebih berkualitas sedangkan untuk memberikan kesempatan belajar yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara terlepas berasal dari berbagai macam latar belakang, tingkat ekonomi, jenis kelamin, lokasi domisili, kondisi fisik dan mental. maka tetap harus diusahakan hadir dunia pendidikan bagi mereka semua.

Teknologi, dengan segala keuntungan yang diberikannya telah membuat teknologi itu sendiri berkembang sangat pesat. Perkembangan tersebut terlihat dengan mulai masuknya penggunaan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan. Mulai dari aspek bisnis dengan adanya e-business hingga aspek pendidikan yaitu dengan adanya e-learning. Pemanfaatan teknologi dalam dunia bisnis sudah bukan sekedar menjadi pelengkap saja bagi beberapa perusahaan melainkan sudah masuk dalam bagian dari proses bisnis itu sendiri. Jika pemanfaatan teknologi sudah “sebegitunya”, apakah pemanfaatan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang pendidikan di Indonesia juga akan demikian?

Sebelum membahas lebih jauh mengenai pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang pendidikan, ada baiknya untuk mengetahui manfaat dari teknologi itu sendiri. Memangnya kenapa kita harus memanfaatkan teknologi tersebut dalam bidang pendidikan? Pada dasarnya teknologi diciptakan untuk mempercepat dan mempermudah pekerjaan manusia. Oleh karena itu, teknologi informasi dan komunikasi hadir dengan tujuan memberi kemudahan bagi penggunanya dalam pengolahan, penerimaan, penyimpanan, pengaksesan informasi dan komunikasi. Dalam pendidikan di Indonesia, kegiatan belajar belajar mengajar langsung dipresepsikan sebagai kegiatan dimana peserta ajar dan pengajar bertemu dalam suatu ruang kelas. Dulu, memang begitulah proses kegiatan belajar mengajar secara “resmi”. Namun, dengan hadirnya teknologi internet, sebagai teknologi informasi dan komunikasi, ruang kelas yang bisa dianggap sebagai suatu bentuk keterbatasan dapat hilang. Dengan hilangnya keterbatasan ruang, itu sudah berarti bahwa kita bisa belajar dimana saja dan kapan saja. Hal ini tentunya dapat membantu teman-teman kita, seluruh warga Indonesia untuk mendapatkan pendidikan.

Pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) secara umum sebenarnya telah dimulai pada tahun 1999, yaitu melalui program Jaringan Internet (Jarnet) yang selanjutnya secara berturut-turut dikembangkan program Jaringan Informasi Sekolah (JIS), Wide Area Network (WAN) Kota, Information and Communication Technology Center (ICT Center), dan yang terakhir yang cukup santer didengar yaitu Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas). Walaupun langkah kita memang tertinggal oleh negara-negara tetangga seperti Malaysia, India, dan Singapura, namun langkah-langkah pemerintah dalam pemanfaatan teknologi informasi yang dilakukan secara bertahap ini patut diacungkan jempol. Belum lagi untuk tahapan kedepannya, pemerintah berencana untuk mengembangkan South East Asia Education Network (SEA EduNet), yaitu program untuk mengintegrasikan jejaring yang telah dibangun oleh negara-negara tetangga agar dapat melakukan sharing knowledge dengan lebih insentif.

2.3 Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Jepang

Sementara itu, negara di Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Thailand, dan Malaysia sangat peduli terhadap pemanfaatan teknologi untuk pendidikan. Mereka telah mampu mendorong negaranya, sehingga memiliki daya saing yang kuat. Bagaimana mereka bisa? Salah satu resepnya, mereka mau, mampu, dan berhasil meningkatkan mutu pendidikan di negara masing-masing. Yang dilakukan, antara lain, memanfaatkan teknologi dan perubahan paradigma pembelajaran.
Di bidang pendidikan, TIK bisa dimanfaatkan sebagai sarana pengajaran efektif yang menghubungkan guru dengan murid sekaligus menjadi sarana efektif untuk mengangkat potensi serta kreativitas siswa. Seorang siswa di Sumatera hanya perlu mengeklik mouse untuk mendapatkan akses instan terhadap samudera informasi tentang subjek apa pun.

Kini di Jepang formulasi penyebaran informasi sebagai promosi, mengawali kegiatan penyuluhan dan komunikasi inovasi teknologi, bertumpu pada penggunaan komputer dan teknologi informasi yang lebih efektif dan efisien. Materi informasinya bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga inovasi kelembagaan, metode penyelenggaraan peenyuluhan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya. Jika pada tahun 1975 sebagai, awal penerapannya menggunakan “Surat Berantai” (Snail Letter), maka pada tahun 1985 beralih dengan menggalakkan penggunaan faximili, dan pada tahun 1990 diramaikan dengan penggunaan jaringan komunikasi personal yang diberi nama : Nilai Tambah Jaringan Kerja Penyuluhan (Fukyu/Extemion Value Added). Jaringan komunikasi yang paling populer diterapkan pada tahun 2000 sampai saat ini, sistem diberi nama Jaringan Kerja Informasi Penyuluhan (Extension Information Network) atau isingkat El-Net, dipadukan dengan internet, home page, dan dioperasikan oleh Pusat Teknologi Informasi Jepang.

Karakteristik pemanfaatan Teknologi Informasi di Jepang, didominasi oleh Lembaga Jaringan Kerja Informasi Pertanian yang bernaung di bawahy Assosiasi Pembangunan dan Penyuluhan Pertanian Jepang, menempatkan Pemandu Penyuluhan Wilayah sebagai sasarannya. Jaringannya bersifatnya tertutup, ruang lingkup seluruh Jepang, dan melibatkan banyak pihak, yakni (i) Departemen Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, (ii) Pemerintah Wilayah (Perfecture), (iii) Pusat-pusat Penyuluhan, (iv) Lembaga Penelitian Pertanian Nasional, dan (v) Perusahaan publik. Selain lembaga tersebut diatas, dijumpai pula Jaringan Kerja Lokal yang bersifat tertutup, dioperasikan oleh pemerintah wilayah dan Pusat Penyuluhan Petanian dengan sasaran utama para petani , melibatkan lembaga pemerintahan wilayah, pusatpusat penyuluhan, lembaga penelitian pertanian wilaya, dan koperasi pertanian serta petani, dengan ruang lingkupnya wilayah. Adapun Home page, jaringan teknologi informasi yang bersifat umum, terbuka dan dapat diakses semua pihak, termasuk petani dan konsumen pertanian, melengkapi jaringan teknologi informasi lainnya.

2.4 Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Negara-negara Asia Lainnya

Kesenjangan digital (digital divide) antar negara secara umum terjadi di wilayah Asia, yang ditunjukkan dengan tingkat penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sangat tinggi di belahan Asia Timur tetapi relatif rendah di wilayah asia lainnya, terutama Asia Selatan dan Asia tenggara, kecuali Singapura dan Malaysia. Negara-negara yang tergolong tinggi tingkat penggunaan TIK-nya mempunyai nilai investasi, ekspor, dan pendapatan yang tinggi untuk produk Telekomunikasi dibandingkan negara pengguna TIK yang lebih rendah. Perbedaan tingkat penggunaan TIK tersebut secara umum berhubungan signifikan positif dengan pendapatan per kapita, nilai tambah sektor jasa dan indeks pengembangan manusia, serta berkorelasi negatif dengan nilai tambah sektor pertanian dan angka kemiskinan.

Kata Kunci: Information and Communication Technology, Digital Divide, ICT development Index, Human Development Index.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang relatif cepat dewasa ini telah mempengaruhi perkembangan perekonomian dunia. Pada kurun waktu 1999 sampai 2000, negara-negara sedang berkembang di wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia menunjukkan bahwa difusi teknologi informasi berkorelasi positif cukup kuat dengan tingkat pendapatan per kapita (Kim, 2004). Secara luas layanan teknologi informasi tersebut mencakup penggunaan fasilitas berbasis telekomunikasi seperti internet dan teknologi bergerak (mobile technology), (2) layanan telokomunikasi bernilai tambah seperti komunikasi melalui komputer pribadi dan layanan data, (3) layanan siaran seperti TV, radio, dan satellite broadcasting.

2.5 Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Amerika

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam bidang pendidikan telah lama dilakukan di negara-negara maju. Di Amerika Serikat, misalnya, pemanfaatan komputer dan jaringan computer telah dilakukan sejak tahun 1980-an. Setiap siswa mempunyai kesempatan untuk mengakses bahan-bahan pelajaran yang disajikan dalam bentuk interaktif melalui jaringan komputer. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi ini ternyata berhasil meningkatkan hasil ujian, penurunan tingkat putus sekolah, dan penurunan tingkat ketidakhadiran di kelas.

Di Indonesia pemanfaatan Internet sebagai sarana pendidikan masih sangat minim. Untuk tingkat perguruan tinggi saja, hanya beberapa perguruan tinggi yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, dan itupun belum maksimal. Masih banyak aplikasi-aplikasi di Internet yang belum digunakan untuk mendukung kegiatan pendidikan yang dilakukan. Untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi jauh lebih minim lagi.

BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Sekaitan dengan pendidikan, hal yang perlu diperhatikan adalah pendayagunaan teknologi. Pendayagunaan teknologi pendidikan menjadi salah satu program beberapa negara baik berkembang maupun maju. Indonesia salah satu negara berkembang yang sedang gencar-gencarnya mencanangkan peningkatan pendidikan dalam berbagai sisi.

Di Indonesia, pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) secara umum sebenarnya telah dimulai pada tahun 1999, yaitu melalui program Jaringan Internet (Jarnet) yang selanjutnya secara berturut-turut dikembangkan program Jaringan Informasi Sekolah (JIS), Wide Area Network (WAN) Kota, Information and Communication Technology Center (ICT Center), dan yang terakhir yang cukup santer didengar yaitu Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas).

Walaupun langkah Indonesia tertinggal oleh negara-negara tetangga seperti Malaysia, India, dan Singapura, namun langkah-langkah pemerintah dalam pemanfaatan teknologi informasi yang dilakukan secara bertahap ini patut diacungkan jempol. Belum lagi untuk tahapan kedepannya, pemerintah berencana untuk mengembangkan South East Asia Education Network (SEA EduNet), yaitu program untuk mengintegrasikan jejaring yang telah dibangun oleh negara-negara tetangga agar dapat melakukan sharing knowledge dengan lebih insentif.

Sementara itu, negara di Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Thailand, dan Malaysia sangat peduli terhadap pemanfaatan teknologi untuk pendidikan. Mereka telah mampu mendorong negaranya, sehingga memiliki daya saing yang kuat. Bagaimana mereka bisa? Salah satu resepnya, mereka mau, mampu, dan berhasil meningkatkan mutu pendidikan di negara masing-masing. Yang dilakukan, antara lain, memanfaatkan teknologi dan perubahan paradigma pembelajaran.

Di bidang pendidikan, TIK bisa dimanfaatkan sebagai sarana pengajaran efektif yang menghubungkan guru dengan murid sekaligus menjadi sarana efektif untuk mengangkat potensi serta kreativitas siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2010. Kontribusi teknologi Pendidikan. Avalaible from: http://ryusufhadi.net/wp-content/upload/2010.

Admin. 2008. Khaerudin. Teknologi Pendidikan dalam Membangun Pendidikan. Avalaible from: http://www.ilmu pendidikan.net/2008/05/12k.

Admin. 2010. Budi Hermana. Teknologi Informasi dan Komunikasi di Negara-Negara Asia. Avalaible from: http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id

Admin. 2010. Budi Hermana. Teknologi Informasi dan Komunikasi di Negara-Negara Asia. Avalaible from: http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Desember 2016 in Tak Berkategori

 

PENERAPAN KONSEP DAN PRINSIP PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

PENERAPAN KONSEP DAN PRINSIP PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

( Makalah ini di buat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Dan Teknologi Pendidikan)

Dosen Pengampu: : Iwan Hermawan, S.Ag., M.Pd.I

Disusun Oleh :

Kelompok 1/ VII / C

Sofyan Iskandar 1341170501026

Khoirul Anwar 1341170501001

Abdurrohman Wahidin 1341170501014

Ananda Siti Mafulani 1341170501107

Anggun Nurhasanah 1341170501005

Otin Husnul Khotimah 1341170501125

Siti Patimah 1341170501059

Ika Wahyuni 1341170501080

Dewi Komalasari 1341170501091

Irma Asmawati 1341170501711

Sari Barokah 1341170501122

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Penerapan Konsep Dan Prinsip Pembelajaran Kontekstual dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah sistem informasi dan teknologi pendidikan.

Adapun makalah tentang Penerapan Konsep Dan Prinsip Pembelajaran Kontekstual ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga makalah yang telah kami sajikan dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

Karawang, Oktober 2016

Kelompok 1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah…………………………………………………………. 1

B. Rumusan Masalah…………………………………………………………………. 2

C. Tujuan………………………………………………………………………………….. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran Kontekstual ( CTL )…………………………… 3

B. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL )…………… 4

C. Prinsip Pembelajaran Kontekstual( CTL )…………………………………. 5

D. Penerapan Pembelajaran Kontekstual ( CTL )…………………………… 8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………………………………………. 12

B. Kritik dan Saran………………………………………………………………….. 13

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi peserta didik dalam pembelajaran perlu difasilitasi dengan berbagai sumber pembelajaran baik bersifat local maupun global, serta di dukung fasilitasi berbagai sumber belajar dan didukung jaringan kerja ( network) yang digunakan untuk mengoptimalkan perkembangan diri mereka dalam pembelajaran. Kegiatan belajar bisa mereka lakukan dimana dan kapan saja, kesempatan belajar bagi mereka tidak terbatas di sekolah saja, tetapi juga di luar sekolah sehingga mereka memiliki pandangan atau wawasan local dan internasional.

Kegiatan pembelajaran perlu dipertimbangkan dengan mengembangkan kecakapan hidup ( life skill ) yang sangat diperlukan oleh peserta didik di era globalisasi setelah mereka lulus dan memasuki lapangan kerja atau dalam rangka melakukan pengabdian dalam pengembangan masyarakat.

Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi yang dilakukan selama ini dianggap gagal menghasilkan para peserta didik yang aktif, kreatif, inovatif dalam mencapai keunggulan kompetitif di era globalisasi. Mereka hanya berhasil “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali diri mereka memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Oleh karena itu, perlu ada perubahan pendekatan penbelajaran yang lebih bermakna sehingga dapat membekali peserta didik dalam menghadapi persoalan hidup yang dihadapi sekarang maupun yang akan datang. Pendekatan pembelajaran yang cocok untuk hal diatas adalah Contextual Teaching and Learning ( CTL ).

Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah artinya belajar akan lebih bermakna jika peserta didik bekerja dan mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan sekedar “ mengetahui”. Pembelajaran hanya sekedar transfer of knowledge dari pendidik kepada peserta didik, tetapi bagaimana peserta didik mampu memaknai apa yang dipelajari itu. Oleh karena itu strategi pembelajaran lebih utama dari sekedar hasil.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian pembelajaran kontekstual?

2. Bagaimana konsep pembelajaran kontekstual?

3. Bagaimana prinsip pembelajaran kontekstual?

4. Bagaimana penerapan pembelajaran kontekstual?

C. Tujuan

1. Mengetahui dan memahami pengertian pembelajaran kontekstual.

2. Mengetahui dan memahami konsep pembelajaran kontekstual.

3. Mengetahui dan memahami prinsip pembelajaran kontekstual.

4. Memahami dan mampu mengaplikasikan konsep dan prinsip pembelajaran kontekstual.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran Kontekstual

Ada beberapa pengertian pembelajaran kontekstual yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya:

1) Pembelajaran kontekstual adalah suatu trategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

2) Pembelajaran CTL adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari – hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, social, dan budayanya.

3) Pembelajaran CTL adalah pengajaran yang memungkinkan peserta didik memperkuat, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademis nya dalam berbagai latar sekolah dan diluar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada dalam dunia nyata. Pembelajaran kontekstual terjadi ketika peserta didik menerapkan dan mengalami apa yang diajarkan dengan mengacu pada masalah – masalah rill yang bersosialisasi dengan peranan dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat, peserta didik, dan selaku pekerja.

4) Pembelajaran CTL adalah suatu konsepsi belajar mengajar yang membantu pendidik menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi peserta didik membuat hubungan – hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan peserta didik sebagai anggota keluarga masyarakat, dan pekerja serta meminta ketekunan belajar.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran CTL adalah pendekatan pembelajaran yang dilakukan pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat menghubungkan/ mengaitkan antara materi pembelajaran dengan kenyataan yang dia temukan dalam kehidupan sehari – hari, sehingga peserta didik dapat menerapkan materi pembelajaran yang dipelajarinya dalam kehidupannya.

B. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual adalah suatu startegi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami. Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa di tuntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.

Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.

C. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kontekstual

Menerapkan CTL dalam suatu pembelajaran pada prinsipnya sama saja dengan menciptakan suatu pembelajaran yang menantang daya cipta siswa untuk menemukan informasi baru dalam pembelajaran. Di dalam Depdiknas (dalam Nyimas, 2007:6-12) disebutkan bahwa ada tujuh prinsip pembelajaran CTL, yaitu:

1. Kontrukstivisme (constructivism)

Salah satu landasan teoritis pendidikan modern termasuk CTL adalah teori pembelajaran konstruktivisme. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahun mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai pada pembelajaran siswa aktif. Sebagian besar waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Menurut Nurhadi kontruktivisme merupakan landasan berpikir dalam pendekatan belajar Kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Dalam hal ini, manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

Dengan dasar itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru.

2. Menemukan (inquiri)

Menemukan merupakan kegiatan inti dari proses pembelajaran Kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam hal ini tugas guru yang harus selalu merancang kegiatan yang selalu merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan.

3. Bertanya (questioning)

Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Kontekstual. Dalam proses pembelajaran bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Kegiatan bertanya bagi siswa yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Guru dapat menggunakan teknik bertanya dengan cara memodelkan keingintahuan siswa dan mendorong siswa agar mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang gejala-gejala yang ada, belajar bagaimana merumuskan pertanyaan-pertanyaan, dan belajar bertanya tentang bukti, dan penjelasan-penjelasan yang ada. Dalam pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk; (1) Menggali informasi baik administrasi maupun akademis; (2) Mengecek pemahaman siswa; (3) Membangkitkan respon kepada siswa; (4) Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa; (6) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa; (7) Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru; (8) Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa; dan (9) Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

4. Masyarakat belajar (learning community)

Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil pembelajaran diperoleh dari berbagi antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu dengan yang tidak tahu. Sehingga menimbulkan komunikasi dua arah, saling memberikan informasi satu dengan yang lain.

Dalam kelas CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan, yang cepat belajar didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada yang lain.

5. Pemodelan (modeling)

Pemodelan maksudnya adalah bahwa dalam suatu pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu harus ada model yang ditiru. Pemodelan akan lebih mengefektifkan pelaksanaan pembelajaran. Prinsip pembelajaran modeling merupakan proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja akan tetapi guru dapat memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Artinya dalam pembelajaran Kontekstual guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Misalkan siswa yang pernah menjadi juara dalam olimpiade matematika dapat disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan teman-temannya, dengan demikian siswa dianggap sebagai model. Modeling merupakan prinsip yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab dengan modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang abstrak.

6. Refleksi (reflection)

Refleksi adalah berpikir kembali tentang materi yang baru dipelajari, merenungkan lagi aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan memperbaharui pengetahuan yang telah dibentuknya atau menambah khazanah pengetahuannya.

Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan Kontekstual, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajari. ”Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya”.

7. Penilaian Sebenarnya ( Authentic Assessment)

Tahap terakhir dari pembelajaran Kontekstual ialah melakukan penilaian sebenarnya. Penilaian sebagai bagian integral dari pembelajaran memiliki fungsi yang amat menentukan untuk mendapatkan informasi kualitas proses dan hasil pembelajaran melalui penerapan CTL. Penilaian sebenarnya adalah penilaian yang dilakukan berkenaan dengan seluruh aktivitas pembelajaran yang meliputi proses dan produk belajar sehingga seluruh usaha siswa yang telah dilakukan mendapat penghargaan. Penilaian sebenarnya menilai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa. Penilaian yang dilakukan tidak hanya dilakukan guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain.

D. Penerapan Pembelajaran Kontekstual

Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstualJika menerapkan komponen utama pembelajaran efektif seperti yang diuraikan di muka. Oleh karena itu, seorang guru perlu mengetahui dan memahami penerapan pembelajaran konteks tual itu sendiri. Sagala (2009: 92) dan Riyanto (2010: 168-169) menguraikan langkah-langkah penerapan pembelajaran kontekstual sebagai berikut:

1) Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

2) Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua pokok bahasan.

3) Mengembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya.

4) Menciptakan masyarakat belajar.

5) Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

6) Melakukan refleksi di akhir pertemuan.

7) Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Di sisi lain, berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD), penerapan strategi pembelajaran kontekstual digambarkan sebagai berikut:

1) Relating, belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk membantu siswa agar yang dipelajari bermakna.

2) Experiencing, belajar adalah kegiatan “mengalami”, siswa berproses secara aktif dengan hal yang dipelajari dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji, berusaha menemukan dan menciptakan hal baru dari apa yang dipelajarinya.

3) Applying, belajar menekankan pada proses pendemonstrasian pengetahuan yang dimiliki dalam kenteks dan pemanfaatannya.

4) Cooperating, belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui belajar berkelompok, komunikasi interpersonal, atau hubungan intersubjektif; dan

5) Transferring, belajar menekankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau kontek sbaru (Suprijono, 2011: 84).

Selain lagkah – langkah penerapan pembelajaran kontekstual yang telah dikemukakan sebelumnya, strategi pembelajaran kontekstual juga perlu diintegrasikan dan diterapkan ke dalam setiap komponen strategi pembelajaran yang relevan. Komponen pokok strategi pembelajaran meliputi:

1) Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan (pre-instructional activities)

Kegiatan pendahuluan meliputi pemberitahuan tujuan, ruang lingkup materi, manfaat atau kegunaan mempelajari topik baik untuk keperluan belajar sekarang maupun belajar di kemudian hari, dan sebagainya. Untuk mengetahui kesiapan siswa, dalam kegiatan pendahuluan dapat diadakan diadakan prerequisite tes atau pretes.

2) Penyampaian Materi Pembelajaran (presenting instructional materials)

Dalam penerapan CTL, hendaknya dikurangi penyajian yang bersifat expository (ceramah, dikte) dan deduktif. Gunakan sebanyak mungkin teknik penyajian atau presentasi inquisitory, discovery, tanya jawab, inventory, induktif, penelitian mandiri, dan sebagainya. Agar penyajian menarik, perlu digunakan alat pemusat perhatian berupa media yang menarik seperti warna-warni, gambar, ilustrasi, penegas visual, dan sebagainya. Dalam penulisan bahan ajar, prinsip perulangan perlu diterapkan dengan jalan menyajikan tinjauan selintas awal, penyajian selengkapnya, dan rangkuman atau ringkasan pada akhir penyajian.

3) Memancing Kinerja Siswa (eliciting performance)

Memancing kinerja dimaksudkan untuk membantu siswa menguasai materi atau pencapaian tujuan pembelajaran. Bentuk kegiatan di sini berupa latihan (exercises), atau praktikum. Di sini siswa diharapkan dapat berlatih menerapkan konsep dan prinsip yang dipelajari dalam konteks dan situasi yang berbeda, bukan sekadar menghafal. Misalnya, setelah mempelajari teknik menulis surat penjanjian jual beli tanah, sementara pada tahap penyajian materi yang dipelajari adalah jual beli binatang ternak. Atau sebelum menyajikan materi mengarang, maka diajarkan terlebih dahulu cara menentukan tema dan membuat kerangka karangan.

4) Pemberian Umpan Balik (providing feedback)

Umpan balik adalah informasi yang diberikan kepada siswa mengenai kemajuan belajarnya. Sebagai contoh, setelah mengerjakan soal-soal latihan, siswa diberi kunci jawaban. Dengan mengetahui kunci jawaban, mereka akan mengetahui apakah jawabannya benar atau salah. Umpan balik yang baik adalah umpan balik lengkap. Jika salah diberitahu kesalahannya, mengapa salah, dan kemudian dibetulkan. Jika jawaban betul diberi konfirmasi agar mereka mantap bahwa jawabannya benar. Agar siswa dapat menemukan sendiri jawaban yang benar, ada baiknya umpan balik diberikan tidak secara langsung. Misalnya, “jawaban yang benar And abaca lagi pada halaman 34.”

5) Kegiatan Tindak Lanjut (follow-up activities)

Kegiatan tindak lanjut berupa mentransfer pengetahuan (transferring), pemberian pengayaan, dan remedial (remedial and enrichment). Dengan mampu mentransfer pengetahuan yang dipelajari, maka tingkat pencapaian belajar siswa akan sampai pada derajat yang tinggi (tingkat penemuan dan pencapaian strategi kognitif). Pengayaan diberikan kepada siswa yang telah mencapai prestasi sama atau melebihi dari yang ditargetkan. Remedial diberikan kepada siswa yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam mencapai target pembelajaran yang telah ditentukan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pembelajaran kotekstual ( CTL ) adalah pendekatan pembelajaran yang dilakukan pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat menghubungkan/ mengaitkan antara materi pembelajaran dengan kenyataan yang dia temukan dalam kehidupan sehari – hari, sehingga peserta didik dapat menerapkan materi pembelajaran yang dipelajarinya dalam kehidupannya.

Di dalam Depdiknas (dalam Nyimas, 2007:6-12) disebutkan bahwa ada tujuh prinsip pembelajaran CTL, yaitu: Kontrukstivisme (constructivism), Menemukan (inquiri), Bertanya (questioning), Masyarakat belajar (learning community), Pemodelan (modeling), Refleksi (reflection), Penilaian Sebenarnya ( Authentic Assessment)

Dalam penerapan pembelajaran kontekstual Sagala (2009: 92) dan Riyanto (2010: 168-169) menguraikan langkah-langkah penerapan pembelajaran kontekstual sebagai berikut:

1. Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua pokok bahasan.

3. Mengembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya.

4. Menciptakan masyarakat belajar.

5. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

6. Melakukan refleksi di akhir pertemuan.

7. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Di sisi lain, berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD), penerapan strategi pembelajaran kontekstual digambarkan sebagai berikut: Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring.

Komponen pokok strategi pembelajaran meliputi: (1) Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan (pre-instructional activities), (2) Penyampaian Materi Pembelajaran (presenting instructional materials), (3) Memancing Kinerja Siswa (eliciting performance),(4) Pemberian Umpan Balik (providing feedback),(5) Kegiatan Tindak Lanjut (follow-up activities).

B. Kritik dan Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis senantiasa dengan lapang dada menerima bimbingan dan arahan serta saran dan kritik yang sifatnya membangun demi perbaikan karya-karya berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ramayulis, Haji. ( 2005 ). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Mulia Kalam

Sanjaya, H.Wina. ( 2006 ). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana

http://pengertian-pengertian-info.blogspot.co.id/2016/03/pengertian-dan-prinsip-prinsip_19.html

http://minxbuntu.blogspot.co.id/2008/11/penerapan-konsep-dan-prinsip.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Desember 2016 in Tak Berkategori

 

Teknologi Kinerja dan Proses Belajar

Teknologi Kinerja dan proses belajar

MAKALAH

(Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok)

Mata Kuliah Sistem Informasi & Teknologi Pendidikan

Dosen : Bpk. Iwan Hermawan, S.Ag., M.Pd.I

DISUSUN OLEH KELOMPOK 5

Busyro (1341170501182)

Herlina (1341170501079)

Wida (1341170501002)

Ike Nurjanah (1341170501034)

Fitria Minsih Arpani (1341170501055)

Nia Ratnasari (1341170501008)

Tia Istianah (1341170501179)

Nenih Amalia (1341170501003)

Dewi Rosmawati (134117050114)

Bayu Sutrisna (1341170501065)

Fauzi Alvi Yasin (1341170501061)

Aep Saepudin (1341170501157)

Fakultas Agama Islam

Jurusan PAI- C semester VII

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

Jl. H.S. Ronggowaluyo – Teluk Jambe Karawang Telp. (0267) 400177

KATA PENGANTAR

Assalaamu’alaikum Wa rohmatulloh Wa baarokaatuh..

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah “Sistem Informasi & Teknologi Pendidikan”. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan Sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Kewirausahaan program studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Singaperbangsa Karawang. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Iwan Hermawan, S.Ag.,M.Pd.Iselaku dosen pembimbing mata kuliah Sistem Informasi & Teknologi Pendidikan dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

Akhirnya kami menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Karawang, 10 November 2016

Tim Penyusun,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

1. Latar Belakang. 1

2. Rumusan Masalah. 1

3. Tujuan Masalah. 2

BAB II PEMBAHASAN.. 3

1. Pengertian Teknologi Kinerja. 3

2. Ciri-ciri Teknologi kinerja. 4

3. Pengertian Proses Belajar 4

4. Peran Teknologi Kinerja Dalam Proses Belajar 6

BAB III PENUTUP. 10

4. Kesimpulan. 10

5. Saran. 10

DAFTAR PUSTAKA.. 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teknologi informasi dan komunikasi telah berkembang dengan sangat pesat sehingga sudah merupakan gejala dunia.Teknologi itu sudah menjadi bagian kebudayaan Indonesia sejak dikembangkannya sistem komunikasi satelit domestik.

Teknologi pembelajaran merupakan teknologi pertama yang menggunakan intervensi dalam penyampaian pembelajaran. Teknologi kinerja berintervensi juga terhadap pembelajaran. Yang mana apabila kinerja seorang pendidik menurun, maka seorang teknolog kinerja berusaha untuk memotivasi kembali kinerja tersebut sampai mendapat hasil yang maksimal.

Teknologi kinerja lebih pada peningkatan keterampilan dan mempertimbangkan pencapaian keberhasilan bekerja & organisasi. Sedangkan teknologi pendidikan lebih pada penekanan tingkat keterampilan dan kemampuan. Tata kerja teknologi kinerja lebih pada lembaga non instruksional (organisasi) sedangkan teknologi pendidikan lebih pada lembaga instruksional (sekolah). Contohnya menentukan strategi dan cara belajar agar tujuan utama bisa tercapai. Jadi pada intinya teknologi kinerja juga merupakan proses belajar, hanya saja yang membedakannya yaitu keberadaan atau lokasi proses belajar itu sendiri.

B. Rumusan Masalah

Untuk mempermudah dan agar terarah dengan jelas maka penyusunan makalah dibagi dalam beberapa rumusan, yaitu :

1. Apa Pengertian Teknologi Kinerja?

2. Apa Ciri-ciri Teknologi Kinerja?

3. Apa Pengertian Proses Belajar?

4. Apa Peran Teknologi Kinerja Dalam Proses Belajar

C. Tujuan Masalah

Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi & Teknologi Pendidikan. Selain itu juga tujuan menyusun makalah ini secara teori yaitu:

1. Untuk Mengtahui Apa Pengertian Teknologi Kinerja;

2. Untuk Mengetahui Apa Ciri-ciri Teknologi Kinerja;

3. Untuk Mengetahui Apa Pengertian Proses Belajar;

4. Untuk Mengetahui Apa Peran Teknologi Kinerja Dalam Proses Belajar

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Teknologi Kinerja

Stolovich & Keeps mengartikan teknologi kinerja sebagai suatu terapan atau praktek sebagai hasil evolusi dari pengalaman, refleksi, perumusan konsep para praktisi teknologi pendidikan untuk meningkatkan mutu kinerja seseorang di tempat ia bekerja. Sedangkan menurut Elvis Keith Lester mengemukakan Teknologi Kinerja adalah serangkaian metode, prosedur, dan strategi yang sistematis untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kinerja. Kegiatan tersebut dapat diaplikasikan baik untuk level individual, kelompok kecil, maupun organisasi besar. Bentuk-bentuk intervensi/solusinya dapat dilakukan dalam bentuk informasi, komunikasi, pengembangan organisasi, pelatihan, work/job design, manajemen kinerja, rekayasa lingkungan,feedback system, reward, perubahan budaya, electronic support system, dan lain-lain.

Teknologi kinerja menuntut studi yang sistematis dan objektif dari masalah-masalah kinerja. Teknologi Kinerja berusaha memperbaiki kinerja seseorang apabila kinerja tersebut sudah mulai menurun dan berusaha memotivasinya. Tugas Teknologi Kinerja yakni mencari permasalahan mengapa kinerja seseorang tersebut bisa menurun dan berusaha untuk mencari solusinya. Pada saat Teknologi Kinerja mendiagnosis, disitulah Teknolog Kinerja mencari permasalahan dengan menganalisis penyebab yang memungkinkan terjadinya hal tersebut. Setelah menganalisis kemudian memotivasi dan mengevaluasi.

2. Apa Ciri-ciri Teknologi Kinerja

Ketika kita tidak bisa melepaskan diri dari kompetisi, maka pengembangan kompetisi individu adalah salah satu target yang harus dibenahi, di latih, dan ditingkatkan sampai ambang batas maksimal. Hal ini menjadi penting karena pada era modern seperti saat ini jika sebuah organisasi tidak melakukan inovasi apapun dalam jangka waktu tertentu maka bisa dipastikan organisasi itu akan tertinggal. Permasalahan-permasalahan yang muncul saat ini semakin hari semakin rumit dan hrus dipecahkan dalam penanganan yang intensif dan terukur. Jika sebuah organisasi itu bisa menjawab semua persoalan-persoalan yang muncul maka tingkat kenyamanan dan motivasi kerja akan meningkat. Hal ini berarti orang/organisasi yang ada telah memahami dengan baik bagaimana memberdayakan manusia/karyawan/organisasi dengan baik dan menguasai teknologi kinerja dengan benar.

Pada makalah the population leadership program disebutkan bahwa cirri-ciri teknologi kinerja adalah sebagai berikut:

1. Sistematik, ini adalah standar yang harus dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesenjangan kinerja, melakukan observasi dengan karakteristik yang terukur, interpensi yang tepat, dan mengaplikasikan control yang baik.

2. Sistemik, tanpa sebuah evaluasi dari semua sisi sebuah system ini akan mengakibatkan kegagalan sehingga aspek-aspek atau variable yang mempengaruhinya harus di analisis sampai benar-benar siap untuk diimplementasikan.

3. Berdasarkan pada teori ilmiah dan bukti empiric. ketika kemungkinan itu ada untuk mencapai keinginan dari kinerja manusia melalui cara-cara yang sudah melalui tahapan-tahapan ilmiah.

4. Terbuka untuk semua cara, metode, dan media. Tidak di batasi oleh seperangkat sumber daya tertentu atau teknologi yang harus di terapkan, karena disisi lain selalu dilakukan mencari cara yang paling efektif dan efisien untuk memperoleh hasil dengan cara yang paling hemat biaya secara terus menerus.

5. Focus pada prestasi kinerja manusia dan system nilai. Selalu mencari bottom line dimana kinerja dianggap layak oleh kedua pelaku dan organisasi dimana dia beraktivitas.

3. Pengertian Proses Belajar

Proses dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”, menurut Chaplin (1972) proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan.

Dalam psikologi belajar proses berarti cara-cara/langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hail-hasil tertentu (Reber, 1988). Jadi proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, efektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa.

Menurut Jerome S. Bruner, salah seorang penentang teori S.R Bond dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga episode atau fase, antara lain :

· Fase informasi (tahap penerimaan materi)

· Fase transformasi (tahap pengubahan materi)

· Fase evaluasi (tahap penilaian materi)

Menurut Wittig (1981) dalam bukunya psychology of learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam 3 tahapan, antara lain :

· Actuation (tahap perolehan/penerimaan informasi)

· Storage (tahap penyimpanan informasi)

· Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)

Proses belajar tanpa memperhatikan siapa yang belajar, materi, lokasi, jenjang pendidikan atau usia pembelajar selalu dipengaruhi oleh persepsi peserta didik. Cara berfikir, minat atau potensi peserta didik dapat berkembang dengan baik jika memiliki persepsi yang memadai. Prawiradilaga (2007), menyatakan bahwa tujuan belajar sebenarnya adalah mengembangkan persepsi kemudian mewujudkannya menjadi kemampuan-kemampuan yang tercermin dalam cara berfikir (kognitif), bekerja motorik, serta bersikaf.

Persepsi dalam belajar berpengaruh terhadap:

1. Daya ingat, dengan memanfaatkan tanda-tanda visual, seperti symbol, warna dan bentuk yang diterapkan dalam penyampaian materi, maka materi ajar menjadi lebih mudah dicerna dan mengendap dalam pikiran seseorang.

2. Pembentukan konsep, pengembangan persepsi melalui pengaturan kedalaman materi, spasi, pengaturan laju belajar, dan pengamatan. Selain itu, proses pengolahan informasi berperan besar terhadap proses belajar. Isi dan struktur materi yang baik adalah materi yang menarik, mudah dicerna, sesuai dengan kebutuhan pembelajar. Pilihan yang cocok atas saluran komunikasi akan melengkapi kemudahan terjadinya proses belajar.

3. Pembinaan sikap, interaksi antara guru (pengajar) sebagai narasumber dengan pembelajar merupakan kunci dari pembinaan sikap. Pengajar dapat membina sikap pembelajar dengan berusaha menjadi panutan (role model) untuknya. Keberhasilan proses belajar dapat tercapai jika pengajar berhasil memberikan gambaran visual yang baik bagi pembelajar.

4. Peran Teknologi Kinerja Dalam Proses Belajar

Teknologi kinerja dalam proses belajar merupakan sesuatu yang memfokuskan pada penerapan kinerja seseorang (human) dalam sebuah organisasi belajar dan pengaturan kerjanya dan merupakan teknik atau metode untuk mengelola sistem pembelajaran secara efektif dan efisien. Untuk meningkatkan kinerja seorang guru dalam proses belajar, maka seorang pendidik, dalam hal ini guru harus mampu menganalisis, mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan, serta mengevaluasi secara sistemik dan sistematik dalam pengelolaan proses belajar.

Kinerja seseorang berpengaruh terhadap proses dalam belajar. Jika kinerja seseorang dalam proses belajar tidak maksimal maka hasil yang didapat pun tidak akan maksimal. Disinilah para teknolog kinerja berperan untuk mengidentifikasi permasalahan yang sedang terjadi. Hingga pada akhirnya didapat solusinya dan proses belajar kembali maksimal dengan hasil akhir yang maksimal pula. Dalam hal ini Teknologi Kinerja dan proses belajar erat kaitannya karena tujuannya sama yakni peningkatan terhadap hasil yang akan dicapai.

Dari perbandingan tersebut kita dapat mengetahui batasan-batasan teknologi kinerja. Seperti teknologi kinerja lebih mempertimbangkan pencapaian keberhasilan bekerja dan organisasi, sifatnya sistemik dan sistematik, memiliki tujuan untuk memenuhi permintaan peningkatan manajemen keahlian dan lain-lain.

Seorang guru sebagai teknolog pendidikan yang diaplikasikan dalam prakteknya dalam kinerja, haruslah mampu menerapkan langkah-langkah dalam mengelola proses belajar yang merupakan kawasan dalam pembelajaran:

· Desain

Teori sistem umum diterapkan melalui aplikasi model-model perancangan sistem pembelajaran, terutama dengan didukung logika deduktif, penilaian praktek dan pengalaman yang sukses. Hasil-hasil penelitian yang ada tentang desain sistematik dapat mendukung terhadap komponen-komponen proses perancangan.

Penelitian dan teori psikologi yang berkembang pun telah memberikan kontribusi terhadap perancangan, baik yang dikembangkan oleh kelompok aliran psikologi behaviorisme, maupun kognitivisme dan konstruktivisme.Selain itu, sumbangsih teori dan penelitian psikologi tentang motivasi juga berpengaruh terhadap proses perancangan.

Teori dan penelitian tentang Belajar-Mengajar memiliki pengaruh terhadap desain, baik dalam penentuan tugas-tugas belajar, penentuan tujuan pembelajaran, pemilihan metode dan media pembelajaran, penentuan materi pembelajaran dan sebagainya.

· Pengembangan

Proses pengembangan bergantung pada prosedur desain, akan tetapi prinsip-prinsip utamanya diturunkan dari hakekat komunikasi dan proses belajar. Pada kawasan pengembangan tidak hanya dipengaruhi oleh teori komunikasi semata, tetapi juga oleh teori pemprosesan visual-audial, berfikir visual, dan estetika.

Teori Shannon dan Weaver (1949) tentang proses penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima dengan menggunakan sarana sensorik. Berikutnya, pemikiran Belo tentang Model SMCR (Sender, Massage, Channel, Receiver), dan beberapa teori lainnya dalam bidang komunikasi secara umum telah menjadi landasan dalam proses pengembangan.

Teori dan penelitian dalam bidang komputer yang dikombinasikan dengan teori-teori lainnya, khususnya dengan teori pembelajaran telah memungkinkan lahirnya berbagai bentuk pembelajaran, seperti pembelajaran jarak jauh yang di dalamnya memerlukan prinsip-prinsip komunikasi umum, prinsip-prinsip desain grafis, prinsip-prinsip belajar interaktif dan teknologi elektronik yang canggih.

· Pemanfaatan

Pada mulanya gagasan tentang pemanfaatan media lebih berkonotasi pada aspek-aspek penggunaan, sehingga teori dan penelitian lebih dipusatkan pada hal-hal yang berkenaan dengan pemanfaatan media, terutama mengkaji tentang masalah-masalah seputar penggunaan media secara optimal, kemudian berkembang dengan mencakup pada upaya difusi, karena bagaimana pun disadari bahwa pemanfaatan teknologi sangat bergantung pada proses difusi. Rogers (1962) mengeksplorasi tentang gejala difusi inovasi.

Menurut Rogers, terdapat empat elemen utama yang beroperasi dalam proses difusi, yaitu : (1) bentuk atau karakter inovasi itu sendiri, (2) saluran komunikasi yang ada, (3) waktu, dan (4) sistem sosial yang berlaku. Studi Havelock (1971) tentang model pengembangan dan penyebaran dan interaksi sosial, lebih menekankan pada usaha-usaha menghubungkan para pemakai dengan sumber pengetahuan baru.Studi Lazarfield (1944) mengungkapkan tentang informasi yang sampai kepada para tokoh yang berpengaruh (opnion leaders), yang pada awalnya berupa transfer informasi sederhana, kemudian informasi itu diteruskan kepada para pengikutnya.

· Pengelolaan

Persoalan-persoalan pengelolaan dalam bidang Teknologi Pembelajaran muncul akibat pengaruh aliran perilaku dan berfikir sistematik behaviorisme serta aspek humanisme dalam komunikasi, motivasi, dan produktivitas. Metodologi dan teori pengelolaan telah banyak diaplikasikan pada berbagai bidang pengelolaan sumber dan proyek, termasuk pengelolaan perubahan. Sebagian besar prinsip-prinsip pengelolaan berasal dari manajemen/administrasi bisnis, seperti dalam pengelolaan proyek, pengelolaan sumber dan efektivitas pembiayaan.

Pengelolaan sumber telah lama menjadi masalah utama bagi guru dan petugas perpustakaan media karena keduanya diharapkan sebagai manajer sumber belajar. Sekarang ini konsep sumber lebih mengacu pada pengertian sumber belajar yang lebih luas dan bukan sekedar diartikan sebagai sarana audio-visual, melainkan mencakup pula barang cetak, lingkungan dan nara sumber (Eraut, 1989). Komponen terakhir dari masalah pengelolaan adalah pengelolaan informasi.Teori informasi melahirkan suatu landasan yang dapat digunakan untuk memahami dan memprogram komputer.Hal ini berhubungan dengan perancangan dan penggunaan jaringan komputer untuk transmisi, penerimaan dan penyimpanan informasi. Penerapan teori informasi ini jangkauannya semakin luas, dengan mencakup berbagai bidang kehidupan.

· Penilaian

Analisis, asesmen dan penilaian memainkan peranan penting dalam proses desain pembelajaran dan teknologi pembelajaran. Pada awalnya, penilaian sering dihubungkan dengan orientasi behavioristik. Tumbuhnya desain pembelajaran yang beorientasi pada tujuan (tercapainya perubahan perilaku), sehingga memunculkan pengujian dengan menggunakan acuan patokan. Hal ini terjadi pula dalam analisis kebutuhan atau analisis masalah.

Teknologi Pembelajaran yang dikelola dengan kinerja yang baik akan berpengaruh terhadap proses belajar, yaitu : (a) replikabilitas pembelajaran; (b) individualisasi; (c) efisiensi; (d) penggeneralisasian proses isi lintas; (e) perencanaan terinci; (f) analisis dan spesifikasi; (g) kekuatan visual; (h) pemanfaatan pembelajaran bermedia.

Kekuatan teknologi pembelajaran memang terletak pada teknologi itu sendiri. Kemajuan dalam teknologi akan banyak merubah hakekat praktek dalam bidang teknologi pembelajaran. Teknologi telah memberikan prospek munculnya stimulus yang realistik, memberikan akses terhadap sejumlah besar informasi dalam waktu yang cepat, menghubungkan informasi dan media dengan cepat, dan dapat menghilangkan jarak antara pengajar dan pembelajar (Hannfin, 1992). Perancang yang terampil dan kreatif dapat menghasilkan produk pembelajaran yang dapat memberikan keunggulan dalam : (a) mengintegrasikan media; (b) menyelenggarakan pengendalian atas pembelajar yang jumlahnya hampir tidak terbatas, dan bahkan (c) mendesain kembali untuk kemudian disesuaikan kebutuhan, latar belakang dan lingkungan kerja setiap individu.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Keterkaitan antara teknologi kinerja dan proses belajar yaitu memiliki persamaan yang lebih menekankan pada suatu hasil tertentu, bedanya teknologi kinerja memperhatikan hasil kerja, sedangkan proses belajar mementingkan pencapaian hasil belajar. Teknologi kinerja memiliki prosedur untuk bisa mencapai hasil seperti pemilihan progran, analisi kebuthan, sampai evaluasi, sama halnya dengan proses belajar ia juga mempunyai tata urutan yang terdiri dari masukan, kegiatan dan keluaran. Contohnya menentukan strategi dan cara belajar agar tujuan utama bisa tercapai.

Seorang guru sebagai teknologi pendidikan yang diaplikasikan dalam prakteknya dalam kinerja, haruslah mampu menerapkan langkah-langkah dalam mengelola proses belajar yang merupakan kawasan dalam pembelajaran, yaitu desain, Pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan Penilaian

B. Saran

Kami sadar bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, oleh karena itu kami sangat mengaharapkan saran dan kritik yang membangun agar kami bisa menjadikan saran tersebut sebagai pedoman dikesempatan mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

Miarso, Yusufhadi Prof.Dr. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Prenada media.

Prawiradilaga, Dewi Salma & Eveline Siregar. 2004.

Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta; Prenada Media. Stolovitch Harold D & Erica J.Keps. 1992.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Desember 2016 in Tak Berkategori

 

Alat Teknologi Pendidikan

Alat Teknologi Pendidikan

MAKALAH

(Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok)

Mata Kuliah Sistem Informasi & Teknologi Pendidikan

Dosen : Bpk. Iwan Hermawan, S.Ag., M.Pd.I

DISUSUN OLEH KELOMPOK 5

Busyro (1341170501182)

Herlina (1341170501079)

Wida (1341170501002)

Ike Nurjanah (1341170501034)

Fitria Minsih Arpani (1341170501055)

Nia Ratnasari (1341170501008)

Tia Istianah (1341170501179)

Nenih Amalia (1341170501003)

Dewi Rosmawati (134117050114)

Bayu Sutrisna (1341170501065)

Fauzi Alvi Yasin (1341170501061)

Wilda Fauziyah S (134117050 )

Fakultas Agama Islam

Jurusan PAI- C semester VII

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

Jl. H.S. Ronggowaluyo – Teluk Jambe Karawang Telp. (0267) 400177

Tahun 2015/2016

KATA PENGANTAR

Assalaamu’alaikum Wa rohmatulloh Wa baarokaatuh..

Syukur Alhamdulillah pemakalah ucapkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada pemakalah, sehingga dapat menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sistem Informasi & Teknologi Pendidikan”.

Dalam menyelesaikan makalah ini, pemakalah banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan yang sangat berarti dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan dan ketulusan hati pemakalah mengucapkan terima kasih kepada :

1. Orang tuayang pemakalah sayangi atas do’a dan dorongan yang diberikan, baik secara moril maupun materil.

2. Bapak H. Dadang Hamidi, S.Ag., M.Pd selaku Dosen Mata Kuliah Sistem Informasi & Teknologi Pendidikan.

3. Semua pihak yang telah membantu pemakalah yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Pemakalah menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, hal ini bukanlah suatu kesengajaan melainkan karena keterbatasan ilmu dan kemampuan penulis. Untuk itu penulis mengharapkan tanggapan, kritikan dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan pada penulisan yang akan datang.
Akhir kata tiada lain harapan pemakalah semoga makalah ini bermanfaat dan dapat diterima kebenarannya.

Wassalaamu’ alaikum Wa rohmatullohi Wa baarokaatuh..

Karawang, 28 September 2016

Tim Penyusun,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

A. Latar Belakang. 1

B. Rumusan Masalah. 1

C. Tujuan Masalah. 1

BAB II PEMBAHASAN.. 3

1. Pengertian Alat Teknologi Pendidikan. 3

2. Macam-Macam Alat Teknologi Pendidikan. 4

3. Kelebihan dan Kekurangan Alat Teknologi Pendidikan 6

BAB III PENUTUP. 9

A. Kesimpulan. 9

B. Saran. 9

DAFTAR PUSTAKA.. 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring dengan kemajuan teknologi yang mengglobal telah terpengaruh dalam
segala aspek kehidupan baik dibidang ekonomi, politik, kebudayaan seni dan bahkan
di dunia pendidikan. Dunia pendidikan harus mau mengadakan inovasi yang positif untuk kemajuan pendidikan dan sekolah. Tidak hanya inovasi dibidang kurikulum, sarana-prasarana, namum inovasi yang menyeluruh dengan menggunakan teknologi informasi dalam kegiatan pendidikan. Teknologi pendidikan dapat mengubah cara pendidikan yang
konvensional menjadi nonkonvensional. Pendidikan di sekolah perlu menggunakan serangkaian peralatan elektronik yang mampu bekerja lebih efektif dan efisien. Walaupun demikian, peran guru tetap dibutuhkan di kelas, ia sebagai desainer, motivator, pembimbing, dan sebagainya dan tentunya sebagai sosok individu harus tetap dihormati.

B. Rumusan Masalah

Untuk mempermudah dan agar terarah dengan jelas maka penyusunan makalah dibagi dalam beberapa rumusan, yaitu :

1. Apa Pengertian Alat Teknologi Pendidikan?

2. Apa Saja Macam-macam Alat Teknologi Pendidikan?

3. Apa Saja Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Alat Teknologi Pendidikan?

C. Tujuan Masalah

Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi & Teknologi Pendidikan. Selain itu juga tujuan menyusun makalah ini secara teori yaitu:

1. Untuk Mengtahui Pengertian Alat Teknologi Pendidikan;

2. Untuk Mengetahui Apa Saja Macam-macam Alat Teknologi Pendidikan;

3. Untuk Mengetahui Apa Saja Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Alat Teknologi Pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Alat Teknologi Pendidikan

Alat adalah perkakas, perabot, sesuatu yang digunakan untuk membantu mengerjakan sesuatu. Alat atau Perkakas (Inggris: tools) adalah benda yang digunakan untuk mempermudah.

Sedangkan teknologi pendidikan adalah suatu cara atau suatu metode yang digunakan oleh seorang pendidik dalam mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan baik menggunakan alat media atau disebut hardwaremaupun yang lebih penting sofeware, sehingga dalam mendidik peserta didik mereka dapat menerima materi yang diberikan oleh pendidik dengan rasa senang bukan terpaksa.Teknologi pendidikan dapat diartikan sebagai pegangan atau pelaksanaan pendidikan secara sistematis.

Dari pengertian teknologi di atas, maka penulis berpendapat bahwa teknologi pendidikan adalah suatu cara atau suatu metode yang digunakan oleh seorang pendidik dalam mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan dengan menggunakan alat bantu yang disebut “hardware” antara lain berupa TV, radio, video, tape, computer, dan lain-lain. Selain dari itu pendidikan juga menggunakan teknologi yang disebut dengan “software” antara lain menganalisis dan mendesain urutanatau langkah-langkah belajar berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan metode penyajian yang serasi dan penilaian keberhasilannya.

Dari pengertian alat dan teknologi di atas, maka pada makalah ini dapat merumuskan pengertian alat teknologi pendidikan adalah perkakas, perabot yang digunakan untuk mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan baik menggunakan alat media atau disebut hardware maupun yang lebih pentingsofeware, sehingga dalam mendidik peserta didik mereka dapat menerima materi yang diberikan oleh pendidik dengan rasa senang bukan terpaksa.

2. Macam-macam Alat Teknologi Pendidikan

Macam-macam teknologi pendidikan menurut Davies (1972) ada tiga yaitu Teknologi pendidikan satu atau perangkat keras(hardware), tenologi pendidikan dua atau perangkat lunak(software), dan teknologi pendidikan gabungan antar perangkat keras dan lunak.

a. Teknologi pendidikan satu atau perangkat keras (hardware)

yaitu mengarah pada perangkat keras seperti proyektor, laboratorium, komputer (CD ROM, LCD, TV, Video dan alat elektroniklainnya). Teknologi mekanik ini dapat mengotomatiskan proses belajar mengajar dengan alat yang memancarkan , memperkuat suara, mendistribusikan, merekam dan mereproduksi stimuli material yang menjangkau pendengar/ siswa dalam jumlah yang besar. Jadi teknologi satu ini efektif dan efisien

a. White board.

adalah salah satu teknologi dasar yang ada di sekolah yang membuat proses pendidikan menjadi menarik. Sangat mudah menggunakan alat ini, apalagi dikombinasikan dengan komputer dan proyektor. Papan tulis ini bisa dengan cepat berubah menjadi layar yang bisa dilihat oleh Peserta didik di kelas. Suara, objek dan gambar yang bergerak akan membuat pelajaran menjadi menarik dan mudah dipahami Peserta didik.

b. Proyektor.

Merupakan salah satu teknologi yang digunakan di kelas. Pendidik dapat mempresentasikan pelajaran menggunakan transparansi berwarna dan bermakna yang bisa menarik perhatian Peserta didik dengan segara. Menggunakan proyektor dan komputer sangat bermanfaat. Pendidik bisa menunjukkan kepada Peserta didik beberapa dokumentasi, film dan presentasi powerpoint.

c. FILM

Film pendidikan dianggap efektif untuk digunakan sebagai alat bantu pengajaran. Film yang diputar didepan siswa harus merupakan bagian integral dari kegiatan pendidikan

d. Recording

Istilah asingnya recording, yaitu alat audio yang tidak diikuti dengan visual. Melalui alat ini kita dapat mendengarkan cerita, pidato, music, sajak, pengajian, dst. Rekaman ini sering dilakukan oleh kelompok individu/siswa, misalnya merekan ceramah guru.

e. Sound Amplifier.

Sound ampliifier sangat berguna bila dipakai dalam kelas besar. Beberapa Peserta didik tidak bisa menangkap apa yang disampaikan oleh Pendidik karena mereka tidak bisa mendengar suara Pendidik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa suara yang jelas dan kuat, mampu menarik perhatian Peserta didik sehingga hasil pendidikan menjadi lebih baik.

f. Filmstrip dan Slide.

Filmstrip dan Slide diperlihatkan kepada Peserta didik-Peserta didik dengan menggunakan proyektor. Yang dilihat adalah gambar “mati” jadi bukan gambar yang hidup seperti film. Gambar itu dapat merupakan foto, tabel, diagram karton, reproduksi lukisan, dan sebagainya. Kecepatan memperlihatkan filmstrip atau slide dapat diatur oleh Pendidik dan bergantung kepada banyaknya komentar yang diberikannya tentang tiap gambar.

Dapat memproyeksikan pada layar apa yng tergambar atau tertulis pada lembaran plastik transparan. Guru dapat membuat tulisan, catatan atau gambar pada lembaran transparan itu seprti yang dilakukannya dalam papn tulis. Teknologi ini dapat digunakan tanpa menggelapkan ruangan.

Merupakan alat elektronik yang berfungsi menyebarkan gambar dan diikuti oleh suara tertentu.. pada dasarnya sama dengan gambar hidup bersuara.

b. Teknologi pendidikan dua atau perangkat lunak

Yaitu menekankan pentingnya bantuan kepada pengajaran. Terutama sekali dalam kurikulum, dalam pengembangan instruksional, metodologi pengajaran, dan evaluasi. Jadi teknologi pendidikan yang dimaksud disini adalah langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan. jadi alat pendidikan itu berupa usaha danperbuatan yang secara konkrit dan tegas dilaksanakan, guna menjaga agar proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan berhasil. Diantaranya:

a. Alat pendidikan preventif

Ialah alat pendidikan yang bersifat pencegahan. Tujuan alat pendidikan preventif itu diadakan jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik . Dan untuk menjaga agar hal-hal yang dapat menghambat atau mengganggu kelancaran dari proses pendidikan bisa dihindarkan.Misalnya, tata tertib, anjuran dan perintah, larangan dan paksaan.

b. Alat pendidikan represif

Disebut juga alat pendidikan kuratif atau alat pendidikan korektif. Alat pendidikan represif bertujuan untuk menyadarkan anak kembali kepada hal-hal yang benar, yang baik dan tertib. Alat pendidikan represif diadakan bila terjadi sesuatu perbuatan yang dianggap bertentangan dengan peraturan-peraturan, atau sesuatu perbuatan yang dianggap melanggar peraturan. Misalnya, pemberitahuan, teguran, hukuman dan ganjaran.

c. Teknologi pendidikan tiga/kombinasi dua teknologi

Teknologi pendidikan tiga, yaitu kombinasi pendekatan dua teknologi yaitu “peragkat keras“ dan perangkat lunak”. Teknologi pendidikan tiga, orientasi utamanya yaitu ke arah pendekatan sistem, dan sebagai alat meningkatkan manfaat dari apa yang ada di sekitar. Teknologi pendidikan tiga dapat dikatakan sebagai pendekatan pemecahan masalah, titik beratnya dalam orientasi diagnostik yang menarik. Dari ketiga macam tekonologi di atas dapat dikatakan bahwa teknologi pendidikan dalam konteks sebenarnya adalah tidak hanya mengacu pada perangkat keras saja seperti yang umum dijadikan sebagai persepsi yang benar, namum juga meliputi perangkat lunak dan perpaduan keduanya perangkat keras dan lunak

Jika dilihat dari jenisnya, teknologi pendidikan terbagi menjadi tiga yaitu teknologi auditif, visual, dan audio visual.

1. Teknnologi auditif , yaitu yang hanya mengandalkan suara saja seperi radio,kaset rekoorder, peringan hitam.media ini tidak cocok untuk orang tuli atau mempunyai kelainan pendengaran.

2. Teknnologi visual yaitu Teknnologi yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip, slides, foto, gambar atau lukisan, dan cetakan. Ada pula yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, dan film kartun.

3. Teknnologi audio visual yaitu Teknnologi yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunya kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua.

3. Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Alat Teknologi Pendidikan

Meskipun dalam penggunaannya jenis-jenis alat teknologi sangat dibutuhkan pendidik dan peserta didik dalam membantu kegiatan pendidikan, namun secara umum terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan dalam penggunaannya. Diantara kelebihan atau kegunaan alat teknologi pendidikan yaitu:

1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat veralistis (dalam bentuk kata-kata, tertulis atau lisan belaka)

2. Tekonologi pendidikan dapat meningkatkan fektifitas dan efisiensi proses belajarmengajar.

3. Mengatasi perbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti: Objek yang terlalu besar digantikan dengan realitas, gambar, filmbingkai, film atau model. – Obyek yang kecil dibantu dengan proyektor micro, film bingkai, film atau gambar. – Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan tame lapse atau high speed photografi, Kejadian atau peristiwa yang terjadi masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film,video, film bingkai, foto maupun secara verbal.

4. Dengan menggunakan teknologi pembeljaran secara tepat dan bervariasi sifat pasif anak didik dapat diatasi. Dalam hal ini media pendidikan berguna untuk: Menimbulkan kegairahan belajar. – Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan. – Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri sesuai kemampuan dan minat masing-masing.

5. Teknologi pendidikan sebagai mitra intelektual untuk mendukung pelajar

· Untuk membantu pelajar mengartikulasikan dan memprentasikan apa yang mereka ketahui.

· Teknologi pendidikan dapat meningkatkan mutu pendidikan/sekolah.

· Tekonologi pendidikan dapat meningkatkan fektifitas dan efisiensi proses belajar
mengajar.

· Teknologi pendidikan dapat mempermudah mencapai tujuan pendidikan

Adapun beberapa kelemahan dalam penggunaan teknologi dalam pendidikan antara lain:

a. Pihak Pendidik yang tidak bisa mengoperasikan/menguasai elektronika akan tertinggalkan oleh Peserta didik.

b. Teknologi pendidikan memerlukan SDM yang berkualitas untuk bisa mempercepat inovasi sekolah, sedangkan realita masih kurang.

c. Teknologi pendidikan baik itu hardware maupun soffware membutuhkan biaya yang mahal.

d. Keterbatasan sarana prasarana sekolah akan menghambat inovasi pendidikan.

e. Penggunaan teknologi pendidikan dalam bentuk Hardware memerlukan kontrol
yang tinggi dari guru atau orang tua terutama internet..

f. Siswa yang tidak mempunyai motivasi yang tinggi cenderung gagal.

Demikian beberapa kelebihan dan kekurangan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Kelebihan dan kekurangan yang disebutkan oleh pemakalah hanyalah sebagian, masih banyak kelebihan dan manfaat yang dihasilkan dengan menggunakan teknologi dalam pendidikan

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari pemaparan di atas adalah seagai berikut:

Alat teknologi pendidikan adalah perkakas, perabot yang digunakan untuk mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan baik menggunakan alat media atau disebut hardware maupun yang lebih penting sofeware, sehingga dalam mendidik peserta didik mereka dapat menerima materi yang diberikan oleh pendidik dengan rasa senang bukan terpaksa.

Macam-macam teknologi pendidikan menurut Davies (1972) ada tiga yaitu

a. Teknologi pendidikan satu atau perangkat keras (hardware) yaitu mengarah pada perangkat keras seperti proyektor, laboratorium, komputer (CD ROM, LCD, TV, Video dan alat elektroniklainnya).

b. Teknologi pendidikan dua atau perangkat lunak Yaitu menekankan pentingnya bantuan kepada pengajaran.

c. Teknologi pendidikan tiga, yaitu kombinasi pendekatan dua teknologi yaitu “peragkat keras“ dan perangkat lunak.

B. Saran

Kami sadar bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, oleh karena itu kami sangat mengaharapkan saran dan kritik yang membangun agar kami bisa menjadikan saran tersebut sebagai pedoman dikesempatan mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

Brian Prabaswara. Kamus Praktis Bahasa Indonesia.Jakarta: APRINDO.

Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2006. Strategi Belajar Mengajar .Jakarta: PT Rineka Cipta

Mohammad Arif AM. 2010. Teknologi pendidikan.Kediri: STAIN Kediri Press.

Nasution. 1994. Teknologi Pendidikan. Jakarta Bumi: Aksara

Sudarwan Danim. 1994. “Media Komunikasi Pendidikan” Jakarta: Bumi Aksara.

Arsad Azhar. 2008.Media Pendidikan.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Desember 2016 in Tak Berkategori