RSS

TEKNOLOGI KINERJA DAN PROSES BELAJAR

TEKNOLOGI KINERJA DAN PROSES BELAJAR

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan

27 Nopember 2016

Dosen Pengampu:

Iwan Hermawan, S.Ag.,M.Pd.I

Disusun Oleh : Kelompok 5

Dede Achmid 1341170501104

Irma Siti Mukrimah 1341170501031

Endah Nurul Hamidiyyah 1341170501053

Nunung Nurhalimah 1341170501072

Suciati Handyani 1341170501147

Azizah 1341170501106

Siti Maesyaroh 1341170501018

Fitria Ningsih 1341170501016

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG2016/2017

KATA PENGANTAR

Pertama-tama Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan pertolongan-Nya yang telah memberikan kemudahan pada kami sehingga penyusunan juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam penyususnan makalah ini, terutama kepada teman-teman mahasiswa, yang secara bersama-sama saling memberikan motivasi untuk tetap semangat.

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tidak terhingga, tidak lupa pula kami sampaikan kepada Bapak Iwan Hermawan S.Ag., M.Pd.I. selaku dosen pembimbing mata kuliah Model Pengembangan Lembaga Pendidikan, yang telah memberikan petunjuk dalam penyusunan makalah ini.

Akhir kata, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada segala pihak jika dalam makalah ini terdapat kekeliruan atau ada kata yang tidak berkenan dihati pembaca. Sebagai manusia biasa, penyusun tentu tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun penyusun sangat diharapkan untuk kesempurnaan penyusun selanjutnya.

Karawang, 27 Nopember 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

A. Latar Belakang. 1

B. Rumusan Masalah. 1

C. Tujuan. 2

BAB II PEMBAHASAN.. 3

A. Teknologi Kinerja. 3

1. Pengertian Teknologi Kinerja. 3

2. Ciri-ciri Teknologi Kinerja. 3

B. Proses Belajar 4

1.Pengertian Proses Belajar. 4

2. Persepsi dan Belajar. 5

C. Peran Teknoloi Kinerja dalam Proses Belajar 6

a. Desain. 7

b. Pengembangan. 7

c. Pemanfaatan. 8

d. Pengelolaan. 8

e. Penilaian. 9

BAB III. 10

PENUTUP. 10

A. Kesimpulan. 10

DAFTAR PUSTAKA.. iii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teknologi informasi dan komunikasi telah berkembang dengan sangat pesat sehingga sudah merupakan gejala dunia.Teknologi itu sudah menjadi bagian kebudayaan Indonesia sejak dikembangkannya sistem komunikasi satelit domestik.

Santika (2007), menyatakan bahwa pembelajaran dewasa ini menghadapi dua tantangan.Tantangan pertama, adanya perubahan persepsi tentang belajar itu sendiri dan tantangan kedua adanya teknologi informasi dan telekomunikasi yang memperlihatkan perkembangan yang sangat luar biasa.

Teknologi pembelajaran merupakan teknologi pertama yang menggunakan intervensi dalam penyampaian pembelajaran. Teknologi kinerja berintervensi juga terhadap pembelajaran. Yang mana apabila kinerja seorang pendidik menurun, maka seorang teknolog kinerja berusaha untuk memotivasi kembali kinerja tersebut sampai mendapat hasil yang maksimal.

Teknologi kinerja lebih pada peningkatan keterampilan dan mempertimbangkan pencapaian keberhasilan bekerja & organisasi. Sedangkan teknologi pendidikan lebih pada penekanan tingkat keterampilan dan kemampuan. Tata kerja teknologi kinerja lebih pada lembaga non instruksional (organisasi) sedangkan teknologi pendidikan lebih pada lembaga instruksional (sekolah). Contohnya menentukan strategi dan cara belajar agar tujuan utama bisa tercapai. Jadi pada intinya teknologi kinerja juga merupakan proses belajar, hanya saja yang membedakannya yaitu keberadaan atau lokasi proses belajar itu sendiri.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang di maksud dengan teknologi kinerja?

2. Apakah proses belajar itu?

3. Bagaimana peran teknologi kinerja dalam proses belajar?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan teknologi kinerja.

2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan proses belajar.

3. Untuk mengetahui peran teknologi kinerja dalam proses belajar.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Teknologi Kinerja

1. Pengertian Teknologi Kinerja

Stolovich & Keeps mengartikan teknologi kinerja sebagai suatu terapan atau praktek sebagai hasil evolusi dari pengalaman, refleksi, perumusan konsep para praktisi teknologi pendidikan untuk meningkatkan mutu kinerja seseorang di tempat ia bekerja. Sedangkan menurut Elvis Keith Lester mengemukakan Teknologi Kinerja adalah serangkaian metode, prosedur, dan strategi yang sistematis untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kinerja. Kegiatan tersebut dapat diaplikasikan baik untuk level individual, kelompok kecil, maupun organisasi besar. Bentuk-bentuk intervensi/solusinya dapat dilakukan dalam bentuk informasi, komunikasi, pengembangan organisasi, pelatihan, work/job design, manajemen kinerja, rekayasa lingkungan, feedback system, reward, perubahan budaya, electronic support system, dan lain-lain.

Teknologi kinerja menuntut studi yang sistematis dan objektif dari masalah-masalah kinerja. Teknologi Kinerja berusaha memperbaiki kinerja seseorang apabila kinerja tersebut sudah mulai menurun dan berusaha memotivasinya. Tugas Teknologi Kinerja yakni mencari permasalahan mengapa kinerja seseorang tersebut bisa menurun dan berusaha untuk mencari solusinya. Pada saat Teknologi Kinerja mendiagnosis, disitulah Teknolog Kinerja mencari permasalahan dengan menganalisis penyebab yang memungkinkan terjadinya hal tersebut. Setelah menganalisis kemudian memotivasi dan mengevaluasi.

2. Ciri-ciri Teknologi Kinerja

Ketika kita tidak bisa melepaskan diri dari kompetisi, maka pengembangan kompetisi individu adalah salah satu target yang harus dibenahi, di latih, dan ditingkatkan sampai ambang

batas maksimal. Hal ini menjadi penting karena pada era modern seperti saat ini jika sebuah organisasi tidak melakukan inovasi apapun dalam jangka waktu tertentu maka bisa dipastikan organisasi itu akan tertinggal. Permasalahan-permasalahan yang muncul saat ini semakin hari semakin rumit dan hrus dipecahkan dalam penanganan yang intensif dan terukur. Jika sebuah organisasi itu bisa menjawab semua persoalan-persoalan yang muncul maka tingkat kenyamanan dan motivasi kerja akan meningkat. Hal ini berarti orang/organisasi yang ada telah memahami dengan baik bagaimana memberdayakan manusia/karyawan/organisasi dengan baik dan menguasai teknologi kinerja dengan benar.

Pada makalah the population leadership program disebutkan bahwa cirri-ciri teknologi kinerja adalah sebagai berikut:

1) Sistematik, ini adalah standar yang harus dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesenjangan kinerja, melakukan observasi dengan karakteristik yang terukur, interpensi yang tepat, dan mengaplikasikan control yang baik.

2) Sistemik, tanpa sebuah evaluasi dari semua sisi sebuah system ini akan mengakibatkan kegagalan sehingga aspek-aspek atau variable yang mempengaruhinya harus di analisis sampai benar-benar siap untuk diimplementasikan.

3) Berdasarkan pada teori ilmiah dan bukti empiric. ketika kemungkinan itu ada untuk mencapai keinginan dari kinerja manusia melalui cara-cara yang sudah melalui tahapan-tahapan ilmiah.

4) Terbuka untuk semua cara, metode, dan media. Tidak di batasi oleh seperangkat sumber daya tertentu atau teknologi yang harus di terapkan, karena disisi lain selalu dilakukan mencari cara yang paling efektif dan efisien untuk memperoleh hasil dengan cara yang paling hemat biaya secara terus menerus.

5) Focus pada prestasi kinerja manusia dan system nilai. Selalu mencari bottom line dimana kinerja dianggap layak oleh kedua pelaku dan organisasi dimana dia beraktivitas.

B. Proses Belajar

1. Pengertian Proses Belajar

Proses dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”, menurut Chaplin (1972) proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan.

Dalam psikologi belajar proses berarti cara-cara/langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hail-hasil tertentu (Reber, 1988). Jadi proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, efektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa

Fase – Fase dalam Proses Belajar

Menurut Jerome S. Bruner, salah seorang penentang teori S.R Bond dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga episode atau fase, antara lain :

  • Fase informasi (tahap penerimaan materi)
  • Fase transformasi (tahap pengubahan materi)
  • Fase evaluasi (tahap penilaian materi)

Menurut Wittig (1981) dalam bukunya psychology of learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam 3 tahapan, antara lain :

· Actuation (tahap perolehan/penerimaan informasi)

· Storage (tahap penyimpanan informasi)

· Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)

2. Persepsi dan Belajar

Proses belajar tanpa memperhatikan siapa yang belajar, materi, lokasi, jenjang pendidikan atau usia pembelajar selalu dipengaruhi oleh persepsi peserta didik. Cara berfikir, minat atau potensi peserta didik dapat berkembang dengan baik jika memiliki persepsi yang memadai. Prawiradilaga (2007), menyatakan bahwa tujuan belajar sebenarnya adalah mengembangkan persepsi kemudian mewujudkannya menjadi kemampuan-kemampuan yang tercermin dalam cara berfikir (kognitif), bekerja motorik, serta bersikaf.

Persepsi dalam belajar berpengaruh terhadap:

1) Daya ingat, dengan memanfaatkan tanda-tanda visual, seperti symbol, warna dan bentuk yang diterapkan dalam penyampaian materi, maka materi ajar menjadi lebih mudah dicerna dan mengendap dalam pikiran seseorang.

2) Pembentukan konsep, pengembangan persepsi melalui pengaturan kedalaman materi, spasi, pengaturan laju belajar, dan pengamatan. Selain itu, proses pengolahan informasi berperan besar terhadap proses belajar. Isi dan struktur materi yang baik adalah materi yang menarik, mudah dicerna, sesuai dengan kebutuhan pembelajar. Pilihan yang cocok atas saluran komunikasi akan melengkapi kemudahan terjadinya proses belajar.

3) Pembinaan sikap, interaksi antara guru (pengajar) sebagai narasumber dengan pembelajar merupakan kunci dari pembinaan sikap. Pengajar dapat membina sikap pembelajar dengan berusaha menjadi panutan (role model) untuknya. Keberhasilan proses belajar dapat tercapai jika pengajar berhasil memberikan gambaran visual yang baik bagi pembelajar.

C. Peran Teknoloi Kinerja dalam Proses Belajar

Teknologi kinerja dalam proses belajar merupakan sesuatu yang memfokuskan pada penerapan kinerja seseorang (human) dalam sebuah organisasi belajar dan pengaturan kerjanya dan merupakan teknik atau metode untuk mengelola sistem pembelajaran secara efektif dan efisien. Untuk meningkatkan kinerja seorang guru dalam proses belajar, maka seorang pendidik, dalam hal ini guru harus mampu menganalisis, mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan, serta mengevaluasi secara sistemik dan sistematik dalam pengelolaan proses belajar. Kinerja seseorang berpengaruh terhadap proses dalam belajar. Jika kinerja seseorang dalam proses belajar tidak maksimal maka hasil yang didapat pun tidak akan maksimal. Disinilah para teknolog kinerja berperan untuk mengidentifikasi permasalahan yang sedang terjadi. Hingga pada akhirnya didapat solusinya dan proses belajar kembali maksimal dengan hasil akhir yang maksimal pula. Dalam hal ini Teknologi Kinerja dan proses belajar erat kaitannya karena tujuannya sama yakni peningkatan terhadap hasil yang akan dicapai.

Dari perbandingan tersebut kita dapat mengetahui batasan-batasan teknologi kinerja. Seperti teknologi kinerja lebih mempertimbangkan pencapaian keberhasilan bekerja dan organisasi, sifatnya sistemik dan sistematik, memiliki tujuan untuk memenuhi permintaan peningkatan manajemen keahlian dan lain-lain.

Seorang guru sebagai teknolog pendidikan yang diaplikasikan dalam prakteknya dalam kinerja, haruslah mampu menerapkan langkah-langkah dalam mengelola proses belajar yang merupakan kawasan dalam pembelajaran:

a. Desain

Teori sistem umum diterapkan melalui aplikasi model-model perancangan sistem pembelajaran, terutama dengan didukung logika deduktif, penilaian praktek dan pengalaman yang sukses. Hasil-hasil penelitian yang ada tentang desain sistematik dapat mendukung terhadap komponen-komponen proses perancangan. Penelitian dan teori psikologi yang berkembang pun telah memberikan kontribusi terhadap perancangan, baik yang dikembangkan oleh kelompok aliran psikologi behaviorisme, maupun kognitivisme dan konstruktivisme.Selain itu, sumbangsih teori dan penelitian psikologi tentang motivasi juga berpengaruh terhadap proses perancangan. Teori dan penelitian tentang Belajar-Mengajar memiliki pengaruh terhadap desain, baik dalam penentuan tugas-tugas belajar, penentuan tujuan pembelajaran, pemilihan metode dan media pembelajaran, penentuan materi pembelajaran dan sebagainya.

b. Pengembangan

Proses pengembangan bergantung pada prosedur desain, akan tetapi prinsip-prinsip utamanya diturunkan dari hakekat komunikasi dan proses belajar. Pada kawasan pengembangan tidak hanya dipengaruhi oleh teori komunikasi semata, tetapi juga oleh teori pemprosesan visual-audial, berfikir visual, dan estetika. Teori Shannon dan Weaver (1949) tentang proses penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima dengan menggunakan sarana sensorik. Berikutnya, pemikiran Belo tentang Model SMCR (Sender, Massage, Channel, Receiver), dan beberapa teori lainnya dalam bidang komunikasi secara umum telah menjadi landasan dalam proses pengembangan.

Teori dan penelitian dalam bidang komputer yang dikombinasikan dengan teori-teori lainnya, khususnya dengan teori pembelajaran telah memungkinkan lahirnya berbagai bentuk

pembelajaran, seperti pembelajaran jarak jauh yang di dalamnya memerlukan prinsip-prinsip komunikasi umum, prinsip-prinsip desain grafis, prinsip-prinsip belajar interaktif dan teknologi elektronik yang canggih.

c. Pemanfaatan

Pada mulanya gagasan tentang pemanfaatan media lebih berkonotasi pada aspek-aspek penggunaan, sehingga teori dan penelitian lebih dipusatkan pada hal-hal yang berkenaan dengan pemanfaatan media, terutama mengkaji tentang masalah-masalah seputar penggunaan media secara optimal, kemudian berkembang dengan mencakup pada upaya difusi, karena bagaimana pun disadari bahwa pemanfaatan teknologi sangat bergantung pada proses difusi. Rogers (1962) mengeksplorasi tentang gejala difusi inovasi. Menurut Rogers, terdapat empat elemen utama yang beroperasi dalam proses difusi, yaitu : (1) bentuk atau karakter inovasi itu sendiri, (2) saluran komunikasi yang ada, (3) waktu, dan (4) sistem sosial yang berlaku. Studi Havelock (1971) tentang model pengembangan dan penyebaran dan interaksi sosial, lebih menekankan pada usaha-usaha menghubungkan para pemakai dengan sumber pengetahuan baru.Studi Lazarfield (1944) mengungkapkan tentang informasi yang sampai kepada para tokoh yang berpengaruh (opnion leaders), yang pada awalnya berupa transfer informasi sederhana, kemudian informasi itu diteruskan kepada para pengikutnya.

d. Pengelolaan

Persoalan-persoalan pengelolaan dalam bidang Teknologi Pembelajaran muncul akibat pengaruh aliran perilaku dan berfikir sistematik behaviorisme serta aspek humanisme dalam komunikasi, motivasi, dan produktivitas. Metodologi dan teori pengelolaan telah banyak diaplikasikan pada berbagai bidang pengelolaan sumber dan proyek, termasuk pengelolaan perubahan. Sebagian besar prinsip-prinsip pengelolaan berasal dari manajemen/administrasi bisnis, seperti dalam pengelolaan proyek, pengelolaan sumber dan efektivitas pembiayaan.

Pengelolaan sumber telah lama menjadi masalah utama bagi guru dan petugas perpustakaan media karena keduanya diharapkan sebagai manajer sumber belajar. Sekarang ini konsep sumber lebih mengacu pada pengertian sumber belajar yang lebih luas dan bukan sekedar diartikan sebagai sarana audio-visual, melainkan mencakup pula barang cetak, lingkungan dan nara sumber (Eraut, 1989).

e. Penilaian

Analisis, asesmen dan penilaian memainkan peranan penting dalam proses desain pembelajaran dan teknologi pembelajaran. Pada awalnya, penilaian sering dihubungkan dengan orientasi behavioristik. Tumbuhnya desain pembelajaran yang beorientasi pada tujuan (tercapainya perubahan perilaku), sehingga memunculkan pengujian dengan menggunakan acuan patokan. Hal ini terjadi pula dalam analisis kebutuhan atau analisis masalah.

Teknologi Pembelajaran yang dikelola dengan kinerja yang baik akan berpengaruh terhadap proses belajar, yaitu : (a) replikabilitas pembelajaran; (b) individualisasi; (c) efisiensi; (d) penggeneralisasian proses isi lintas; (e) perencanaan terinci; (f) analisis dan spesifikasi; (g) kekuatan visual; (h) pemanfaatan pembelajaran bermedia.

Kekuatan teknologi pembelajaran memang terletak pada teknologi itu sendiri. Kemajuan dalam teknologi akan banyak merubah hakekat praktek dalam bidang teknologi pembelajaran. Teknologi telah memberikan prospek munculnya stimulus yang realistik, memberikan akses terhadap sejumlah besar informasi dalam waktu yang cepat, menghubungkan informasi dan media dengan cepat, dan dapat menghilangkan jarak antara pengajar dan pembelajar (Hannfin, 1992). Perancang yang terampil dan kreatif dapat menghasilkan produk pembelajaran yang dapat memberikan keunggulan dalam : (a) mengintegrasikan media; (b) menyelenggarakan pengendalian atas pembelajar yang jumlahnya hampir tidak terbatas, dan bahkan (c) mendesain kembali untuk kemudian disesuaikan kebutuhan, latar belakang dan lingkungan kerja setiap individu.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Keterkaitan antara teknologi kinerja dan proses belajar yaitu memiliki persamaan yang lebih menekankan pada suatu hasil tertentu, bedanya teknologi kinerja memperhatikan hasil kerja, sedangkan proses belajar mementingkan pencapaian hasil belajar. Teknologi kinerja memiliki prosedur untuk bisa mencapai hasil seperti pemilihan progran, analisi kebuthan, sampai evaluasi, sama halnya dengan proses belajar ia juga mempunyai tata urutan yang terdiri dari masukan, kegiatan dan keluaran. Contohnya menentukan strategi dan cara belajar agar tujuan utama bisa tercapai.

Seorang guru sebagai teknolog pendidikan yang diaplikasikan dalam prakteknya dalam kinerja, haruslah mampu menerapkan langkah-langkah dalam mengelola proses belajar yang merupakan kawasan dalam pembelajaran, yaitu desain, Pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan Penilaian

DAFTAR PUSTAKA

http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/25/teknologi-kinerja-dan-proses-belajar-481995.html
Miarso, Yusufhadi. 2007.Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Prawiradilaga,D.S, dan Siregar, Eveline.2007. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 November 2016 in Tak Berkategori

 

TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KOMIK

”TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KOMIK”

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi dan teknologi pendidikan

Dosen Iwan Hermawan., S.Ag,. M.Pd.I.

Disusun oleh : Kelompok IV

Semester VII

Rian Aprianto

(1341170501038)

· Sopiah

(1341170501150)

·Siti Marlianthi

(1341170501095)

Irma Lailatul M.

(1341170501063)

Dea Mauli H.

(1341170501177)

Beni Kurniawan

(1341170501135)

·Farijah Umami

(1341170501154)

FAKULTAS AGAMA ISLAM

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

KATA PENGANTAR

”Assalamu’alaikum Wr.Wb”

Puji dan Syukur penulis panjatkan sepenuhnya hanya kepada Allah SWT yang selalu memberikan nikmat kepada semua makhluk-Nya. Dan atas karunia-Nya itulah penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Meskipun banyak sekali suka dan duka dalam menyusun karya tulis ini, namun akhirnya penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kata sempurna dan penulis pun menyadari bahwa tanpa adanya karunia dari Allah SWT, penulis tidak akan dapat menyelesaikan karya tulis ini. Semoga karya tulis ini dapat bermanfa’at khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi setiap orang yang membaca dan mempelajarinya.

Tak lupa pula sholawat beserta salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada baginda Alam yakni Nabi besar Muhammad saw. Juga kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan juga kita selaku umatnya yang mudah-mudahan mendapatkan Syafa’atnya kelak di hari akhir nanti.

“Amin Yaa Robbal ‘aalamin”

Karawang, November 2016

Penulis,

( Kelompok IV )

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………….. i

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………………………. 1

1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………………………………………….. 1

1.3. Tujuan Masalah……………………………………………………………………………………… 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Teknologi Pendidikan dan komik…………………………………………………………….. 2

2.2. Komik …………………………………………………………………………………………………. 2

2.2.1. Komik sebagai Media Pembelajaran………………………………………………………. 3

2.2.2. Komik Pembelajaran Sebagai Penerapan Kawasan Teknologi

Pendidikan…………………………………………………………………………………………. 3

2.2.3.Kesesuaian Prinsip Komik Pembelajaran dengan Prinsip-Prinsip

Penerapan Teknologi Pendidikan…………………………………………………………… 4

2.2.4. Cara Mengoptimalkan Penerapan Teknologi Pendidikan pada Komik Pembelajaran 5

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………………… 6

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………….. 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam era globalisasi ini teknologi semakin canggih mau tidak mau kita semua harus mampu menggunakan dan mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana ketika kita melakukan sebuah teknologi dalam bidang pendidikan tentu saja akan banyak sekali berbagai cara , baik dari teknologi yang bersifat sederhana samapai teknologi yang bersifat kompleks, maka dari itu seorang guru benar-benar harus mampu mengggunakan kedua sifat teknologi tersebut karena semua sarana dan prasarana yang ada di sekolah kita belum tentu memiliki perlengkapan yang serba canggih atau bahkan masih mengandalkan teknologi yang bersifat konvensional.

Dalam dunia pendidikan banyak sekali cara, metode dan strategi dalam penyampaian sebuah materi kepada peserta didik. Baik dengan media Visual, Audio ataupun audio visual. Menggunakan audio bisa hanya berupa suara saja atau bisa dengan gambar, artinya sebuah materi dianalogikan ke dalam sebuah ilustrasi gambar yang bisa dikaitkan dengan materi yang hendak di sampaikan, dengan demikian siswa mampu memahami apa yang ingin disampaikan gurunya melalui media tersebut. Bagaimana dengan penyampaian materi yang hanya disampaikan melalui media gambar tanpa didukung adanya ilustrasi suara yang menjadi pengiring dari gambar tersebut, seperti contoh komik misalnya, komik hanya menyajikan sebuah ilustrasi yang berupa gambar dan kata-kata yang biasanya dikemas dalam bentuk cerita dengan model utama nya adalah kartun.

Dalam makalah ini akan dijelaskan bagaimana , peran komik dalam dunia pendidikan, karena yang sekilas kita tahu bahwa komik adalah sumber atau bahan cerita fiktif yang mungkin sebagaian besar itu hanya dongeng atau cerita belaka.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Apa Pengertian Teknologi Pendidikan dan komik ?

1.2.2. Bagaimana penerapan teknologi pendidikan dalam komik ?

1.3. Tujuan Masalah

1.3.1. Mengetahui pengertian teknologi pendidikan dan komik

1.3.2. Mengetahui penerapan teknologi pendidikan dalam komik.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Teknologi Pendidikan dan Komik

Teknologi Pendidikan merupakan kajian ilmu yang berupaya memfasilitasi seseorang agar terjadi belajar paa dirinya, untuk itu perlu adanya rekayasa dalam proses pembelajaran itu sendiri agar proses tersebut dapat berlangung efisien, efektif dan menarik, salah satu produk dari Teknologi Pendidikan adalah komik Pembelajaran.

Pendidikan diabad ke dua puluh meliputi lentera pertama proyektor slide, kemudian radio dan kemudian gambar hidup. Sedangkan abad 19 ke bawah sampai lima belas teknologi lebih diartikan papan tulis dan buku. Menurut Prof. Sutomo dan Drs. Sugito, M.Pd Teknologi Pendidikan adalah proses yang kompleks yang terpadu untuk menganalisis dan memecahkan masalah belajar manusia/ pendidikan. Menurut ”Mackenzie, dkk” (1976) Teknologi Pendidikan yaitu suatu usaha untuk mengembangkan alat untuk mencapai atau menemukan solusi permasalahan. Jadi Teknologi Pendidikan adalah segala usaha untuk memecahkan masalah pendidikan. Lebih detail dapat diuraikan bahwa:

– Teknologi pendidikan lebih dari seperangkat keras. Ia terdiri dari desain dan lingkungan yang melibatkan pelajar.

– Teknologi dapat juga terdiri dari segala teknik atau metode yang dapat dipercaya untuk melibatkan pelajaran, strategi belajar kognitif dan ketrampilan berfikir kritis.

– Belajar teknologi dapat dilingkungan manapun yang melibatkan siswa belajar secara aktif, konstruktif, autentik, dan kooperatif.

2.2. Komik

Komik dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan kepada para pembaca.

– Karakteristik Komik

Komik terdiri atas berbagai situasi cerita bersambung, sifatnya humor, sumbangan yang paling unit dan berarti dari kartun pada bidang politik dan sosial. Komik harus dikenal agar kekuatan pada medium ini bisa dihayati. Komik memusatkan perhatian disekitar rakyat.

Cerita-ceritanya mengenai diri pribadi, sehingga pembaca dapat segera mengidentifikasi dirinya melalui perasaan serta tindakan dari perwatakan-perwatakan tokoh utama, ceritanya ringkas dan menarik perhatian, terkadang dilengkapi dengan aksi.

– Penggunaan Komik dalam Pembelajaran

Sebagai ilustrasi, guru harus menggunakan motivasi potensial dari buku-buku komik, tetapi jangan berhenti hanya sampai disitu saja. Cerita bergambar harus dilengkapi oleh materi bacaan, film, gambar tetap (foto), model, percobaan serta berbagai kegiatan yang kreatif. Peranan pokok dari buku komik dalam pembelajaran adalah kemampuannya dalam menciptakan minat siswa. Penggunaan komik dalam pembelajaran sebaiknya dipadu dengan metode mengajar, sehingga komik akan dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif

2.2.1. Komik sebagai Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. Penggunaan media yang tepat akan meningkatkan hasil belajar dan membuat proses belajar menjadi menarik dan menyenangkan, dapat mengurangi kesalahpahaman dan ketidakjelasan.

Komik sebagai media berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam konteks ini pembelajaran menunjuk pada sebuah proses komunikasi antara pembelajar dan sumber belajar (dalam hal ini komik pembelajaran). Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secara jelas, runtut, dan menarik.

2.2.2. Komik Pembelajaran Sebagai Penerapan Kawasan Teknologi Pendidikan

Menjadikan komik sebagai media pembelajaran merupakan contoh penerapan Teknologi Pendidikan. Dalam hal ini termasuk ke dalam penerapan TP dari kawasan Desain dan Pengembangan, yaitu desain sumber untuk belajar dan pengembangan sumber untuk belajar. Dalam kawasan desain, komik sebagai media pembelajaran termasuk ke dalam sub kawasan Desain Pesan,yang meliputi proses perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan. Pesan atau materi ajar yang hendak disampaikan direkayasa sehingga dapat dirancang dalam bentuk komik pembelajaran.

Sedangkan dalam kawasan pengembangan, komik sebagai media pembelajaran termasuk ke dalam sub kawasan pengembangan teknologi cetak. Dalam kawasan ini hasil desain pesan diterjemahkan ke dalam bentuk fisik, yaitu dalam bentuk teks dan visual, melalui teknologi cetak sebagai buku komik pembelajaran.

Komik pembelajaran merupakan contoh dari penerapan Teknologi Pendidikan, sebab dengan adanya media komik sebagai sumber untuk belajar akan mempermudah pemelajar dalam proses pembelajaran, khususnya dalam merealisasi konsep-konsep pelajaran yang bersifat abstrak apabila disajikan dalam bentuk teori saja dan perlu adanya penyajian konkrit, seperti konsep-konsep pada ilmu sains. Dalam hal inilah komik pembelajaran berperan besar dalam menyajikan konsep-konsep abstrak tersebut ke dalam contoh yang konkrit dalam ke hidupan sehari-hari. Itulah yang menjadi inti penerapan dari teknologi pendidikan, yaitu untuk memecahkan permasalahan dalam proses belajar, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan efektif, efisien, dan menarik.

2.2.3. Kesesuaian Prinsip Komik Pembelajaran dengan Prinsip-Prinsip Penerapan Teknologi Pendidikan

Dalam mendesain dan mengembangkan komik pembelajaran, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, sehingga penerapan tersebut dapat dikatakan sesuai dengan prinsip penerapan teknologi pendidikan.

Hal-hal yang menjadi prinsip dalam sub kawasan desain pesan, yaitu perhatian, persepsi, dan daya serap pemelajar, yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi antara pengirim (pembuat komik pembelajaran) dan penerima (pemelajar yang membaca komik pembelajaran). Sehingga pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan tersebut, serta mempertimbangkan persepsi-persepsi yang mungkin timbul dalam benak penerima pesan. Pada dasarnya kawasan pengembangan dapat dijelaskan dengan adanya:

  • Pesan yang didorong oleh isi

Artinya isi dari komik pembelajaran yang dikembangkan harus sesuai dengan pesan (informasi) yang hendak disampaikan. Sehingga dengan pengembangan media belajar berupa komik pembelajaran dapat mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau kompetensi tertentu.

  • Strategi pembelajaran yang didorong oleh teori

Pengembangan komik pembelajaran dalam bentuk bahan teks cverbal dan visual sangat bergantung pada teori persepsi visual, teori membaca, dan teori belajar.

  • Manifestasi fisik dari teknologi – perangkat keras, perangkat lunak dan bahan pembelajaran.

Komik pembelajaran merupakan contoh dari spsesifikasi desain pesan yang diterjemahkan dan diproduksi dalam bentuk buku (bahan visual) melalui teknologi cetak. Pengkombinasian

antara bahan visual dan bahan teks dalam pengembangan komik pembelajaran sangat membantu dalam menciptakan kegiatan belajar yang diinginkan, yaitu belajar efektif.

Secara khusus komik sebagai penerapan dari teknologi cetak mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Teks dibaca secara linier, sedangkan visual direkam menurut ruang.

2. Memberikan komunikasi satu arah ynag bersifat pasif.

3. Berbentuk visual yang statis.

4. Pengembangannya bergantung pada prinsip-prinsip linguistik dan persepsi visual.

5. Berpusat pada pemelajar.

6. Informasi dapat diorganisasikan dan distruktur kembali oleh pemakai.

2.2.4. Cara Mengoptimalkan Penerapan Teknologi Pendidikan pada Komik Pembelajaran

Pesan pembelajaran yang disampaikan dalam komik pembelajaran dapat dikatakan baik apabila memenuhi beberapa syarat, yaitu :

1. Pesan pembelajaran harus meningkatkan motivasi pemelajar. Pemilihan isi dan gaya penyampaian pesan mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pemelajar.

2. Isi dan gaya penyampaian pesan juga harus merangsang pemelajar memproses apa yang dipelajari serta memberikan rangsangan belajar baru.

3. Pesan pembelajaran yang baik akan mengaktifkan pemelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong pemelajar untuk melakukan praktik-praktik dengan benar.

Menggunakan komik sebagai media pembelajaran juga harus mempertimbangkan evaluasi dari materi yang telah disampaikan, sehingga pembelajar dapat mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian (pemahaman) pemelajar terhadap materi yang disampaikan melalui komik pembelajaran.

BAB III

KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan

Komik sebagai media berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam konteks ini pembelajaran menunjuk pada sebuah proses komunikasi antara pemelajar dan sumber belajar (dalam hal ini komik pembelajaran). Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secarajelas, runtut, dan menarik.

Menjadikan komik sebagai media pembelajaran merupakan contoh penerapan Teknologi Pendidikan. Dalam hal ini termasuk ke dalam penerapan TP dari kawasan Desain dan Pengembangan, yaitu desain sumber untuk belajar dan pengembangan sumber untuk belajar.

Untuk mengoptimalkan pemberdayaan komik sebagai media pembelajaran, maka pesan pembelajaran yang hendak disampaikan harus memenuhi syarat-syarat berikut:

1. Pesan pembelajaran harus meningkatkan motivasi pemelajar.

2. Isi dan gaya penyampaian pesan juga harus merangsang pemelajar memproses apa yang dipelajari serta memberikan rangsangan belajar baru.

3. Pesan pembelajaran yang baik akan mengaktifkan pemelajar dalam memberikan umpan balik.

Selain itu harus dapat mempertimbangkan evaluasi yang sesuai dalam mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang dikemas dalam komik pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Seels, Barbara B.,dkk. Teknologi Pembelajaran.2004.Jakarta:UNJ

Prawiradilaga, Dewi S., dan Siregar, Eveline. Mozaik Teknologi Pendidikan.Jakarta:Kencana

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 November 2016 in Tak Berkategori

 

TEKNOLOGI KINERJA DAN PROSES BELAJAR

TEKNOLOGI KINERJA DAN PROSES BELAJAR

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas kelompok Mata Kuliah

Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan

Dosen : Iwan Hermawan, S. Ag., M. Pd. I.

Disusun oleh:

Semester VII B (pagi) / Kelompok 5

DESI JULIANTI 1341170501115

DINA SEPTIANI 1341170501033

ENENG RITA FITRIYANI 1341170501021

HAPID FADLUDIN KAMIL 1341170501028

IKEU PURNAMASARI 1341170501082

IRHAN FAUZIAH 1341170501073

UMI RATNA SUMINAR 1341170501101

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan dengan judul Teknologi Kinerja dan Proses Belajar.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Karawang, November 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

1.1 Latar Belakang Masalah. 1

1.2 Rumusan Masalah. 2

1.3 Tujuan Penulisan. 2

BAB II PEMBAHASAN.. 3

2.1 Teknologi Kinerja. 3

2.2 Proses Belajar 5

2.3 Hubungan Teknologi Kinerja dan Proses Belajar 7

BAB III PENUTUP. 9

3.1 Kesimpulan. 9

3.2 Saran. 9

DAFTAR PUSTAKA.. iii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Teknologi informasi dan komunikasi telah berkembang dengan sangat pesat sehingga sudah merupakan gejala dunia. Teknologi itu sudah menjadi bagian kebudayaan Indonesia sejak dikembangkannya sistem komunikasi satelit domestik. Pembelajaran dewasa ini menghadapi dua tantangan. Tantangan pertama, adanya perubahan persepsi tentang belajar itu sendiri dan tantangan kedua adanya teknologi informasi dan telekomunikasi yang memperlihatkan perkembangan yang sangat luar biasa. Konstruktivisme pada dasarnya telah menjawab tantangan yang pertama dengan meredefinisi belajar sebagai proses konstruktif di mana informasi diubah menjadi pengetahuan melalui proses interpretasi, korespondensi, representasi, dan elaborasi. Sementara itu, kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang begitu pesat yang menawarkan berbagai kemudaha-kemudahan baru dalam pembelajaran memungkinkan terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside-guidedself-guided dan dari knowledge-as-possesion menjadi knowledge-as-construction. Lebih dari itu, teknologi ternyata turut pula memainkan peran penting dalam memperbarui konsepsi pembelajaran yang semula fokus pada pembelajaran sebagai semata-mata suatu penyajian berbagai pengetahuan menjadi pembelajaran sebagai suatu bimbingan agar mampu melakukan eksplorasi sosial-budaya yang kaya akan pengetahuan, menjadi para pendidik (guru) sebagai potensi sumber daya manusia, harus mempunyai komitmen dalam melaksanakan tugas profesionalnya yang utama yaitu terselenggaranya proses pembelajaran bagi setiap orang, dengan dikembangkan dan digunakannya berbagai sumber belajar selaras dengan karakteristik masing-masing pebelajar (leaners) serta perkembangan lingkungan. Karena lingkungan itu senantiasa berubah, maka pendidik harus senantiasa mengkuti perkembangan atau perubahan itu, dan akan selalu dituntut untuk mengembangkan diri dalam perubahan lingkungan dan zaman, termasuk perkembangan ilmu dan teknologi.

Untuk menciptakan suatu proses pembelajaran yang efektif dan efisien dan mempunyai daya tarik, maka seorang pendidik haruslah mampu merancang, menerapkan dan mengelola teknologi dalam pembelajaran. Teknologi pembelajaran dapat dilihat sebagai bidang yang mempunyai perhatian khusus terhadap aplikasi, meskipun prinsip dan prosedurnya berdasarkan teori. Prawiradilaga (2007) menyatakan bahwa kawasan bidang ini meliputi pengaruh nilai, penelitian, dan pengalaman praktisi, khususnya pengalaman dengan teknologi yang digunakan dalam pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa pengertian teknologi kinerja?

1.2.2 Apa pengertian proser belajar?

1.2.3 Apa hubungan teknologi kinerja dan proses belajar?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Mengetahui pengertian teknologi kinerja.

1.3.2 Mengetahui pengertian proses belajar.

1.3.3 Mengetahui hubungan teknologi kinerja dan proses belajar.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teknologi Kinerja

Teknologi adalah penerapan dari ilmu dalam bidang-bidang tertentu untuk membantu memecahkan masalah. Teknologi juga dapat diartikan sebagai suatu alat ataupun komponen-komponen yang dapat mempermudah segala aktifitas manusia. Namun dalam hal ini juga teknologi tidak selalu berupa alat, namun dapat berupa berupa gagasan inovatif, cara, dan lain-lain yang dapat memberikan keefisien dan keefektifan bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Teknologi tidak mengandung nilai dalam dirinya sendiri, semuanya bergantung kepada manusia yang merancangnya, memanfaatkannya dan menerimanya.

Sedangkan Teknologi Kinerja adalah suatu terapan dari teknologi pendidikan untuk membantu memecahkan masalah-masalah terkait dengan kinerja seseorang sehingga dapat meningktakan mutu kerja dimana ia bekerja. Terkait dengan itu, Stolovich & keeps mendefinisikan teknologi kinerja sebagai suatu terapan/ praktek sebagai hasil evolusi dari pengalaman, refleksi, perumusan konsep para praktisi teknologi pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu kerja seseorang ditempat ia bekerja.

Tugas Teknologi Kinerja yakni mencari permasalahan mengapa kinerja seseorang tersebut bisa menurun dan berusaha untuk mencari solusinya. Teknologi Kinerja akan mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi, baik masalah perilaku yang terjadi dalam individu maupun organisasi, kemudian dianalisis, pemecahan masalah hingga memotivasi dan evaluasi. Lebih jelas lagi dikemukakan Widyo Nugoro bahwa teknologi kinerja adalah serangkaian metode, prosedur dan strategi yang sistematis untuk memecahkan masalah atau menyadari peluang/kesempatan yang berkaitan dengan kinerja orang-orang dan organisasi. Kegiatan tersebut dapat di aplikasikan baik untuk level individual, kelompok kecil, tim, atau organisasi besar. Teknologi kinerja lebih pada peningkatan keterampilan dan mempertimbangkan pencapaian keberhasilan bekerja dan organisasi.

Sedangkan Gilbert menyamakan kinerja dengan prestasi-prestasi yang dicapai. Sehingga teknologi kinerja lebih mempertimbangkan pencapaian keberhasilan bekerja dan organisasi, sifatnya sistemik dan sistematik, memiliki tujuan untuk memenuhi permintaan, peningkatan, management keahlian dll.

A. Ciri-ciri Teknologi Kinerja

Ciri atau sifat teknologi kinerja menurut Stolovich & Keeps, yaitu :

a. Sistematik, yaitu teknologi kinerja adalah suatu pengaturan, keras, dan dilaksanakan dalam cara-cara yang metodik. Cara-cara itu ada dari ijin para praktisi untuk mengidentifikasikan celah kinerja (masalah dan kesempatan). Penggolongan ini berdasarkan pengukuran dan langkah-langkah yang terlihat, menganalisis masalah, memilih intervensi-intervensi yang pantas, memakainya dalam suatu cara yang diawasi dan diterima.

b. Sistemik, yaitu memahami pengenalan celah-celah kinerja seseorang sebagai elemen sebuah sistem. Yang mana membalik keterkaitan elemen dengan sistem yang lainnya. Teknologi kinerja dapat menolak atau menerima sebab-sebab yang nyata dan solusi, juga tanpa memeriksa segi-segi lainnya dari sistem-sistem. Kinerja adalah melihat sebagai hasil-hasil dari jumlah yang dapat mempengaruhi faktor tak tetap yaitu pilihan, pelatihan, umpan balik, sumber penghasilan dan pengaturan yang mendukung. Dari semuanya yang mana harus dianalisa sebelum tepat biaya intervensi yang efektis dan efisien adalah dipilih dan disebarkan.

c. Terbuka untuk semua makna, metode, dan media, yaitu teknologi kinerja tidak terbatas dan kumpulan dari sumber penghasilan atau teknologi yang dapat dipakai. Teknologi adalah sesuatu yang dengan tetapnya untuk mencari cara yang paling efektif dan efisien untuk memperoleh hasil-hasil pada biaya yang paling sedikit.

B. Ruang Lingkup Teknologi Kinerja

Bidang cakupan Teknologi Kinerja tidak hanya di dalam pembelajaran saja (hanya mencakup peserta didik dalam suatu pembelajaran) namun di berbagai bidang. Misal di suatu perusahaan dan bisa juga pada bagian si pendidik itu sendiri. Teknologi Kinerja terdapat pada individu, tim kecil maupun organisasi (lembaga). Tujuan utama dari Teknologi Kinerja pada suatu lembaga menurut Stolovich & Keeps adalah memperkenalkan teknologi kinerja sebagai arti dari pemakaian penerapan dimana tujuannya adalah memberikan penghargaan kinerja yang bernilai kepada seseorang di tempat ia bekerja. Teknologi Kinerja diperkenalkan sebagai bidang aplikasi yang signifikan yang mengarah kepada nilai prestasi kinerja di tempat kerja. Teknologi kinerja bersifat sistemik, sistematis, berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang telah teruji, dapat menggunakan berbagai cara, metode dan media serta fokus pada hasil kinerja seseorang dan sistem nilai.

2.2 Proses Belajar

Proses dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan” menurut Chaplin (1972) proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan.

Dalam psikologi belajar proses berarti cara-cara/langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hail-hasil tertentu (Reber, 1988). Jadi proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, efektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa.

Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Proses belajar yang menaktualisasikan ranah-ranah tersebut tertuju pada bahan belajar tertentu. Dari segi guru proses belajar tersebut dapat diamati secara tidak langsung. Artinya proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru. Proses belajar tersebut tampak lewat prilaku siswa mempelajari bahan belajar.

Proses pembelajaran merupakan proses individu mengubah prilaku dalam upaya memenuhi kebutuhannya. Hal ini mengandung arti bahwa individu akan melakukan kegiatan belajar apabila ia menghadapi situasi kebutuhan. Pada dasarnya tidak semua kebutuhan mengharuskan belajar. Ada kebutuhan yang dapat dipenuhi dengan insting , ada juga kebutuhan yang dapat dipenuhi dengan kebiasaan. Pada saat individu menghadapi situasi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dengan insting atau kebiasaan, maka individu harus mengubah prilakunya. Dalam keadaan ini individu harus melakukan proses pembelajaran untuk memperoleh prilaku yang baru agar dapat memenuhi kebutuhannya

A. Fase Proses Belajar

Menurut Jerome S Bruner, proses pembelajaran siswa menempuh tiga episode atau fase, antara lain :

  • Fase informasi (tahap penerimaan materi)
  • Fase transformasi (tahap pengubahan materi)
  • Fase evaluasi (tahap penilaian materi)

Menurut Wittig (1981) dalam bukunya psychology of learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam 3 tahapan, antara lain :

  • Actuation (tahap perolehan/penerimaan informasi)
  • Storage (tahap penyimpanan informasi)
  • Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)

Fase- fase dalam proses belajar

1. Mendengarkan

Adalah salah satu aktivitas belajar, setiap orang belajar di sesekolah pasti ada aktivitas mendengarkan. Ketika seorang guru menggunakan metode cerama, maka setiap siswa atau mahasiswa di haruskan m,endengarkan apa yang guru (dosen) sampaikan.

2. Memandang

Yang di maksud di sini adalah mengarahkan suatu penglihatan ke suatu objek. Di kelas, seorang pelajar memandang papan tumlis yang berisikan tulisan yang baru saja di guru tulis, tulisan yang pelajar pandang itu menimbulkan kesan dan selanjutnya tersimpan dalam otak.

3. Meraba, Membau, dan Mencicipi / Mencecap

Adalah indera manusia yang dapat di jadikan sebagai alat untuk kepentingan belajar, artinya aktivitas meraba, membau. Dan mencecap dapat memberikan kesempatan bagi orang untuik belajar. Tentu saja aktivitasnya harus di sadari oleh suatu tujuan.

4. Menulis atau mencatat

Catatan sangat berguna untuk menampung sejumlah informasi, yang tidahanya bersifat fakta-fakta, melainkan juga terdiri atas materi hasil dari bahan bacaan.

5. Membaca

Aktivitas membaca adalah aktivitas yang paling banyak di lakukan selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi. Kalau belajar adalah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka membaca salah jalan menuju pintu ilmu pengetahuan, maka membaca adalah jalan menuju pintu ilmu pengetahuan ini berarti untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tidak ada cara lain yang harus di lakukan kecuali memperbanyak membaca. Kalau begitu membaca identik dengan mencari ilmu pengetahuan agar menjadi cerdas dan mengabaikan berarti kebodohan.

6. Mencari ikhtisar atau ringkasan dan menggaris bawahi

7. Mengamati table-table, diagram- diagram dan bagan-bagan

8. Menyusun paper atau kertas kerja

9. Mengingat

10. Berfikir

11. Latihan atau praktek

2.3 Hubungan Teknologi Kinerja dan Proses Belajar

Teknologi pembelajaran merupakan teknologi pertama yang menggunakan intervensi dalam penyampaian pembelajaran. Teknologi kinerja berintervensi juga terhadap pembelajaran. Yang mana apabila kinerja seorang pendidik menurun, maka seorang teknolog kinerja berusaha untuk memotivasi kembali kinerja tersebut sampai mendapat hasil yang maksimal. Kinerja seseorang berpengaruh terhadap proses dalam belajar. Jika kinerja seseorang dalam proses belajar tidak maksimal maka hasil yang didapat pun tidak akan maksimal. Disinilah para teknolog kinerja berperan untuk mengidentifikasi permasalahan yang sedang terjadi. Hingga pada akhirnya didapat solusinya dan proses belajar kembali maksimal dengan hasil akhir yang maksimal pula.

Keterkaitan antara teknologi kinerja dan proses belajar yaitu memiliki persamaan yang lebih menekankan pada suatu hasil tertentu, bedanya teknologi kinerja memperhatikan hasil kerja, sedangkan proses belajar mementingkan pencapaian hasil belajar. Teknologi kinerja memiliki prosedur untuk bisa mencapai hasil seperti pemilihan program, analisis kebutuhan, sampai evaluasi, sama halnya dengan proses belajar ia juga mempunyai tata urutan yang terdiri dari masukan, kegiatan dan keluaran. Contohnya menentukan strategi dan cara belajar agar tujuan utama bias tercapai. Jadi pada intinya teknologi kinerja juga merupakan proses belajar, hanya saja yang membedakannya yaitu keberadaan atau lokasi proses belajar itu sendiri.

Dari perbandingan tersebut kita dapat mengetahui batasan-batasan teknologi kinerja. Seperti teknologi kinerja lebih mempertimbangkan pencapaian keberhasilan bekerja dan organisasi, sifatnya sistemik dan sistematik, memiliki tujuan untuk memenuhi permintaan peningkatan manajemen keahlian dan lain-lain. Dari batasan-batasan tersebut kita dapat membedakan teknologi kinerja dan teknologi pendidikan, di lihat dari keahlian dan tata kerjanya. Teknologi kinerja lebih pada peningkatan keterampilan dan mempertimbangkan pencapaian keberhasilan bekerja & organisasi. Sedangkan teknologi pendidikan lebih pada penekanan tingkat keterampilan dan kemampuan. Tata kerja teknologi kinerja lebih pada lembaga non instruksional (organisasi) sedangkan teknologi pendidikan lebih pada lembaga instruksional (sekolah). Contohnya menentukan strategi dan cara belajar agar tujuan utama bisa tercapai. Jadi pada intinya teknologi kinerja juga merupakan proses belajar, hanya saja yang membedakannya yaitu keberadaan atau lokasi proses belajar itu sendiri.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Teknologi Kinerja adalah suatu terapan dari teknologi pendidikan untuk membantu memecahkan masalah-masalah terkait dengan kinerja seseorang sehingga dapat meningktakan mutu kerja dimana ia bekerja. Sedangkan proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, efektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa.

Keterkaitan antara teknologi kinerja dan proses belajar yaitu memiliki persamaan yang lebih menekankan pada suatu hasil tertentu, bedanya teknologi kinerja memperhatikan hasil kerja, sedangkan proses belajar mementingkan pencapaian hasil belajar. Teknologi kinerja memiliki prosedur untuk bisa mencapai hasil seperti pemilihan program, analisis kebutuhan, sampai evaluasi, sama halnya dengan proses belajar ia juga mempunyai tata urutan yang terdiri dari masukan, kegiatan dan keluaran.

3.2 Saran

Seorang pendidik tentunya harus memiliki kemampuan bagaimana menyesuaikan dan menerapkan teknologi kinerja dalam proses pembelajaran. Sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan dapat tercapai dengan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

· Miarso, Yusufhadi. 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

· Hamalik, Oemar, 2008, Proses Belajar Mengajar, Bandung: .Bumi aksara

· Prawiradilaga, Dewi Salma dan Eveline Siregar. 2004. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

· Seels, Barbara B. dan Rita C. Richey. 1994. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya. Jakarta: Unit Penerbitan Universitas Negeri Jakarta.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 November 2016 in Tak Berkategori

 

TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KOMIK

MAKALAH
TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KOMIK
Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu:
IWAN HERMAWAN. S, Pd I M, Pd I
Disusun Oleh:
Enjay Setiawan : 1341170501078
Intan Permatasari : 1341170501142
Yunita Yuandini : 1341170501140
Santi : 1341170501043
Tunih Nurhayati : 1341170501102
Fitria Rahmat : 1341170501013
Iin Inayatullah : 1341170501025

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG
FAKULTAS AGAMA ISLAM
TahunAjaran 2014/2015
Jl. HS Ronggowaluyo Ds. Telukjambe Kec.Telukjambe Timur – Karawang 41373 KATA PENGANTAR

Pertama-tama Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan pertolongan-Nya yang telah memberikan kemudahan pada kami sehingga penyusunan juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam penyususnan makalah ini, terutama kepada teman-teman mahasiswa, yang secara bersama-sama saling memberikan motivasi untuk tetap semangat. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tidak terhingga, tidak lupa pula kami sampaikan kepada Bapak selaku dosen pengampu mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan, yang telah memberikan petunjuk dalam penyusunan makalah ini.
Akhir kata, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada segala pihak jika dalam makalah ini terdapat kekeliruan atau ada kata yang tidak berkenan dihati pembaca. Sebagai manusia biasa, penyusun tentu tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun penyusun sangat diharapkan untuk kesempurnaan penyusun selanjutnya.

Karawang, 18 November 2016

Penyusun.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTARi
DAFTAR ISIii
BAB I PENDAHULUAN1
A. Latar Belakang1
B. Rumusan Masalah2
C. Tujuan Pembahasan2
BAB II PEMBAHASAN3
A. Pengertian Teknologi Pendidikan3
B. Pengertian Komik3
C. Teknologi Pendidikan Dalam Komik4
D. Cara Merancang Teknologi Pendidikan Dalam Komik7
BAB III PENUTUP11
A. Kesimpulan11
DAFTAR PUSTAKAiii

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Teknologi pendidikan adalah salah satu pendekatan dalam teknologi komunikasi pendidikan. Teknologi pendidikan disini diartikan sebagai cara sistematis dalam merancang, melaksanakan dan menilai keseluruhan proses belajar-mengajar dalam kaitannya dengan tujuan khusus yang telah ditetapkan. Ini didasarkan pada hasil penelitian proses belajar dan komunikasi, serta dengan memanfaatkan berbagai sumber, baik yang berupa manusia maupun bukan, untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pendidikan.
Teknologi pendidikan erat kaitannya dengan proses pembelajaran yang di lakukan oleh seorang pendidik ketika memberikan materi pelajaran kepada peserta didiknya. Misalnya metode, media, dan strategi pembelajaran. bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. Penggunaan media yang tepat akan meningkatkan hasil belajar dan membuat proses belajar menjadi menarik dan menyenangkan, dapat mengurangi kesalahpahaman dan ketidakjelasan.
Komik sebagai media berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam konteks ini pembelajaran menunjuk pada sebuah proses komunikasi antara pemelajar dan sumber belajar (dalam hal ini komik pembelajaran). Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secarajelas, runtut, dan menarik.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan teknologi pendidikan ?
2. Apa yang dimaksud dengan komik?
3. Apa yang di maksud dengan teknologi pendidikan dalam komik ?
4. Bagaimanakah cara merancang teknologi pendidikan dalam komik ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa itu teknologi pendidikan
2. Untuk mengetahui apa itu komik
3. Untuk mengetahui apa itu teknologi pendidikan dalam komik
4. Untuk mengetahui bagaimana cara merancang teknologi pendidikan dalam komik

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teknologi Pendidikan
Secara etimologis, akar kata teknologi adalah techne yang berarti serangkaian metode rasional yang berkaitan denganpembuatan sebuah objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang metode dan seni. Secara umum, teknologi dapat di definisikan sebagai entitas, benda maupun tak benda yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai nilai atau tujuan tertentu.
Menurut Donald P. Ely, definisi teknologi pendidikan ialah suatu bidang yang mencakup berbagai fasilitas belajar melalui identifikasi yang sistematis, pengembangan, pengorganisasian, dan penggunaan sumber-sumber yang maksimal dan pengolaan prosesnya. Teknologi pendidikan bukan semacam audiovisual aids atau alat-alat semacam komputer, radio, kaset, dan sebagainya.
B. Pengertian Komik
Komik adalah sebuah media yang menyampaikan cerita dengan visualisasi atau ilustrasi gambar, dengan kata lain komik adalah cerita bergambar, dimana gambar berfungsi untuk pendeskripsian cerita agar si pembaca mudah memahami cerita yang disampaikan oleh si pengarang. Biasanya komik sangat digemari oleh orang-orang yang mempunyai tipe belajar visual karena dalam komik suatu cerita disampaikan dengan dominasi gambar yang sangat menonjol. Kadang komik bersifat menghibur sehingga kalangan penggemar komik adalah anak-anak dan remaja.
Komik yang sering kita temukan adalah komik-komik yang bercerita superhero, cerita kartun dan legenda. Akan tetapi komik pun dapat dirancang dengan gagasan yang berisi materi atau nilai-nilai yang positif yaitu berisi tentang nilai-nliai sosial, budaya, agama dan ekonomi.
Komik mempunyai unsur dasar visual yaitu komik dapat dipakai sebagai alat penyampai pesan yang berisi arti dan makna sehingga terjadi komunikasi visual antara pesan yang disampaikan oleh komik tersebut dengan si pembaca melalui daya imajinasinya.
Adapun landasan dipergunakannya komik (gambar) dalam pendidikan anatara lain yaitu :
1) Gambar (komik) bersifat kongkrit
2) Gambar mengatasi ruang dan waktu
3) Gambar mengatasi kekurangan daya mampu panca indera manusia
4) Gambar mudah didapat dan murah
5) Mudah digunakan
C. Teknologi Pendidikan dalam Komik
Komik dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan kepada para pembaca.
Karakteristik Komik
Komik terdiri atas berbagai situasi cerita bersambung, sifatnya humor, sumbangan yang paling unit dan berarti dari kartun pada bidang politik dan sosial. Komik harus dikenal agar kekuatan pada medium ini bisa dihayati. Komik memusatkan perhatian disekitar rakyat.
Cerita-ceritanya mengenai diri pribadi, sehingga pembaca dapat segera mengidentifikasi dirinya melalui perasaan serta tindakan dari perwatakan-perwatakan tokoh utama, ceritanya ringkas dan menarik perhatian, terkadang dilengkapi dengan aksi.
Penggunaan Komik dalam Pembelajaran
Sebagai ilustrasi, guru harus menggunakan motivasi potensial dari buku-buku komik, tetapi jangan berhenti hanya sampai disitu saja. Cerita bergambar harus dilengkapi oleh materi bacaan, film, gambar tetap (foto), model, percobaan serta berbagai kegiatan yang kreatif. Peranan pokok dari buku komik dalam pembelajaran adalah kemampuannya dalam menciptakan minat siswa. Penggunaan komik dalam pembelajaran sebaiknya dipadu dengan metode mengajar, sehingga komik akan dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif.
Komik Pembelajaran Sebagai Penerapan Kawasan Teknologi Pendidikan
Menjadikan komik sebagai media pembelajaran merupakan contoh penerapan Teknologi Pendidikan. Dalam hal ini termasuk ke dalam penerapan teknologi pendidikan dari kawasan Desain dan Pengembangan, yaitu desain sumber untuk belajar dan pengembangan sumber untuk belajar. Dalam kawasan desain, komik sebagai media pembelajaran termasuk ke dalam sub kawasan Desain Pesan,yang meliputi proses perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan. Pesan atau materi ajar yang hendak disampaikan direkayasa sehingga dapat dirancang dalam bentuk komik pembelajaran. Sedangkan dalam kawasan pengembangan, komik sebagai media pembelajaran termasuk ke dalam sub kawasan pengembangan teknologi cetak. Dalam kawasan ini hasil desain pesan diterjemahkan ke dalam bentuk fisik, yaitu dalam bentuk teks dan visual, melalui teknologi cetak sebagai buku komik pembelajaran.
Komik pembelajaran merupakan contoh dari penerapan teknologi pendidikan, sebab dengan adanya media komik sebagai sumber untuk belajar akan mempermudah pelajar dalam proses pembelajaran, khususnya dalam merealisasi konsep-konsep pelajaran yang bersifat abstrak apabila disajikan dalam bentuk teori saja dan perlu adanya penyajian konkrit, seperti konsep-konsep pada ilmu sains. Dalam hal inilah komik pembelajaran berperan besar dalam menyajikan konsep-konsep abstrak tersebut ke dalam contoh yang konkrit dalam ke hidupan sehari-hari. Itulah yang menjadi inti penerapan dari teknologi pendidikan, yaitu untuk memecahkan permasalahan dalam proses belajar, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan efektif, efisien, dan menarik.
Kesesuaian Prinsip Komik Pembelajaran dengan Prinsip-Prinsip Penerapan Teknologi Pendidikan
Dalam mendesain dan mengembangkan komik pembelajaran, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, sehingga penerapan tersebut dapat dikatakan sesuai dengan prinsip penerapan teknologi pendidikan.
Hal-hal yang menjadi prinsip dalam sub kawasan desain pesan, yaitu perhatian, persepsi, dan daya serap peserta didik, yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi antara pengirim (pembuat komik pembelajaran) dan penerima (pemelajar yang membaca komik pembelajaran). Sehingga pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan tersebut, serta mempertimbangkan persepsi-persepsi yang mungkin timbul dalam benak penerima pesan.
Pada dasarnya kawasan pengembangan dapat dijelaskan dengan adanya:
1) Pesan yang didorong oleh isi
Artinya isi dari komik pembelajaran yang dikembangkan harus sesuai dengan pesan (informasi) yang hendak disampaikan. Sehingga dengan pengembangan media belajar berupa komik pembelajaran dapat mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau kompetensi tertentu.
2) Strategi pembelajaran yang didorong oleh teori
Pengembangan komik pembelajaran dalam bentuk bahan teks cverbal dan visual sangat bergantung pada teori persepsi visual, teori membaca, dan teori belajar.
3) Manifestasi fisik dari teknologi – perangkat keras, perangkat lunak dan bahan pembelajaran.
Komik pembelajaran merupakan contoh dari spsesifikasi desain pesan yang diterjemahkan dan diproduksi dalam bentuk buku (bahan visual) melalui teknologi cetak. Pengkombinasian antara bahan visual dan bahan teks dalam pengembangan komik pembelajaran sangat membantu dalam menciptakan kegiatan belajar yang diinginkan, yaitu belajar efektif.
Secara khusus komik sebagai penerapan dari teknologi cetak mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1) Teks dibaca secara linier, sedangkan visual direkam menurut ruang.
2) Memberikan komunikasi satu arah ynag bersifat pasif.
3) Berbentuk visual yang statis.
4) Pengembangannya bergantung pada prinsip-prinsip linguistik dan persepsi visual.
5) Informasi dapat diorganisasikan dan distruktur kembali oleh pemakai.
Cara Mengoptimalkan Penerapan Teknologi Pendidikan pada Komik Pembelajaran
Pesan pembelajaran yang disampaikan dalam komik pembelajaran dapat dikatakan baik apabila memenuhi beberapa syarat, yaitu :
Pesan pembelajaran harus meningkatkan motivasi pemelajar. Pemilihan isi dan gaya penyampaian pesan mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pemelajar.
Isi dan gaya penyampaian pesan juga harus merangsang pemelajar memproses apa yang dipelajari serta memberikan rangsangan belajar baru.
Pesan pembelajaran yang baik akan mengaktifkan pemelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong pemelajar untuk melakukan praktik-praktik dengan benar.
Menggunakan komik sebagai media pembelajaran juga harus mempertimbangkan evaluasi dari materi yang telah disampaikan, sehingga pembelajar dapat mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian (pemahaman) pemelajar terhadap materi yang disampaikan melalui komik pembelajaran.
D. Cara Merancang Teknologi Pendidikan Dalam Komik
Dalam perancangan sebuah komik yang akan digunakan sebagai media pembelajaran, adapun tahap-tahap yang harus kita tempuh dalam proses pembuatan antara lain:
1) Tahap Pengidentifikasian Target
Dalam pembuatan komik, kita harus dapat mengidentifikasikan siapa yang akan menjadi target kita. Dalam hal ini, target adalah si pembaca, kita harus dapat mengerti selera si pembaca berdasarkan umur yaitu kalangan anak pra sekolah (3-5 Tahun), pada usia ini biasanya anak lebih menyukai komik dengan tokoh hewan, misalnya miki tikus,donal bebek dan doraemon, yang berpakaian dan berbicara seperti manusia. Tetapi anak-anak di usia pra sekolah tidak menyukai komik yang berunsur teror.
Anak pada usia sekolah (6-12 Tahun) biasanya mereka menyukai komik yang mengandung cerita petualangan,misteri dan ketegangan. Karena pada usia ini anak lebih cenderung menyukai hal-hal yang berbau petualangan seiring dengan perkembangan sosialnya dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Pada usia remaja (15-20 Tahun) mereka telah mengalami perkembangan yang ketat, baik dari segi sosial,berfikir,berimajinasi dan menanggapi rangsangan dari luar. Oleh karena itu, sebaiknya komik yang akan disajikan untuk kalangan anak remaja yaitu hal-hal yang berhubungan dengan roman dan percintaan. Karena pada usia ini anak mulai memperhatikan lawan jenisnya dan saling tertarik antara satu dengan yang lain.
Pada saat anak beranjak dewasa (20-25 Tahun) terkadang selera mereka berubah,mereka cenderung menyukai hal-hal yang berhubungan dengan humor,kejahatan dan masalah-masalah sosial,budaya,ekonomi dan politik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada usia inilah anak sudah mulai berfikir luas seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan intelektualitasnya.
2) Tahap Pengidentifikasian warna
Warna yang akan dipilih oleh si pembuat komik haruslah menyesuaikan dengan selera si pembaca. Dalam mengklasifikasikan selera si pembaca yaitu dengan mengklasifikasikan umur si pembaca tersebut.
Pada usia pra sekolah (3-5 Tahun) mereka biasanya menyukai hal yang bercorak warna-warni, karena pada usia anak mulai dikenalkan berbagai jenis warna dan pada usia inilah daya fantasi anak sangat tinggi.
Di usia sekolah (6-12 Tahun) mereka masih cenderung menyukai berbagai jenis warna. Akan tetapi di usia 12 tahun mereka hanya menyukai beberapa warna saja. Oleh karena itu kontras warna yang akan dipilih sedikit sederhana.
Pada usia remaja dan dewasa mereka biasanya tidak menyukai banyak warna,mereka sudah mempunyai selera warna tersendiri. Oleh karena itu pembuatan komik untuk kalangan remaja dan dewasa janganlah didominasi corak berbagai warna.
3) Tahap Pembuatan Skenario
Skenario merupakan jantung proses pembuatan komik karena skenario yang memberikan arah pembuatan cerita komik. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan skenario komik antara lain : Tema, Alur, Setting dalam komik, Jendela, Halaman, Karakter Tokoh (Emosi). Keenam hal tersebut sangat berperan penting dalam proses pembuatan skenario komik karena diantara satu dengan yang lain mempunyai ketergantungan dalam kesempurnaan pesan yang akan disampaikan. Dan dalam proses pembuatan skenario juga harus memperhatikan selera dan minat si pembaca. Dalam hal menentukan skenario haruslah menyesuaikan materi yang akan disampaikan.
4) Tahap Pemilihan Gaya Bahasa
Dalam pemilihan gaya bahasa yang akan digunakan dalam pembuatan komik harus disesuaikan dengan umur si pembaca karena setiap pembaca mempunyai daya serap dan intelektualitas yang berbeda-beda. Untuk gaya bahasa dalam komik yang akan dibuat untuk kalangan anak pra sekolah sebaiknya tidak terelalu sulit dan rumit akan tetapi penuh dengan fantasi atau sesuatu yang menyenangkan.
Pada usia sekolah biasanya anak cenderung menyukai bahasa-bahasa yang penuh motivasi dan memacu andrenalin. Di usia ini pun anak belum menguasai istilah-istilah bahasa yang sulit dan rumit sehingga penggunaan gaya bahasa sedikit dipermudah.
Pada usia remaja dan dewasa, gaya bahasa sedikit ada istilah-istilah bahasa yang bermutu bahkan menggunakan istilah asing karena harus menyesuaikan perkembangan-perkembangan yang ada di masyarakat. Dan juga gaya bahasa digunakan untuk menambah pengetahuan.
5) Tahap Pengaturan Unsur Visual
a. Huruf
Dalam hal pemilihan huruf, haruslah memperhatikan warna pada latar belakang komik tersebut. Karena jika tidak menyesuaikan dengan warna latar maka bisa menyebabkan efek negatif bagi si pembaca yaitu iritasi mata. Huruf yang digunakan harus mudah dibaca dan jelas. Sebaiknya tidak menggunakan huruf yang berbentuk latin yang rumit.
b. Bentuk dan Garis
Buatlah gambar yang sederhana tetapi jelas. Artinya dalam bentuk tidak perlu bersifat naturalis. Hindari garis dan bentuk yang ruwet.
c. Keseimbangan
Dalam penggunaan bentuk,garis,warna dan huruf harus disusun secara seimbang, misalnya huruf yang ingin disusun secara simetris/asimetris maka haruslah seimbang sehingga kesan yang disampaikan dapat dterima dengan baik.
d. Kesatuan
Kesatuan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain harus diperhatikan. Hendaknya kesatuan unsur tersebut terlihat jelas, misalnya judul harus dibuat senyawa dengan apa yang akan dijelaskan dalam komik.
e. Penekanan
Dalam menyajikan pesan atau materi pembelajaran dalam bentuk komik, maka diperlukan adanya penekanan pada unsur-unsur pokok pesan yang akan disampaikan. Misalnya jika si pengarang akan menjelaskan makanan 4 sehat 5 sempurna, maka dalam menjelaskan susu sebaiknya tampilkan gambar susu di tengah-tengah makanan lainnya karena warna susu itu lemah (putih) bila dibandingkan dengan warna makanan lainnya.
f. Layout (susunan,tata letak)
Unsur-unsur visual seperti gambar, kata-kata, bentuk simbol dan lainnya harus terlebih dahulu direncanakan bagaimana susunannya dalam medan visual yang akan disajikan. Susunan harus dapat menempatkan semua unsur secara harmonis.
Dalam proses pembuatan komik harus memperhatikan tahap-tahap tersebut karana kesalahan atau kekurangan dari salah satu unsur dapat mempengaruhi unsur-unsur yang lain sehingga pesan yang akan disampaikan tidak menarik perhatian si pembaca.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Komik adalah salah satu media yang menyampaikan cerita melalui ilustrasi gambar, gambar berfungsi sebagai pendeskripsian cerita. Komik sebagai media berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam konteks ini pembelajaran menunjuk pada sebuah proses komunikasi antara pemelajar dan sumber belajar (dalam hal ini komik pembelajaran). Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secarajelas, runtut, dan menarik.
Komik mempunyai kekurangan yaitu dapat membuat malas, menumpulkan imajinasi, iritasi mata dan kenakalan remaja jika cerita yang disajikan dalam komik tersebut negatif.
Kelebihan komik yaitu dapat menumbuhkan minat baca, belajar membaca, berhitung dan menjadi motivasi anak dalam belajar karena materi yang disajikan dikemas semenarik mungkin. Dalam kawasan teknologi pendidikan, komik termasuk dalam kawasan desain yaitu desain pesan, dengan merekayasa bentuk fisik dari pesan. Dalam penyajian komik sebagai media pembelajaran haruslah memperhatikan karakteristik dari komik dan tahap-tahap yang harus ditempuh.

DAFTAR PUSTAKA
Seels, Barbara B.,dkk. Teknologi Pembelajaran.2004.Jakarta:UNJ
Prawiradilaga, Dewi S., dan Siregar, Eveline. Mozaik Teknologi Pendidikan.Jakarta:Kencana

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 November 2016 in Tak Berkategori

 

TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KOMIK

TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KOMIK

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu: Iwan Hermawan., S.Ag., M.Pd.I

Disusun oleh

Kelompok 3

KELAS VII C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM KOMIK

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi pendidikan

Dosen Pengampu: Iwan Hermawan., S.Ag., M.Pd.I

Nama Anggota Kelompok 3 :

1. Siti Patimah (1341170501126)

2. Rusmiati (1341170501076)

3. Ilham Sayuti (1341170501097)

4. Ahmad Fahmi (1341170501148)

5. Kiki (1341170501096)

6. Siti Maesyaroh (1341170501030)

7. Sigit P. (1341170501174)

8. Oop Ropikoh (1341170501160)

9. Sofyan Taftazani (1341170501023)

10. M. Arif F. (1341170501075)

11. Ahmad Maulana Yusup (1341170501119)

KELAS VII C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini dengan baik. Sholawat dan salam selalu terlimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi tercinta, tauladan yang baik bagi manusia, Nabi besar Muhammad SAW., yang telah membawa peradaban manusia ke peradaban yang sempurna, semoga terlimpahkan juga kepada keluarganya, saudaranya, para sahabatnya, tabi’in, dan semoga juga kepada kita semua selaku umatnya. Aamiin…

Tujuan kami membuat makalah yang berjudul Teknologi Pendidikan Dalam Komikini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan. Tak lupa kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Iwan Hermawan., S.Ag., M.Pd.I selaku dosen Pengampu Mata Kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan yang telah membimbing kami. Tak lupa juga diucapkan terimakasih kepada teman-teman kelompok yang telah bekerja sama dengan baik.

Karena kami masih dalam proses belajar, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk tugas kami selanjutnya.

Karawang, 7 November 2016

Kelompok 3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah. 1

B.Rumusan Masalah. 1

C.Tujuan. 1

BAB II PEMBAHASAN

A.Pengertian Teknologi Pendidikan. 2

B.Pengertian Komik. 3

C.Penerapan Teknologi Pendidikan dalam Komik. 4

BAB III PENUTUP

A.Kesimpulan. 13

B.Saran. 13

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Teknologi pendidikan erat kaitannya dengan proses pembelajaran yang di lakukan oleh seorang pendidik ketika memberikan materi pelajaran kepada peserta didiknya. Misalnya metode, media, dan strategi pembelajaran. bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. Penggunaan media yang tepat akan meningkatkan hasil belajar dan membuat proses belajar menjadi menarik dan menyenangkan, dapat mengurangi kesalahpahaman dan ketidakjelasan.

Komik sebagai media berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam konteks ini pembelajaran menunjuk pada sebuah proses komunikasi antara pembelajar dan sumber belajar (dalam hal ini komik pembelajaran). Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secara jelas, runtut, dan menarik.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Teknologi Pendidikan ?

2. Apa pengertian Komik ?

3. Bagaimana penerapan teknologi pendidikan dalam komik ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertianTteknologi Pendidikan.

2. Untuk mengetahui pengertian Komik.

3. Untuk mengetahui Penerapan teknologi pendidikan dalam komik.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Teknologi Pendidikan

Teknologi Pendidikan merupakan kajian ilmu yang berupaya memfasilitasi seseorang agar terjadi belajar pada dirinya, untuk itu perlu adanya rekayasa dalam proses pembelajaran itu sendiri agar proses tersebut dapat berlangsung efisien, efektif dan menarik, salah satu produk dari Teknologi Pendidikan adalah komik Pembelajaran.

Teknologi Pendidikan pada abad ke dua puluh meliputi lentera pertama proyektor slide, kemudian radio dan kemudian gambar hidup. Sedangkan abad 19 ke bawah sampai lima belas teknologi lebih diartikan papan tulis dan buku. Menurut Prof. Sutomo dan Drs. Sugito, M.Pd Teknologi Pendidikan adalah proses yang kompleks yang terpadu untuk menganalisis dan memecahkan masalah belajar manusia/pendidikan.

1. Menurut ”Mackenzie, dkk” (1976)

Teknologi Pendidikan yaitu suatu usaha untuk mengembangkan alat untuk mencapai atau menemukan solusi permasalahan.

2. Menurut Donald P. Ely, Teknologi pendidikan ialah suatu bidang yang mencakup berbagai fasilitas belajar melalui identifikasi yang sistematis, pengembangan, pengorganisasian, dan penggunaan sumber-sumber yang maksimal dan pengolahan prosesnya. Teknologi pendidikan bukan semacam audiovisual aids atau alat-alat semacam komputer, radio, kaset, dan sebagainya.

Jadi Teknologi Pendidikan adalah segala usaha untuk memecahkan masalah pendidikan. Lebih detail dapat diuraikan bahwa:

· Teknologi Pendidikan lebih dari perangkat keras. Ia terdiri dari desain dan lingkungan yang melibatkan pelajar.

· Teknologi dapat juga terdiri dari segala teknik atau metode yang dapat dipercaya untuk melibatkan pelajaran; strategi belajar kognitif dan keterampilan berfikir
kritis.

· Belajar teknologi dapat dilingkungan manapun yang melibatkan siswa belajar secara aktif, konstruktif, autentik dan kooperatif serta bertujuan.

B. Pengertian Komik

Komik adalah sebuah media yang menyampaikan cerita dengan visualisasi atau ilustrasi gambar, dengan kata lain komik adalah cerita bergambar, dimana gambar berfungsi untuk pendeskripsian cerita agar si pembaca mudah memahami cerita yang disampaikan oleh si pengarang. Biasanya komik sangat digemari oleh orang-orang yang mempunyai tipe belajar visual karena dalam komik suatu cerita disampaikan dengan dominasi gambar yang sangat menonjol. Kadang komik bersifat menghibur sehingga kalangan penggemar komik adalah anak-anak dan remaja.

Komik yang sering kita temukan adalah sebagai suatu bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan kepada para pembaca seperti komik-komik yang bercerita tentang superhero, cerita kartun dan legenda. Akan tetapi, komik dapat dirancang dengan gagasan yang berisi materi atau nilai-nilai yang positif yaitu berisi tentang nilai-nliai sosial, budaya, agama dan ekonomi.

1. Karakteristik Komik

Komik terdiri atas berbagai situasi cerita bersambung, sifatnya humor, sumbangan yang paling unik, dan berarti dari kartun pada bidang politik dan sosial. Komik harus dikenal agar kekuatan pada medium ini bisa dihayati. Komik memusatkan perhatian disekitar rakyat. Cerita-ceritanya mengenai diri pribadi, sehingga pembaca dapat segera mengidentifikasi dirinya melalui perasaan serta tindakan dari perwatakan-perwatakan tokoh utama, ceritanya ringkas dan menarik perhatian, terkadang dilengkapi dengan aksi.

2. Penggunaan Komik dalam Pembelajaran

Sebagai ilustrasi, guru harus menggunakan motivasi potensial dari buku-buku komik, tetapi jangan berhenti hanya sampai disitu saja. Cerita bergambar harus dilengkapi oleh materi bacaan, film, gambar tetap (foto), model, percobaan serta berbagai kegiatan yang kreatif. Peranan pokok dari buku komik dalam pembelajaran adalah kemampuannya dalam menciptakan minat siswa. Penggunaan komik dalam pembelajaran sebaiknya dipadu dengan metode mengajar, sehingga komik akan dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif.

3. Komik mempunyai unsur dasar visual

Komik dapat dipakai sebagai alat penyampai pesan yang berisi arti dan makna sehingga terjadi komunikasi visual antara pesan yang disampaikan oleh komik tersebut dengan si pembaca melalui daya imajinasinya.

4. landasan dipergunakannya komik (gambar) dalam pendidikan :

a. Gambar (komik) bersifat kongkrit.

b. Gambar mengatasi ruang dan waktu.

c. Gambar mengatasi kekurangan daya mampu panca indera manusia.

d. Gambar mudah didapat dan murah.

e. Mudah digunakan.

C. Penerapan Teknologi Pendidikan dalam Komik

1. Komik sebagai Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. Penggunaan media yang tepat akan meningkatkan hasil belajar dan membuat proses belajar menjadi menarik dan menyenangkan, dapat mengurangi kesalahpahaman dan ketidakjelasan.

Komik sebagai media berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam konteks ini pembelajaran menunjuk pada sebuah proses komunikasi antara pemelajar dan sumber belajar (dalam hal ini komik pembelajaran). Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secara jelas, runtut, dan menarik.

2. Komik Pembelajaran Sebagai Penerapan Kawasan Teknologi Pendidikan

Menjadikan komik sebagai media pembelajaran merupakan contoh penerapan Teknologi Pendidikan. Dalam hal ini termasuk ke dalam penerapan dan Pengembangan, yaitu desain sumber untuk belajar dan pengembangan sumber untuk belajar. Dalam kawasan desain, komik sebagai media pembelajaran termasuk ke dalam sub kawasan Desain Pesan, yang meliputi proses perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan.

Pesan atau materi ajar yang hendak disampaikan direkayasa sehingga dapat dirancang dalam bentuk komik pembelajaran. Sedangkan dalam kawasan pengembangan, komik sebagai media pembelajaran termasuk ke dalam sub kawasan pengembangan teknologi cetak. Dalam kawasan ini hasil desain pesan diterjemahkan ke dalam bentuk fisik, yaitu dalam bentuk teks dan visual, melalui teknologi cetak sebagai buku komik pembelajaran.

Komik pembelajaran merupakan contoh dari penerapan Teknologi Pendidikan, sebab dengan adanya media komik sebagai sumber untuk belajar akan mempermudah pembelajar dalam proses pembelajaran, khususnya dalam merealisasi konsep-konsep pelajaran yang bersifat abstrak apabila disajikan dalam bentuk teori saja dan perlu adanya penyajian konkrit, seperti konsep-konsep pada ilmu sains. Dalam hal inilah komik pembelajaran berperan besar dalam menyajikan konsep-konsep abstrak tersebut ke dalam contoh yang konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang menjadi inti penerapan dari teknologi pendidikan, yaitu untuk memecahkan permasalahan dalam proses belajar, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan efektif, efisien, dan menarik.

3. Kesesuaian Prinsip Komik Pembelajaran dengan Prinsip-Prinsip Penerapan Teknologi Pendidikan

Dalam mendesain dan mengembangkan komik pembelajaran, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, sehingga penerapan tersebut dapat dikatakan sesuai dengan prinsip penerapan teknologi pendidikan. Hal-hal yang menjadi prinsip dalam sub kawasan desain pesan, yaitu perhatian, persepsi, dan daya serap pemelajar, yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi antara pengirim (pembuat komik pembelajaran) dan penerima (pembelajar yang membaca komik pembelajaran). Sehingga pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan tersebut, serta mempertimbangkan persepsi-persepsi yang mungkin timbul dalam benak penerima pesan.

Pada dasarnya kawasan pengembangan dapat dijelaskan dengan adanya :

· Pesan yang didorong oleh isi, artinya isi dari komik pembelajaran yang dikembangkan harus sesuai dengan pesan (informasi) yang hendak disampaikan. Sehingga dengan pengembangan media belajar berupa komik pembelajaran dapat mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau kompetensi tertentu.

· Strategi pembelajaran yang didorong oleh teori, yaitu Pengembangan komik pembelajaran dalam bentuk bahan teks verbal dan visual sangat bergantung pada teori persepsi visual, teori membaca, dan teori belajar.

· Manifestasi fisik dari teknologi – perangkat keras, perangkat lunak dan bahan pembelajaran. Komik pembelajaran merupakan contoh dari spsesifikasi desain pesan yang diterjemahkan dan diproduksi dalam bentuk buku (bahan visual) melalui teknologi cetak. Pengkombinasian antara bahan visual dan bahan teks dalam pengembangan komik pembelajaran sangat membantu dalam menciptakan kegiatan belajar yang diinginkan, yaitu belajar efektif.

Secara khusus komik sebagai penerapan dari teknologi cetak mempunyai karakteristik sebagai berikut :

a. Teks dibaca secara linier, sedangkan visual direkam menurut ruang.

b. Memberikan komunikasi satu arah yang bersifat pasif.

c. Berbentuk visual yang statis.

d. Pengembangannya bergantung pada prinsip-prinsip linguistik dan persepsi visual.

e. Berpusat pada pemelajar.

f. Informasi dapat diorganisasikan dan distruktur kembali oleh pemakai.

4. Cara Mengoptimalkan Penerapan Teknologi Pendidikan pada Komik Pembelajaran

Pesan pembelajaran yang disampaikan dalam komik pembelajaran dapat dikatakan baik apabila memenuhi beberapa syarat, yaitu :

1. Pesan pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Pemilihan isi dan gaya penyampaian pesan mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar.

2. Isi dan gaya penyampaian pesan juga harus merangsang pembelajar memproses apa yang dipelajari serta memberikan rangsangan belajar baru.

3. Pesan pembelajaran yang baik akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong pembelajar untuk melakukan praktik-praktik dengan benar.

Menggunakan komik sebagai media pembelajaran juga harus mempertimbangkan evaluasi dari materi yang telah disampaikan, sehingga pembelajar dapat mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian (pemahaman) pembelajar terhadap materi yang disampaikan melalui komik pembelajaran.

Contoh Komik Pembelajaran :

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Komik sebagai media berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam konteks ini pembelajaran menunjuk pada sebuah proses komunikasi antara pembelajar dan sumber belajar (dalam hal ini komik pembelajaran). Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secarajelas, runtut, dan menarik.

Menjadikan komik sebagai media pembelajaran merupakan contoh penerapan Teknologi Pendidikan. Dalam hal ini termasuk ke dalam penerapan TP dari kawasan Desain dan Pengembangan, yaitu desain sumber untuk belajar dan pengembangan sumber untuk belajar. Untuk mengoptimalkan pemberdayaan komik sebagai media pembelajaran, maka pesan pembelajaran yang hendak disampaikan harus memenuhi syarat-syarat berikut:

1. Pesan pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar.

2. Isi dan gaya penyampaian pesan juga harus merangsang pemelajar memproses apa yang dipelajari serta memberikan rangsangan belajar baru.

3. Pesan pembelajaran yang baik akan mengaktifkan pemelajar dalam memberikan umpan balik.

Selain itu harus dapat mempertimbangkan evaluasi yang sesuai dalam mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang dikemas dalam komik pembelajaran.

B. Saran

Dalam pembuatan komik untuk pembelajaran pembuat komik (pendidik) perlu mempunyai kreativitas dalam menggambar dan memahami kebutuhan serta bentuk keadaan sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Miarso, Yusufhadi. 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Prawiradilaga, Dewi Salma dan Eveline Siregar. 2007. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.

Seels, Barbara B dan Richey, Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.

Umaedi. (2003). Menajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Depdiknas. Jakarta

Seels, Barbara B., dkk. Teknologi Pembelajaran. 2004. Jakarta : UNJ.

https://rianabi.wordpress.com/2015/08/05/kumpulan-komik-muslim-show-bahasa-indonesia-part-2/ Diakses tanggal 11 November 2016 Pukul 21:00 WIB

Pada 3 Oktober 2016 20.50, Ilham Sayuti <ilhamassuyuthi> menulis:

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 November 2016 in Tak Berkategori

 

PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

“PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN”

MAKALAH

Sistem informasi dan teknologi pendidikan

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Sistem informasi dan teknologi pendidikan

Dosen : Iwan Hermawan, S.Ag.,M.Pd.I

Disusun Oleh :

Kelompok 3 Semester VII B

· Danang Siswo Buntoro (1341170501164)

· Endah Saʹadah (1341170501042)

· Hena Setiani (1341170501024)

· Iin Zahrotul ʹAinah (1341170501084)

· Nela Pujiani (1341170501138)

· Ratna Sumiati (1341170501088)

· Whidiya Nuralifia (1341170501081)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kehadirat Allah S.W.T yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini sebagai salah satu tugas kelompok mata kuliahSistem informasi dan teknologi pendidikan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Sistem informasi dan teknologi pendidikan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, mulai dari cara penulisan, penyusunan, penguraian maupun isinya.

Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah ini. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil dalam prosen penulisan makalah ini. Akhirnya, kami mengharapkan semoga makalah ini dapat berguna bagi semua pihak baik bagi pembaca maupun kami sendiri.

Karawang, November 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

1.1 Latar Belakang. 1

1.2 Rumusan Masalah. 1

1.3 Tujuan Penulisan. 1

BAB II PEMBAHASAN.. 2

2.1 Pendayagunaan Teknologi Pendidikan. 2

2.2 Program Pemanfaatan Teknologi Pendidikan di Indonesia. 4

2.3 Pendayagunaan teknologi pendidikan di Negara lain. 5

A. Singapura. 6

B. Malaysia. 8

BAB III PENUTUP. 12

3.1 Kesimpulan. 12

3.2 Saran. 12

DAFTAR PUSTAKA.. iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan masyarakat Indonesia yang semakin tinggi terhadap pendidikan yang bermutu menunjukkan bahwa pendidikan telah menjadi salah satu pranata kehidupan sosial yang kuat dan berwibawa, serta memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan peradaban bangsa Indonesia. Pendidikan telah memberi kontribusi yang cukup signifikan dalam membangun peradaban bangsa Indonesia dari satu masa kemasa yang lainnya, baik sebelum kemerdekaan maupun sesudah kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berbagai kajian dan pengalaman menunjukkan bahwa pendidikan memberi manfaat yang luas bagi kehidupan suatu bangsa. Pendidikan mampu melahirkan masyarakat terpelajar dan berakhlak mulia yang menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat sejahtera. Pendidikan juga meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga mampu hidup harmoni dan toleran dalam kemajemukan, sekaligus memperkuat kohesi sosial dan memantapkan wawasan kebangsaan untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis.

Berkaitan dengan pendidikan, hal yang perlu diperhatikan adalah pendayagunaan teknologi. Pendayagunaan teknologi pendidikan menjadi salah satu program beberapa negara baik berkembang maupun maju. Indonesia salah satu negara berkembang yang sedang gencar-gencarnya mencanangkan peningkatan pendidikan dalam berbagai sisi. program belajar 9 (sembilan) tahun yang telah lama dikembangkan, kini mulai ditingkatkan dengan menghadirkan Education of Technology.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pendayagunaan teknologi pendidikan?

2. Apa program pemanfaatan teknologi pendidikan di Indonesia?

3. Bagaimana pendayagunaan teknologi pendidikan di Negara lain?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pendayagunaan teknologi pendidikan

2. Untuk mengatahui pemanfaatan teknologi pendidikan

3. Untuk mengetahui pendayagunaan teknologi di Negara lain

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pendayagunaan Teknologi Pendidikan

Sebelum membahas lebih jauh mengenai pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang pendidikan, ada baiknya untuk mengetahui manfaat dari teknologi itu sendiri. Memangnya kenapa kita harus memanfaatkan teknologi tersebut dalam bidang pendidikan?

Pada dasarnya teknologi diciptakan untuk mempercepat dan mempermudah pekerjaan manusia. Oleh karena itu, teknologi informasi dan komunikasi hadir dengan tujuan memberi kemudahan bagi penggunanya dalam pengolahan, penerimaan, penyimpanan, pengaksesan informasi dan komunikasi. Dalam pendidikan di Indonesia, kegiatan belajar mengajar langsung dipersepsikan sebagai kegiatan di mana peserta ajar dan pengajar bertemu dalam suatu ruang kelas. Dulu, memang begitulah proses kegiatan belajar mengajar secara “resmi”.

Namun, dengan hadirnya teknologi internet, sebagai teknologi informasi dan komunikasi, ruang kelas yang bisa dianggap sebagai suatu bentuk keterbatasan dapat hilang. Dengan hilangnya keterbatasan ruang, itu sudah berarti bahwa kita bisa belajar dimana saja dan kapan saja. Hal ini tentunya dapat membantu teman-teman kita, seluruh warga Indonesia untuk mendapatkan pendidikan.

Pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) secara umum sebenarnya telah dimulai pada tahun 1999, yaitu melalui program Jaringan Internet (Jarnet) yang selanjutnya secara berturut-turut dikembangkan program:

· Jaringan Informasi Sekolah (JIS),

· Wide Area Network (WAN) Kota,

· Information and Communication Technology Center (ICT Center),

· Dan yang terakhir yang cukup santer didengar yaitu Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas).

Walaupun langkah kita memang tertinggal oleh negara-negara tetangga seperti Malaysia, India, dan Singapura, namun langkah-langkah pemerintah dalam pemanfaatan teknologi informasi yang dilakukan secara bertahap ini patut diacungkan jempol. Belum lagi untuk tahapan kedepannya, pemerintah berencana untuk mengembangkan South East Asia Education Network (SEA EduNet), yaitu program untuk mengintegrasikan jejaring yang telah dibangun oleh negara-negara tetangga agar dapat melakukan sharing knowledge dengan lebih insentif.

Melihat langkah-langkah pemerintah, rasanya kita bisa merasa optimis terhadap pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang pendidikan di negara kita. Apalagi untuk program telah berlangsung, yaitu Jardiknas, pada akhir tahun 2007 saja disebutkan bahwa telah terhubung 1.014 titik institusi dan 11.825 sekolah dengan Jardiknas. Namun, jika ditelaah kembali, itu saja belum cukup. Pemerintah baru saja membangun infrastukturnya. Masih banyak aspek lainnya yang apabila tidak ditangani secara serius, maka pemanfaatan teknologi ini tidak menghasilkan suatu kebermanfaatan. Memang pemerintah telah melakukan langkah yang tepat, yaitu dengan pembangunan infrastruktur, namun apabila berbicara mengenai pendidkan, tentu itu terkait dengan peserta ajar, pengajar, dan materi aja tentunya.

Jika menggunakan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajarnya, sudah tentu ketiga komponen proses belajar mengajar yang telah saya sebutkan sebelumnya haruslah disesuaikan dengan teknologi tersebut. Analoginya begini apabila dalam suatu pertempuran, seluruh peralatan dengan teknologi yang luar biasa canggihnya telah disiapkan, namun apakah itu menjamin bahwa hal tersebut akan memenangkan pertempuran? Tentu tidak, bahkan bisa jadi kalah telak. Kenapa begitu? Ya tentu saja, karena semua pasukan tidak mengerti cara penggunaan senjata tersebut. Begitu juga dalam proses belajar mengajar. Secanggih atau sehebat apapun teknologi yang digunakan, apabila sumber daya manusianya tidak siap dengan teknologi itu sendiri, maka segala manfaat yang dijanjikan oleh teknologi hanya akan menghasilkan nol besar. Oleh karena itu, untuk mencapai kebermanfaatan yang maksimal dari teknologi, selain pembangunan infrastruktur dan berbagai teknologi yang diperlukan di dalamnya, pengolahan sumber daya manusia dalam pengetahuan teknologi juga merupakan hal yang harus secara serius diperhatikan.

Dengan realita seperti itu, diperlukan sebuah terobosan baru untuk bisa mengatasi masalah tersebut. Bukan menghiperboliskan permasalahan. Tapi, taruhannya adalah masa depan kelanjutan perjalanan bangsa ini. Jika ingin bersaing dengan negara lain, tentu harus ada inovasi. Salah satunya, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Manfaat TIK dalam pendidikan adalah sebagai berikut:

· Memperluas kesempatan belajar.

· Meningkatkan efisiensi.

· Meningkatkan kualitas belajar.

· Meningkatkan kualitas mengajar.

· Memfasilitasi pembentukan keterampilan.

· Mendorong belajar sepanjang hayat.

· Meningkatkan perencanaan kebijakan manajemen.

· Mengurangi kesenjangan digital.

Salah satu yang dikembangkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) adalah program Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas). Yaitu, sebuah jaringan TIK yang menghubungkan sekitar tiga ribu SMP, SMA, dan SMK di Indonesia. Program tersebut telah diluncurkan presiden dalam pertemuan SEAMEO. Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menjelaskan, Jardiknas sudah mencapai 33 provinsi dan 441 kabupaten/kota. Hingga kini, Jardiknas Indonesia mencakup empat lini. Yakni, perguruan tinggi (82 PT), kantor pendidikan (441 kantor Dinas Pendidikan kabupaten/kodya di 33 provinsi), sekolah (3.000 SMP, SMA, dan SMK), serta guru dan dosen.

2.2 Program Pemanfaatan Teknologi Pendidikan di Indonesia.

Indonesia selalu berupaya untuk mendayagunakan Teknologi Pendidikan guna memajukan pendidikan bangsa ini. Berikut beberapa pemanfaatan Teknologi Pendidikan yang digunakan dalam pendidikan. :

1. Buku elektronik atau e-book

Adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan komputer untuk menayangkan informasi multimedia dalam bentuk yang ringkas dan dinamis. Dalam sebuah e-book dapat diintegrasikan tayangan suara, grafik, gambar, animasi, maupun movie sehingga informasi yang disajikan lebih dibandingkan dengan buku konvensional. Jenis e-book paling sederhana adalah yang sekedar memindahkan buku konvensional menjadi bentuk elektronik yang ditayangkan oleh komputer. Dengan teknologi ini, ratusan buku dapat disimpan dalam satu kepingCD atau compact disk (kapasitas sekitar 700MB), DVD atau digital versatile disk(kapasitas 4,7 sampai 8,5 GB) maupun flashdisk (saat ini kapasitas yang tersedia sampai 16 GB).

2. e-Learning

Adalah pembelajaran melalui jasa elektronik. Meski beragam definisi namun pada dasarnya disetujui bahwa e-learning adalah pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi elektronik sebagai sarana penyajian dan distribusi informasi. Victoria L. Tinio, menyatakan bahwa e-learning meliputi pembelajaran pada semua tingkatan, formal maupun nonformal, yang menggunakan jaringan komputer (intranet maupun ekstranet) untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan/atau fasilitasi. Cara ini memungkinkan pembelajar mengakses sumber belajar yang disediakan oleh narasumber atau fasilitator kapanpun dikehendaki. Bila diperlukan dapat pula disediakan mailing list khusus untuk situs pembelajaran tersebut yang berfungsi sebagai forum diskusi. Fasilitas e-learning yang lengkap disediakan oleh perangkat lunak khusus yang disebut perangkat lunak pengelola pembelajaran atau LMS (learning management system). LMS mutakhir berjalan berbasis teknologi internet sehingga dapat diakses dari manapun selama tersedia akses ke internet. Fasilitas yang disediakan meliputi pengelolaan siswa atau peserta didik, pengelolaan materi pembelajaran, pengelolaan proses pembelajaran termasuk pengelolaan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan komunikasi antara pembelajar dengan fasilitator-fasilitatornya. Fasilitas ini memungkinkan kegiatan belajar dikelola tanpa adanya tatap muka langsung di antara pihak-pihak yang terlibat (administrator, fasilitator, peserta didik atau pembelajar).

3. Telematika (telematics)

Indonesia pun pernah menggunakan istilah telematika (telematics) untuk arti yang kurang lebih sama dengan TIK yang kita kenal saat ini. Pengolahan informasi dan pendistribusiannya melalui jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang untuk dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk salah satunya bidang pendidikan. Ide untuk menggunakan mesin-belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit, animasi proses-proses yang sulit dideskripsikan sangat menarik minat praktisi pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk melayani pembelajaran yang tak terkendala waktu dan tempat juga dapat difasilitasi oleh TIK. Sejalan dengan itu mulailah bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e-book, e-learning, e-laboratory, e-education, e-library, dan sebagainya. Awalan e bermakna electronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika digital.

2.3 Pendayagunaan teknologi pendidikan di Negara lain

Mengetahui pendayagunaan teknologi pendidikan di tempat negara lain sedikitnya akan memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih luas kepada kita mengenai sejauh mana kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dan kendala-kendala dalam pendayagunaan teknologi pendidikan di negara lain, yang kemudian dapat dijadikan bahan perbandingan dalam pendayagunaan teknologi pendidikan di Indonesia. Selain itu, berkaitan dengan perkembangan yang terjadi dewasa ini, seorang guru dituntut memiliki wawasan kependidikan secara internasional atau global.

A. Singapura

Singapura relative lebih maju dibandingkan dengan Negara lain di Asia Tenggara dalam pendayagunaan teknologi informasi. Dengan 500.000 siswa dan 23.000 guru di 370 sekolah, mereka sadar betul bahwa kesejahteraan bangsa terletak pada kualitas orang-orangnya, komitmen mereka pada Negara dan masyarakat, kemauan mereka untuk berusaha dan tahan banting, kemampuan mereka untuk berfikir, berprestasi dan menang. Masa depan Singapura tergantung upaya mereka memperbaharui dan meregenerasi kepemimpinan dan kewarganegaraan mereka, membangun berdasarkan pengalaman masa lampau, belajar dari lingkungan yang ada dan mempersiapkan generasi yang tangguh dalam menjawab tantangan masa depan. Generasi yang akan datang tergantung pada bagaimana anak-anak dibesarkan di rumah dan dididik di sekolah. Oleh karena itu Singapura menaruh perhatian yang amat serius pada pendidikan. Mereka yakin betul bahwa kini tidak lagi cukup membekali anak-anak dengan solusi-solusi lama yang telah ada selama ini tetapi haruslah dengan pengetahuan dan kemampuan serta nilai-nilai yang memungkinkan mereka memecahkan masalah yang akan mereka hadapi di masa mendatang.

Misi Departemen Pendidikan Singapura adalah menciptakan masa depan bangsa karena dengan membentuk manusia yang akan menentukan masa depan bangsanya. Departemen Pendidikan memberikan pendidikan yang berimbang dan paripurna, mengembangkan setiap anak dan individu ke potensi mereka yang maksimal dan membimbing mereka menjadi warga negara yang baik, sadar akan tanggung jawab mereka kepada keluarga, masyarakat, dan negaranya. Karena mereka yakin betul bahwa kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan belajar amatlah penting bagi masa depan maka visi pendidikan di Singapura adalah Thinking School, Learning Nation. Visi ini, yang secara resmi diberlakukan pada tahun 1997, diyakini akan membawa Singapura menjadi bangsa yang berfikir dan memiliki warga negara yang siap serta mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan dan kesejahteraan Singapura.

Untuk teknologi komunikasi dan informasi, dengan penekanan pada computer, tidak lagi pada radio dan TV, digunakan secara luas untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan belajar mandiri. Program-program berbasis computer telah digunakan di sekolah untuk mempersiapkan siswa-siswa menghadapi tantangan abad 21.

Rencana induk pendayagunaan teknologi informasi di pendidikan telah mereka susun. Rencana ini merupakan cetak biru bagi pemanfaatan teknologi informasi di sekolah-sekolah dan memberikan akses ke lingkungan sekolah yang diperkaya dengan teknologi informasi kepada setiap anak. Teknologi informasi digunakan untuk membekali generasi muda dengan kemampuan berkomunikasi yang diyakini sangat strategis dalam menyiapkan tenaga kerja yang unggul untuk masa depan.

· Tujuan rencana induk tersebut adalah untuk:

v meningkatkan hubungan antara sekolah dengan dunia sekitar. Guru dan murid bisa berkomunikasi dan berkolaborasi dengan lembaga lain sehingga memungkinkan mereka untuk memperluas perspektif di lingkungan yang semakin global ini;

v melahirkan kegiatan-kegiatan yang inovatif di pendidikan. Strategi belajar-mengajar yang baru akan membuka kemungkinan baru bagi kurikulum dan penilaiannya. Sekolah-sekolah memiliki kebebasan untuk memanfaatkan sumber-sumber berbasis teknologi informasi;

v meningkatkan berfikir kreatif, belajar sepanjang hayat dan tanggung jawab sosial. Strategi belajar yang menggunakan teknologi informasi akan membantu mengembangkan kemampuan setiap anak untuk berfikir secara inovatif dan luwes, untuk bekerja sama satu sama lain dan untuk membuat keputusan yang bisa diterima akal sehat; dan

v untuk meningkatkan efisien serta efektivitas pengelolaan pendidikan.

Untuk mencapai semua tujuan tersebut di atas empat strategi berikut ini ditempuh oleh Singapura;

v Pada dimensi kurikulum dan penilaian, mereka upayakan perimbangan antara perolehan pengetahuan faktual, penguasaan konsep dan keterampilan. Setiap anak diarahkan untuk aktif dan mampu belajar mandiri, sementara penilaian juga akan mengukur kemampuan siswa dalam mendapatkan informasi, berfikir dan berkomunikasi;

v Pengembangan perangkat lunak pendidikan digalakkan untuk memenuhi tuntutan kurikulum, pemanfaatan sumber belajar Internet dalam belajar mengajar dipermudahan, sementara pengadaan perangkat lunak pendidikan bagi sekolah diperlancar dan diusahakan sampai ke sekolah tepat waktu;

v Dari segi gurunya, setiap guru dilatih dalam memanfaatkan teknologi informasi. Guru-guru inti yang akan melatih guru lainnya dibekali dengan kemampuan dasar pendayagunaan teknologi informasi di kelas dan tak lupa melibatkan perguruan tinggi serta kalangan industri sebagai partner;

v Infrastruktur teknologi dan fisik secara terus-menerus mereka tingkatkan sehingga mampu memberikan rasio siswa; komputer menjadi 2 : 1, memberikan akses ke teknologi informasi untuk menunjang semua pelajaran di sekolah, mengusahakan rasio guru; komputer juga 2 : 1, dan menghubungkan semua sekolah lewat Wide Area Network (WAN) serta memberikan layanan multi-media berkecepatan tinggi.

B. Malaysia

Dengan total populasi sebanyak 23,1 juta orang (2003).Malaysia merasakan bahwa pendidikan telah memberikan platform yang kokoh yang memungkinkannya menjadi slah satu Negara yang ekonominya berkembang secara pesat di Asia Timur. Saat ini mereka mereka Malaysia sebagai pusat unggulan akademis regionalserta menjadikan pendidikan sebagai komoditi eksport bermutu tinggi. Untuk itu sudah sejak lama Malaysia mendayagunakan teknologi untuk pendidikannya. Radio dan TV Pendidikan sebagai aplikasi teknologi untuk pendidikan mereka memanfaatkan untuk menunjang pembangunan pendidikan mereka. Di bawah tangung jawab Bagian Teknologi Pendidikan, Departemen Pendidikan Malaysia, sejak 1972 radio dan televisi digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar di SD dan SL. Program yang disiarkan untuk Standar I s/d VI meliputi bahasa (Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, Bahasa Cina, dan Bahasa Tamil), Agama Islam , Musik, Geigrafi, Sejarah, Kewarganegaraan dan Sastra Melayu. Sejak Januari 2000 program-program tersebut disiarkan melalui Saluran Astro 28 mulai jam 9 pagi hingga jam 5 petang.

Dijenjang Perguruan Tinggi radio juga digunakan untuk menunjang bahan belajar cetak pendidikan terbuka dan jarak jauh di University of Science Malaysia (USM) mulai tahun 1979. Tujuannya adalah untuk menjembatani hubungan mahasiswa dan universitas, menunjang proses belajar-mengajar dan memberikan identitas status mahasiswa penuh waktu. Setiap Minggu sore pelajaran diudarakan selama 20-30 menit dalam bentuk kuliah, tanya jawab atau diskusi. Interaksi dua arah dimungkinkan dengan menggunakan telepon.

Sebagai langkah pertama menuju abag informasi dan lingkungan yang global Visi 2020 yang diprakarsai pada tahun 1990-an diluncurkan yang memungkinkan Malaysia melompat menjadi negara industri dan ekonominya berbasis pengetahuan. Malaysia memerlukan sistem pendidikan yang berkelas dunia. Aspirasi ini tertuang dalam Misi Departemen Pendidikan; mengembangkan sistem pendidikan yang bermutu internasional yang akan mewujudkan potensi setiap individu secara maksimal serta memnuhi aspirasi bangsa Malaysia.

Menyadari pentingnya teknologi bagi percaturan global Malaysia mengambil langkah-langkah agresif dan terencana baik dalam pemanfaatan teknologi (ICT). Departemen Pendidikan dengan tegas menggariskan bahwa ICT hanyalah alat, bukan tujuan. Semua unit di bawah departemen ini secara aktif terlibat dalam penrapan ICT dalam kebijakan pendidikan. Kerja sama yang baik digalakan antar unit untuk mengembangkan media-media baru untuk memperkaya kurikulum, meningkatkan proses belajar-mengajar yang lebih berorientasi pada siswa, menunjang perbaikan struktur organisasi sekolah yang lebih memberikan wewenang pada tingkat sekolah serta memperkuat hubungan antara sekolah dan masyarakat termasuk kalangan swasta. Kebijakan dalam ICT juga mengarah pada pencapaian tujuan jangka panjang 2020 tersebut. ICT digunakan untuk mengurangi kesenjangan digital antar sekolah, sebagai alat belajar-mengajar dan untuk meningkatkan produktivitas, efektivitas serta efesiensi pengelolaan pendidikan.

Untuk mewujudkan misi 2020 tersebut diciptakanlah Multimedia Super Corridor (MSC) yang dimaksudkan untuk menarik perusahaan terkemuka kelas dunia untuk menempatkan industri multimedianya di Malaysia, melakukan penelitian, mengembangkan produk-produk dan teknologi baru serta mengekspornya dari sana. Koridor ini juga diharapkan dapat memberikan lingkungan yang ideal bagi tumbuhnya perusahaan-perusahaan kelas menengah Malaysia dalam bidang multimedia menjadi perusahaan kelas dunia. Kesempatan juga diberikan pada negara-negara lain untuk menggunakan fasilitas yang ada di sana sebagai tempat uji global aplikasi multimedia mereka serta sebagai hub bagi operasi regionalnya di Asia.

MSC bukanlah sekadar suatu tanaman teknologi tetapi merupakan wahana transformasi lanscape sosial dan ekonomi Malaysia. Sebagai suatu rencana jangka panjang yang merentang dari 1996 hingga 2020 MSC ditargetkan dalam 3 tahap perkembangan:

· Tahap pertama (1996 – 2003) adalah tahap diciptakannya koridor ini.

· Tahap kedua (2004 – 2010) dibangunnya koridor serupa ditempat lain di Malaysia serta dihubungkannya MSC dengan koridor tersebut dan dengan cybercities Negara lain. Pada saat ini telah ada dua kota pintar di sana yaitu Putrajaya dan Cyberjaya. Diharapkan pada tahap tersebut kerangka global hukum cyber dapat diharmoniskan dan paling tidak 4-5 kota pintar di Malaysia akan terhubungkan dengan cybercities global.

· Pada tahap ketiga (2011-2020) Malaysia akan evolve ke dalam satu MSC dan bangsa tersebut akan berfungsi sebagai tes bed global aplikasi multimedia baru. Pengadilan cyber internasional diharapkan dapat didirikan di Malaysia dan 12 kota pintar di Malaysia akan tern\hubungkan dengan global information higway.

Walaupun arsitek utama MSC ini adalah pemerintah namun implementasinya pada umumnya dikemudikan oleh sector swasta. Salah satu provider telekomunikasi di MSC adalah Telkom Malaysia, yang merupakan investor utama serta yang membangun jaringan telekomunikasi di sana.

Sejalan dengan visi 2020 tersebut ada 6 aplikasi flagship MSC mulai diluncurka pada tahun 1997; E-government, Multipurpose Card, Telehealt, R & D Custer, e-bussiness dan Smart School. Aplikasi teakhir, Smart School, proyek rintisannya dimulai pada tahun 1999 untuk mereformasi system sekolah di Malaysia dan mentranspormasikan proses belajarnya dari budaya menghafal dan berorientasi pada ujian ke budaya berfikir, kreatif dan pemecahan masalah. Konsep dasar Smarat School ini dirancang oleh suatu Satgas gabungan antara Departemen Pendidikan dan kalangan industri. Wakil Departemen Pendidikan antara lain adalah Pusat Pengembangan Kurikulum, Bagian Pendidikan Guru, Bagian Teknologi Pendidikan dan Sindikat Pengujian.Tim Pengembangan Smart School juga gabungan antara pendidik dan analis sistem.

Sebanyak 90 sekolah telah dipilih sebagai lokasi ristisan awal Smart School. Departemen Pendidikan Malaysia telah melatih 1.720 guru-guru dalam hal metode mengajar di Smart School untuk menjamin keberhasilan proyek ini. Program pelatihan selama 14 minggu dirancang khusus untuk membekali mereka dengan keterampilan teknologi informasi, kemampuan berfikir kritis dan kreatif serta kemampuan mengelola sekolah khusus ini. Pelatihan juga dilakukan untuk para kepala sekolahnya. Menurut rencana 10.000 orang guru akan dilatih yang nantinya diharapkan bisa melatih rekan sekerjanya.

Di akhir proyek rintisan ini di tahun 2002 yang lalu, ada 87 sekolah (83 Sekolah Menengah dan 4 Sekolah Dasar) disemua Negara bagian Malaysia telah mengambil bagian aktif dalam program ini dan pada saat yang bersamaan telah dihasilkan sejumlah 1494 judul topic pelajaran Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, IPA, Matematika serta system pengelolaan sekolah terpadu, pusat bantuan belajar, Pusat Data, administrasi yang terlatih, guru-guru dan coordinator IT dari semua sekolah rintisan. Tiga sekolah lainnya (satu SD dan dua SL) tidak dapat memenuhi batas waktu kontrak sehingga tidak diikutsertakan dalam kegiatan ini.

Keberhasilan proyek ini banyak ditentukan oleh para agen perubahan di berbagai tingkatan: departemen, Negara bagian, dan sekolah. Ditingkat departemen, menteri, Sekretaris Jendral dalam kapasitasnya sebagai ketua Komosi Pengarah Smart School, Direktur Bagian teknologi Pendidikan yang berfungsi sebagai kepala proyek perintisan Smart School dan wakil direkturnya yang menangani pelaksanaannya dari hari kehari. Ditingkat Negara bagian wakil direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian bertindak sebagai Ketua Tim Penunjang Strategis Smart School sedang Kepala Pusat Sumber belajar Negara Bagian bertindak sebagai wakilnya. Di tingkat sekolah kunci perubahan terletak pada kepala sekolah, yang menyusun rencan pengelolaan perubahan sekolah, yang menyusun rencana pengelolaan perubahan jangka pendek maupun panjang dan kegiatan para stakeholder utama di sekolah. Orang tua dan masyarakat melalui BP3 masing-masing sekolah juga aktif dilibatkan dalam mengelola perubahan ini.

Untuk menunjang keberhasilan program ini Telekom Malaysia memberikan harga khusus pemanfaatan jasa telekomunikasi kepada sekolah-sekolah dan Departemen Pendidikan. Perusahaan lain, Maxis, bersama Telekom Malaysia memberikan akses Internet dan telepon ke 220 sekolah terpencil dan masyarakat sekitarnya di Sabah dan Serawak. Microsoft juga memberikan harga khusus kepada sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.

Kecuali Smart School program pendidikan lainnya yang memanfaatkan ICT adalah pengajaran IPA dan matematika dengan menggunakan bahasa Inggris, program komputerisasi sekolah, dan The Universal Service Provision Project yang kesemuanya dimaksud untuk memberikan akses yang sama pada pendidikan yang bermutu bagi setiap anak terlepas dari latar belakang agama, budaya, dan sukunya.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Manfaat TIK dalam pendidikan adalah sebagai berikut: Memperluas kesempatan belajar, Meningkatkan efisiensi, Meningkatkan kualitas belajar, Meningkatkan kualitas mengajar, Memfasilitasi pembentukan keterampilan, Mendorong belajar sepanjang hayat, Meningkatkan perencanaan kebijakan manajemen, Mengurangi kesenjangan digital.

Karena keterbatasan waktu dan tempat sehingga tidak dapat memafarkan pendayagunaan teknologi pendidikan secara detail di berbagai negara dan hanya dua negara saja yang dapat dipaparkan, namun dari uraian sekilas tadi jelas telihat bahwa setiap negara berusaha meningkatkan mutu sumber daya manusia dan bangsanya dalam memasuki era persaingan global melalui pendidikan.

Terlepas dari perkembangan ekonomi, setiap negara berusaha mendayagunakan teknologi pendidikan untuk meningkatkan mutu serta memperluas kesempatan belajar dengan istilah yang bervariasi; teknologi pendidikan, teknologi komunikasi dan informasi, teknologi informasi. Jenis teknologi yang digunakan di berbagai negara juga bervariasi sesuai dengan kebutuhan serta kondisi yang ada mulai dari yang sederhana hingga yang canggih.

Teknologi apa pun yang dipakai sistem pendidikan yang terencana baik serta responsif akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi upaya pendayagunaan teknologi untuk pendidikan tersebut.

3.2 Saran

Demikian makalah yang dapat kami susun dan kami sangat menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan maka kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan pengembangan sangat kami harapkan. Dan semoga ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Warsita. (2008). Teknologi Pembelajaran dan aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.

http://sakura-ilmi.blogspot.co.id/2015/01/pendayagunaan-teknologi-pendidikan-di.html

http://cucuernawati.blogspot.co.id/2011/05/pendayagunaan-teknologi-pendidikan-di.html

2016-10-08 9:14 GMT+07:00 Danang Siswo Buntoro <danang.siswo>:

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 November 2016 in Tak Berkategori

 

STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu:

Iwan Hermawan S.Ag., M.Pd.I

Disusun Oleh:

Kelompok 2 Semester VII A (PAI)

Tarki 1341170501159

Inten Massaro 1341170501050

Keke Rizki Dianti 1341170501098

Siti Nuraeni 1341170501087

Tacih Widianingsih 1341170501022

Windy Juniarti 1341170501046

Siwi Ismayanti 1341170501111

PRORAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Untuk menunjang keberhasilan pembelajaran, pada dasarnya adalah menentukan strategi pembelajaran yang sejalan dengan kurikulum. Membahas strategi pembelajaran, banyak sekali jenis strategi yang dapat diterapkan. Di antaranya strategi pembelajaran yang dikembangkan dari suatu teori yang dikenal dengan teori Multiple Intelligence. Teori tersebut digunakan sebagai trobosan strategi pembelajaran, karena di dalamnya membicarakan tentang keberagaman yang bertautan dengan kompetensi peserta didik.

Pada dasarnya setiap kurikulum menitikberatktan pada pencapaian suatu kompetensi tertentu peserta didik. Strategi Multiple Intelligence pun memandang bahwa seseorang/manusia memiliki beberapa potensi kecerdasan. Salah satu dari kecerdasan setiap peserta didik itulah yang harus dikembangkan, sehingga pada akhirnya menjadi suatu kompetensi yang sangat dominan dikuasainya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran berbasis multiple intelligence?

2. Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menerapkan multiple intelligence?

1.3 Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui maksud dari multiple intelligence.

2. Untuk mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menerapkan multiple intelligence.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligence

Pembelajaran berbasis multiple intelligences (MI) pada prakteknya adalah memacu kecerdasan yang menonjol pada diri siswa seoptimal mungkin, dan berupaya mempertahankan kecerdasan lainnya pada standar minimal yang telah ditentukan oleh sekolah atau lembaga. Selain itu, pembelajaran berbasis multiple intelligences (MI), adalah suatu upaya mengoptimalkan kecerdasan majemuk yang dimiliki setiap individu (siswa) untuk mencapai kompetensi tertentu yang dituntut oleh sebuah kurikulum.

Multiple Intelligences (MI) lahir sebagai koreksi terhadap konsep kecerdasan yang dikembangkan oleh Alfred Binet (1904), yang meletakkan dasar kecerdasan seseorang pada Intelligences Quotient (IQ) saja. Berdasarkan tes IQ yang dikembangkannya, Binet menempatkan kecerdasan seseorang dalam rentang skala tertentu yang menitikberatkan pada kemampuan berbahasa dan logika semata. Dengan kata lain apabila seseorang pandai dalam bahasa dan logika, maka ia pasti memliki IQ yang tinggi. Tes yang dikembangkan Binet ini, menurut Gardner (1983) belum mengukur kecerdasan seseorang sepenuhnya, sebab tes IQ Binet baru mewakili sebagian kecerdasan yang ada yaitu kecerdasan linguistik, matematis-logis, dan spasial saja. Dengan kata lain belum meliputi delapan jenis kecerdasan yang ada; yaitu kecerdasan lingustik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal; dan kecerdasan naturalis.

Pembelajaran berbasis multiple intelligences (MI) pada prakteknya adalah memacu kecerdasan yang menonjol pada diri siswa seoptimal mungkin, dan berupaya mempertahankan kecerdasan lainnya pada standar minimal yang telah ditentukan oleh sekolah atau lembaga. Selain itu, pembelajaran berbasis multiple intelligences (MI), adalah suatu upaya mengoptimalkan kecerdasan majemuk yang dimiliki setiap individu (siswa) untuk mencapai kompetensi tertentu yang dituntut oleh sebuah kurikulum.

Secara garis besar karakteristik dan ciri-ciri dari masing-masing kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kecerdasan Lingustik

Kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Selain itu kecerdasan ini juga meliputi kemampuan memanipulasi struktur bahasa, fonologi atau bunyi bahasa, semantik atau makna bahasa, dimensi pragmatik atau penggunaan praktis bahasa, menemonik atau hapalan, eksplanasi dan metabahasa. Adapun ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan ini adalah:

a. Suka menulis kreatif.

b. Suka mengarang kisah khayal atau menuturkan lelucon.

c. Sangat hafal nama, tempat, tanggal atau hal-hal kecil.

d. Membaca di waktu senggang.

e. Mengeja kata dengan tepat dan mudah.

f. Menyukai pantun lucu dan permainan kata.

g. Suka mengisi teka-teki silang.

h. Menikmati dengan cara mendengarkan.

i. Memiliki kosakata yang luas.

j. Unggul dalam mata pelajaran bahasa (membaca, menulis, dan berkomunikasi).

2. Kecerdasan Matematis-Logis

Kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan pada pola dan hubungan logis, pernyataan dan dalil, fungsi logika dan kemampuan abstraksi-abstraksi lainnya. Adapun ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan ini adalah:

a. Menghitung problem aritmetika dengan cepat di luar kepala.

b. Menikmati penggunaan bahasa komputer atau program software logika.

c. Suka mengajukan pertanyaan yang bersifat analisis, misalnya mengapa hujan turun? di mana ujung langit? dan sebagainya.

d. Ahli dalam permainan permainan strategi, seperti catur, halma, dan sebagainya.

e. Mampu menjelaskan masalah secara logis.

f. Suka merancang eksperimen untuk pembuktian sesuatu.

g. Menghabiskan waktu dengan permainan logika, seperti teka-teki.

h. Suka menyusun dalam kategori atau hierarki.

i. Mudah memahami hukum sebab dan akibat.

j. Berprestasi dalam pelajaran Matematika dan IPA.

3. Kecerdasan Spasial

Kemampuan mengekspresikan dunia spasial-visual secara akurat, dan kemampuan mentransformasikan persepsi dunia spasial-visual tersebut dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu kecerdasan ini juga meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan antar unsur. Kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual atau spasial, dan mengorientasiakn diri secara tepat dalam matrik spasial. Adapun ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan ini adalah:

a. Memberikan gambaran visual yang jelas ketika menjelaskan sesuatu.

b. Mudah membaca peta, grafik, dan diagram.

c. Menggambar sosok orang atau benda persis aslinya.

d. Senang melihat film, slide, foto-foto, atau karya seni lainnya.

e. Sangat menikmati kegaiatan visual, seperti teka-teki jigsaw, maze, atau sejenisnya.

f. Suka melamun dan berfantasi.

g. Membangun konstruksi tiga dimensi, seperti bangunan lego.

h. Mencoret-coret di atas kertas atau di buku tugas sekolah.

i. Lebih memahami informasi lewat gambar daripada kata-kata atau uraian.

j. Menonjol dalam mata pelajaran Seni.

4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani

Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan, ketrampilan menggunakan tangan untuk menciptakan sesuatu dan kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik, seperti: keseimbangan, kekuatan, kelenturan, kecepatan, dan hal-hal yang berkaitan dengan sentuhan (tactile dan haptic). Adapun ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan ini adalah:

a. Banyak bergerak ketika sedang duduk atau mendengarkan sesuatu.

b. Aktif dalam kegiatan fisik, seperti berenang, bersepeda, hiking, skateboard.

c. Perlu menyentuh sesuatu yang sedang dipelajarinya.

d. Menikmati kegiatan melompat, lari, gulat, atau kegiatan fisik sejenis.

e. Memperlihatkan ketrampilan dalam bidang kerajinan tangan, seperti kerajinan kayu, menjahit, mengukir, memahat.

f. Pandai menirukan gerakan, kebiasaan, atau perilaku orang lain.

g. Bereaksi secar fisik terhadap jawaban masalah yang dihadapinya.

h. Menikmati kegiatan dengan tanah liat, melukis dengan jari, atau kegiatan kotor lainnya.

i. Suka membongkar berbagai benda kemudian menyusunnya lagi.

j. Berprestasi dalam mata pelajaran olahraga, mekanik, dan yang bersifat kompetitif.

5. Kecerdasan Musikal

Kemampuan mengapresiasikan berbagai bentuk musikal, membedakan, menggubah, dan mengeksprsikannya. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan terhadap irama, pola nada atau melodi, dan warna nada atau warna suara suatu lagu. Adapun ciri-ciri orang yang memliki kecerdasan ini adalah:

a. Suka memainkan alat musik di rumah atau di sekolah.

b. Mudah mengingat melodi suatu lagu.

c. Lebih bisa belajar dengan iringan musik.

d. Suka mengoleksi kaset-kaset atau CD lagu-lagu.

e. Bernyanyi atau bersenandung untuk diri sendiri atau orang lain.

f. Mudah mengikuti irama musik.

g. Mempunyai suara yang bagus untuk bernyanyi.

h. Peka terhadap suara-suara atau bunyi-bunyian di lingkungannya.

i. Memberikan reaksi yang kuat terhadap berbagai jenis musik.

j. Berprestasi sangat bagus dalam mata pelajaran Musik.

6. Kecerdasan Interpersonal

Kemampuan mempersepsikan dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi serta perasaan orang lain. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan terhadap ekspresi wajah, gerak isyarat, kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal, dan kemampuan mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu. Adapun ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan ini adalah:

a. Mempunyai banyak teman di sekolah maupun di lingkungannya.

b. Suka bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal.

c. Sangat mengenal lingkungannya.

d. Banyak terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah.

e. Berperan sebagai penengah ketika terjadi pertikaian atau konflik di antara teman.

f. Menikmati berbagai permainan kelompok.

g. Berempati besar terhadap perasaan atau penderitaan orang lain.

h. Suka dicari sebagai “penasihat” atau “pemecah masalah” oleh temannya.

i. Sangat menikmati pekerjaan orang lain.

j. Berbakat menjadi pemimpin dan berprestasi dalam mata pelajaran Ilmu Sosial.

7. Kecerdasan Intrapersonal

Kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Selain itu kecerdasan ini juga meliputi kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, keinginan, berdisplin diri, dan kemampuan menghargai diri. Adapun ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan ini adalah:

a. Memperlihatkan sikap independen dan kemauan kuat.

b. Bersikap realistis terhadap kekuatan dan kelemahannya.

c. Memberikan reaksi keras terhadap topik-topik kontroversial dengan dirinya.

d. Bekerja atau belajar dengan baik seorang diri.

e. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi.

f. Kecenderungan mempunyai pandangan yang lain dari pandangan umum.

g. Banyak belajar dari kesalahan masa lalu.

h. Dengan tepat mengekspresikan perasaannya.

i. Berpikir fokus dan terarah pada pencapaian tujuan.

j. Banyak terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri.

8. Kecerdasan Naturalis

Keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan terhadap fenomena-fenomena alam lainnya, dan kemampuan membedakan benda-benda tak hidup dengan benda-benda hidup lainnya. Adapun ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan naturalis ini adalah:

a. Suka dan akrab dengan berbagai hewan peliharaan.

b. Sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka, seperti kebun, taman, hutan dan sebagainya.

c. Menunjukkan kepekaan terhadap panorama alam, seperti pemandangan, gunung, awan, pantai, dan sebagainya.

d. Suka berkebun atau dekat dengan taman dan memelihara binatang.

e. Menghabiskan waktu dekat akuarium atau sistem kehidupan alam lainnya.

f. Memperlihatkan kesadaran ekologis yang tinggi.

g. Menyakini bahwa binatang mempunyai hak sendiri dan perlu dilindungi.

h. Mencatat berbagai fenomena alam yang melibatkan hewan dan tumbuhan.

i. Suka membawa pulang serangga, bunga, daun atau benda-benda alam lainnya.

j. Berprestasi dalam mata pelajaran IPA, Biologi, dan lingkungan hidup.

Adapun yang menarik dalam penelitian yang dilakukan oleh Gardner terhadap kedelapan jenis kecerdasan tersebut, bahwa setiap kecerdasan bekerja dalam sistem otak yang relatif otonom. Artinya setiap kecerdasan mengelola informasi secara parsial, menyimpannya secara parsial, namun pada saat mengeluarkannya (mereproduksinya kembali), kedelapan jenis kecerdasan yang ada bekerja sama secara unik untuk menghasilkan informasi sesuai dengan yang dibutuhkan.

2.2 Langkah-Langkah Penerapan Strategi Pembelajaran Multiple Intelligences (MI)

Ada dua tahapan yang harus dilakukan dalam penerapan strategi pembelajaran MI agar mendapatkan hasil yang optimal, yaitu:

1. Memberdayakan semua jenis kecerdasan pada setiap mata pelajaran.

Memberdayakan semua jenis kecerdasan pada setiap mata pelajaran adalah ibarat meng-input informasi melalui delapan jalur ke dalam otak memori siswa. Bila Bloom (1956), menekankan pada tiga jalur dominan yang ada yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor; maka Gardner (1999), menekankan pada delapan kecerdasan yang dimiliki setiap siswa, yaitu: kecerdasan linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.

Secara empirik untuk menerapkan strategi pembelajaran MI dapat dimulai dengan melakukan reposisi pada kurikulum yang ada sekarang, baik itu kurikulum 1994 yang disempurnakan maupun Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Hal ini dilakukan dengan cara mengubah Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang ada menjadi kompetensi yang diharapakan. Dengan demikian, setiap TIK atau pokok bahasan dituntut untuk memberdayakan semua atau sebagian besar jenis kecerdasan yang ada.

Sebagai contoh mata pelajaran Agama Islam, dengan acuan TIK “Siswa mampu mempraktikkan Ritual Haji”, kecerdasan linguistik siswa dapat berjalan pada fase ketika siswa melafadzkan bacaan-bacaan ritual haji, dari segi kecerdasaan kinestetik-jasmani dapat tersalurkan ketika siswa mengerjakan rukun haji, begitupun dengan kecerdasan matematis-logisnya dapat diolah ketika siswa harus mampu mengingat satu persatu rukun haji yang dikerjakannya dengan baik dan benar, dan untuk kecerdasan naturalisnya dapat juga tersalurkan ketika praktik ritual haji tersebut diselenggarakan di alam terbuka dengan gambar dan settingan yang menyerupai aslinya, ditambah dengan kecerdasan-kecerdasan lain yang dapat dicapai dari praktik ritual haji tersebut. Dengan hanya satu materi pelajaran yang diajarkan, guru dapat sekaligus mengkombinasikan berbagai kecerdasan yang ada dengan segala kekreatifitasannya.

2. Mengoptimalkan pencapaian mata pelajaran tertentu berdasarkan kecerdasan yang menonjol pada masing-masing siswa.

Tahapan kedua ini ditempuh apabila secara faktual guru telah mengidentifikasi kecerdasan yang menonjol pada masing-masing siswa. Sekali lagi, baik Gardner (1999), maupun Amstrong (2002), selalu mengingatkan bahwa ada satu atau lebih kecerdasan yang menonjol pada masing-masing individu (siswa). Bila kita menyadari hal ini, mengapa kita tidak mengoptimalkannya menjadi sesuatu yang bermakna bagi siswa. Atau menjadikannya sebagai jati dirinya, meskipun untuk bidang yang lainnya harus puas dengan standar minimal yang ditetapkan oleh masing-masing lembaga.

Dalam penerapan tahap kedua ini strategi pembelajaran yang digunakan lebih bersifat personal atau individual. Siswa yang memiliki kecerdasan Lingiustik misalnya, akan dioptimalkan pencapaian hasil belajarnya pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra. Sedangkan mereka yang mempunyai kecerdasan Matematis-Logis misalnya, akan diarahkan pada pencapaian hasil belajar Matematikanya seoptimal mungkin melalui pemberian layanan individu dan akses keberbagai kesempatan yang memungkinkan kecerdasan Matematikanya terus berkembang.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Strategi pembelajaran multiple intelligence merupakan suatu upaya mengoptimalkan kecerdasan majemuk yang dimiliki setiap individu (siswa) untuk mencapai kompetensi tertentu yang dituntut oleh sebuah kurikulum yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah. Multiple intelligence ini juga dapat dijadikan alternatif bagi para pendidik dalam berupaya untuk menjadikan siswanya menjadi juara pada bidang tertentu sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya. Siswa tidak hanya menguasai konsep pengetahuan semata, tetapi ia juga dapat menerapkan pengetahuannya dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan kata lain tidak ada yang mustahil bila kita ingin melakukan perubahan dalam strategi pembelajaran yang akan kita gunakan. Kelas berpindah (moving class) merupakan keharusan yang dilakukannya sesuai dengan tuntutan kebutuhan belajar kecerdasan tertentu. Selain itu sistem penilaian tidak cukup hanya menggunakan tes objektif. Tes yang dikembangkan harus lebih variatif, mulai dari uraian, pengamatan, sampai kepada penggunaan portofolio.

3.2 Saran

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam Multiple Intelligence adalah aplikatif dalam strategi ini sebaiknya dipadukan dengan adanya tanggung jawab lembaga-lembaga pendidikan, dan kecerdikan seorang guru dalam memerhatikan bakat masing-masing siswa (peserta didik).

Dalam penulisan makalah ini masih tedapat kekurangan-kekurangan, untuk itu pemakalah mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah kami kedepannya. Atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

http://atepjs.wordpress.com/2008/09/04/pendekatan-multiple-intelligence-dalam-pembelajaran/

http://meilina-jasmine.blogspot.com/2011/12/aplikasi-teknologi-pendidikan-dalam.html

https://kirimtugas.wordpress.com/2014/05/12/strategi-pembelajaran-berbasis-multiple-intelligence/

Prawiradilaga, Dewi Salma,dkk. 2008. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 November 2016 in Tak Berkategori

 

Strategi pembelajaran berbasis multiple intelligences

STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi & Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Iwan Hermawan S.Ag, M.Pd.I

SEMESTER VII/B

Kelompok 2:

• Asep Gunawan(1341170501032)
• Dirman Nurjaman(1341170501011)
• Epul Saepul fajri(1341170501012)
• Bunga Arahmi P(1341170501116)
• Maryatul Kiftiyah(1341170501151)
• Nisa Asmaya(1341170501178)
• Nurhaeni(1341170501077)
• Aan destriani(1341170501036)
• Lamarqiana Towi S(1341170501040)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

KATA PENGATAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah kepada kita semua sehingga kita dapat menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah “Sistem Informasi & Teknologi Pendidikan”

Sholawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda nabi kita yang telah membawa kita dari zaman kebodohan menuju zaman keilmuan yakni Nabi Muhammad SAW, beserta para sahabat dan para tabi’innya. Dan semoga sampai kepada kita selaku umatnya yang mudah-mudahan mendapatkan syafa’atnya di hari kiamat nanti amin.

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik, dan juga kepada teman-teman yang telah memberikan kami saran-saran untuk menjadikan karya kami lebih baik, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya amin.

Karawang, Oktober 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………i

DAFTAR ISIii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang1
1.2 Rumusan Masalah1
1.3 Tujuan Penulisan1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Teori Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk)2

2.2 Macam-Macam Kecerdasan dalam Teori Multiple Intellegence4

2.3 Implementasi Teori Multiple Intelligence dalam Pendidikan9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan14

3.2 Saran14

Daftar Pustaka

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan adalah sebuah proses memberikan lingkungan agar peserta didik dapat berinteraksi dengan lingkungan untuk mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya. Kemampuan tersebut dapat berupa kemampuan kognitif yakni mengasah pengetahuan, kemampuan efektif mengasah kepekaan perasaan, dan kemampuan psikomotorik yakni keterampilan melakukan sesuatu. Dalam hal mengakomodir berbagai kemampuan pada seorang peserta didik, kemampuan ganda multiple intelligence adalah satu bagian penting yang harus diperkenalkan, artinya peserta didik sejak dini sudah harus diberi wawasan, kegiatan, orientasi yang merupakan bentuk ligkungan agar mereka dapat mengembangkan diri sesuai dengan nilai-nilai yang ada diluar sekolah.

Ini maksudnya adalah memperkenalkan multiple Intelligence dalam kegiatan pembelajaran harus dilakukan, dan tentunya memerlukan satu pembahasan yang baik. Pembahasan dimaksudkan untuk memberikan penjelasan, dimana multiple Intelligence adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran siswa dikelas, diluar kelas yang secara keseluruhan adalah bagian dari tanggungjawab.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) ?
1.2.2 Apa saja Kecerdasan dalam Teori Multiple Intelligence ?
1.2.3 Bagaimana Implementasi teori Multiple Intelligence dalam Pendidikan ?

1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk Mengetahui Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence).
1.3.2 Untuk Mengetahui Kecerdasan dalam Teori Multiple Intelligence.
1.3.3 Untuk Mengetahui Implementasi teori Multiple Intelligence dalam Pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk)

Kecerdasan adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam masyarakat. Adapun kecerdasan yang dimiliki setiap orang masing-masing berbeda, sehingga biasanya sering dikenal dengan adanya kecerdasan ganda (majemuk).

Prof. Howard Gardner mengatakan bahwa kecerdasan majemuk yaitu sebuah konsep yang menunjukkan kepada kita bahwa potensi anak-anak kita, khususnya jika dikaitkan dengan kecerdasan ternyata banyak sekali.

Kecerdasan majemuk adalah pendekatan perkembangan dalam belajar yang ditandai anak tumbuh dan berkembang sebagai suatu keseluruhan. Tidak hanya satu dimensi saja yang berkembang dalam suatu waktu tertentu atau sebaliknya tidak semua dimensi memiliki kecepatan perkembangan yang sama.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat kami simpulkan bahwa Kecerdasan majemuk adalah suatu kumpulan kemampuan, ketrampilan, serta potensi yang pada dasarnya dimiliki oleh semua manusia untuk memecahkan masalah dan apabila ditumbuhkembangkan akan dapat membantu proses perkembangan belajar anak secara optimal.

Individu mendapatkan kecerdasan tertentu hanya karena factor kelahiran semata, melainkan juga karena perkembangan dan pengalamannya. Memang manusia dianugerahkan potensi (fitrah), namun perkembangan selanjutnya ditentukan oleh interaksi dengan lingkungannya, individu dan perkembangannya adalah produk dari hereditas dan lingkungan, keduanya sama-sama berperan penting bagi perkembangan individu. Kecerdasan adalah bahasa-bahasa yang dibicarakan oleh semua orang dan sebagian dipengaruhi oleh kebudayaan dimana orang itu dilahirkan, menyelesaikan masalah dan menciptakan semua hal yang bisa digunakan manusia, kecerdasan seseorang bukan hanya prestasi akademik yang diukur berdasarkan nilai tes standar.

Definisi kecerdasan menurut Piaget sebagaimana dikutip Uno Hamzah adalah suatu tindakan yang menyebabkan terjadinya perhitungan atas kondisi-kondisi yang secara optimal bagi organisme dapat hidup berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Sedangkan menurut Feldam dalam Sukmadinata dan Nana S, kecerdasan merupakan kemampuan untuk memahami dunia, berpikir secara rasional dengan menggunakan sumber-sumber atau referensi efektif pada saat menghadapi sebuah tantangan.

Goelman mengemukakan, bahwa kehidupan mental manusia dibentuk dari dua pikiran yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional yang bekerja dalam keselarasan yang erat, dan saling melengkapi. (Goleman, 2001,11-12). Kecerdasan pikiran rasional diukur dengan IQ (intelligence Question). Test IQ digunakan sebagai dasar meramalkan kemampuan bidang karir akademik.

Selama ini IQ diyakini sebagai satu satunya faktor yang menentukan kesuksesan seseorang. Penyelidikan ilmiah pertama yang pernah dilakukan membandingkan kecerdasan emosional (emotional intelligence) dengan cognitive inteligence (IQ), dilakukan dengan cara mengukur prestasi kerja menggunakan Baron Emotional Questient Inventory (EQ-i). Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa cognitive intelligence (IQ) mempengaruhi sekitar 1% performance kerja aktual. EI (emotional intelligence) mempengaruhi sebesar 27 % dan 72 % lainnya dipengaruhi oleh hal hal lain. (Multi-Health Systems Inc, 1998,2-3). Stein dan Book menyatakan bahwa IQ dapat digunakan untuk mempekirakan sekitar 1-20 % (rata-rata 6 %) keberhasilan dalam pekerjaan tertentu. EQ di sisi lain ternyata berperan sebesar 27-45 %, dan berperan langsung dalam keberhasilan pekerjaan tergantung pada jenis pekerjaan yang diteliti. (Stein dan Book, 2000,34).

Secara bahasa Multiple Intelligence diartikan kecerdasan majemuk, ada juga yang mengartikan kecerdasan beragam.Awalanya Howard Gardner menyusun daftar tujuh Intelligence yang dimiliki manusia dalam buku fenomenanya, Frames of Mindyakni kecerdasan linguistic, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasialis, kecerdasan musical, kecerdasan gerak badan/kinestetik, kecerdasan interpersonal, pada bukunya Intelligence Reframed (2000), ia menambahkan adanya da kecerdasan naturalis atau lingkungan dan kecerdasan eksistensial. Akan tetapi, sebenarnya kecerdasan manusia tidak hanya sebatas pada Sembilan kecerdasan yang disebutkan diatas.Teori kecerdasan majemuk Gardner masih mungkin terus berkembang sehingga pembahasan mengenal kecerdasan manusia akan selalu menarik. Maka penilaian kecerdasan yang mengacu hanya pada ranah akademis sangat tidak tepat.

2.2. Macam-Macam Kecerdasan dalam Teori Multiple Intellegence

Gardner yang terkenal dengan multiple intelligence tidak memandang kecerdasan manusia sema berdasar secor tes standar, tetapi meliputi 8 macam kecerdasan manusia yaitu: (1) Linguistik intelligence (kecerdasan lnguistik); (2) Logical-mathematical intelligence (kecerdasan logika-matematika); (3) Spatial intelligence (kecerdasan spasial berpikir dalam tiga dimensi); (4) Bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinestetik-tubuh); (5) Musical intelligence (kecerdasan musik); (6) Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal); dan (7) Intrapersonal intelligence (kecerdasan intrapersonal) dan (8) Kecerdasan Naturalis (Campbell, Campbell dan Dickinson, 2002,2-3).

1. Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan Lingusitik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecrdasan ini mencakup kemampuan untuk menangani struktur bahasa (sintaksis), suara (fonologi) dan arti (semantik).

Kemampuan mempelajari bahasa ada dalam diri setiap anak. Tidak peduli anak itu lahir di mana dan dari suku bangsa atau negara apa, apabila ia mendapat rangsangan auditori, anak akan mampu berbicara dengan bahasa yang digunakan komunitasnya. Rangsangan auditori ini tentunya adalah bahasa yang digunakan orangtuanya.

Untuk bisa berhasil dalam mempelajari suatu bahasa mutlak dibutuhkan suatu lingkungan yang penuh dukungan, yang memperbolehkan terjadinya kesalahan dalam proses pembelajaran, lingkungan yang menyenangkan dan menantang. Lingkungan seperti ini sangat menentukan kecepatan dan keberhasilan penguasaan suatu bahasa, pada masa-masa puncak daya serap dan kemampua anak mempelajari bahasa ibunya. Dr. George Lozanov sanagt memahami persyaratan ini dan iaberhasil menciptakan kembali, melalui teknik suggestopedic yang ia kembangkan.

Anak dengan kecerdasan lingusitik yang terasah dengan baik akan menunjukkan kesukaan dalam bermain dan manipulasi data. Mereka menyukai puisi, rima, permainan kata, dan pintar mengekspresikan diri mereka melalui bahasa tulisan maupun lisan.

2. Kecerdasan Matematika dan Logika

Orang dengan kecerdasan matematika dan logika yang berkembang adalah orang yang mampu memecahkan masalah, mampu memikirkan dan menyusun solusi dengan urutan yang logis.

Menurut Gardner, model perkembangan kognitif yang disetuskan oleh Jean Piaget secara garis besar sebenarnya merupakan gambaran dari pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan matematika dan logika. Jadi mulai dari interaksianak dengan obyek dalam ruang dan waktu, melalui pengenalan akanangka dan perkembangan pemahaman akan simbol abstrak dan kemampuan untuk memanipulasi simbol tersebut dan implikasi dari hipotesis.

Anak dengan kecerdasan matematika dan logika yang terasah dengan baik akan suka sekali dalam penyelesaian suatu masalah, menunjukkan minat yang besar terhadap analogi dan silogisme. Mereka suka aktivitas yang melibatkan angka, urutan, pengukuran, perkiraan.

3. Kecerdasan Visual dan Spasial

Kecerdasan visual dan spasial adalah kemampuan untuk melihat dan mengamati dunia visual-spasial secara akurat, dan kemudian bertindak atas persepsi tersebut. Jenis kecerdasan ini sangat menonjol dalam diri pemain catur, navigator, arsitek maupun desainer.

Kecerdasan visual dan spasial sangat jelas terlihat pada anak-anak. Kemampuan ini terlihat dengan sangat jelas saat anak bermain dengan melibatkan imajinasi mereka. Misalnya saat anak bermain peran atau saat main rumah-rumahan dan pasar-pasaran. Saat itu mereka sedang menggunakan kecerdasan visual dan spasial. Kemampuan atau kecerdasan ini, seperti lainnya dapat kita latih dan kembangkan. Tidak jadi masalah berapa usia kita saat ini.

Orang yang telah mengembangkan kecerdasan visual dan spasial mereka dengan baik akan mampu untuk menciptakan kembali gambar dari kejadian atau obyek yang pernah mereka alami, termasuk mengingat kembali emosi yang berhubungan dnegan pengalaman mereka.

4. Kecerdasan Musik

Kecerdasan musik adalah kemampuan untuk menikmati, mengamati, membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan benuk-bentuk musik. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme, melodi dan timbre dari musik yang didengar. Bakat musik muncul pada usia yang sangat dini. Musik mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kemampuan matematika dan ilmu sains dalam diri seorang anak.

Murid di sekolah vokal, yang mayoritas kurikulumnya adalah tentang seni dan suara, ternyata menunjukkan kemampuan yang tinggi dalam bidang matematika. Banyak peneliti yang percaya bahwa kemampuan di bidang matematika dan ilmu sains ini berkembang karena murid sejak kecil telah dilatih memanipulasi nada suara, tempo, ritme, dan mengerti hubungan di antara simbol atau notasi musik.

Penggunaan musik di dalam kelas dapat membantu menciptakan mood atau suasana yang mendukung proses pembelajaran. Musik dapat menciptakan suasana rileks namun waspada. Musik dapat juga membangkitkan semangat. Anak dengan kecerdasan musik yang berkembang akan suka bernyanyi, menyukai ritme musik, puisi, jingle, dan membuat suara-suara yang tidak berarti namun snaat mereka sukai. Mereka dapat belajar dengan lebih maksimal bila musik menemani proses pembelajaran mereka.

5. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasan orang lain. Kecerdasan ini juga melibatkan kepekaan pada ekspresi wajah, suara, gerakan tubuh dari orang lain dan mampu memberikan respons secara efektif dalam berkomunikasi.

Saat kecerdasan personal, interpersonal dan intrapersonal digunakan, maka dalam operasinya kecerdasan personal ini cenderung mengaktifkan dan menggunakan bentuk kecerdasan lainnya.

Kecerdasan interpersonal adalah suatu kemampuan untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap, kepribadian dan karakter orang lain. Dengan menggunakan kecerdasan interpersonal, kita akanmampu mengamati perubahan kecil yang terjadi pada mood, perilaku, motivasi dan perhatian orang lain. Mereka yang berhasil mengembangkan kecerdasan ini dengan sangat baik akan sangat mudah untuk menjadi seorang ahli terapi, konselor, guru, penjual, pembimbing atau mentor dan pembicara publik.

Murid dengan kecerdasan interpersonal yang berkembangdengan baik akan sangat menikmati kegiatan berkelompok dan collaborative learning. Mereka juga sangat suka dengan kegiatan yang mengharuskan mereka melakukan pengamatan interaksi manusia, melakukan wawancara dengan orang dewasa, menetapkan aturan kelas, menentukan dan membagi tugas dan tanggung jawab dan mengikuti permainan yang melibatkan upaya menyelesaikan suatu konflik.

6. Kecerdasan Intrapersonal

Berbeda dengan kecerdasan interpersonal, yang sangat berhubungan dengan diri orang lain, kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri (kekutan dan kelemahan); kesadaran akan mood atau kondisi emosi dan mental diri sendiri, kesadaran akan tujuan, motivasi, keinginan, proses berpikir, dan kemampuan untuk melakukan disiplin diri, mengerti diri sendiri dan harga diri.

Dengan kecerdasan ini selai mampu untuk mengerti perasaan, emosi, motivasi diri sendiri, menilai dan mempertimbangkan proses berpikir, kita juga dapat menyimpulkan tindakan atau perilaku apa yang akan mengikuti proses internal ini. Semakin kita dapat menyadari dan membawa perasaan dan emosi kita ke level pemikiran sadar, kita akansemakin baik dalam berhubungan dengan dunia di luar diri kita. Orang dengan kecerdasan intrapersonal yang kuat adalah orang yang mampu memotivasi dirinya sendir, memiliki tingkat pemahaman yang btinggi dan akurat terhadap dirinya sendiri dan sangat menghargai nilai dan etika moral.

Riset di bidang metakognisi (berpikir mengenai proses berpikir) telah banyak menghasilkan banyak strategi untuk meningkatkan pola berpikir kita. Salah satu teknik yang sangat efektif adalah dengan menggunakan Neuro Linguistic Progamming (NLP). Dalam NLP terdapat sangat banyak teknik yang sangat bagus dan memiliki efek perubahan yang bersifat segera.

Orang dengan kecerdasan intrapersonal yang berkembang baik akan suka menggunakan jurnal atau diari untuk mencatat hal-hal penting yang ada dalam pikiran mereka dan membantu mereka dalam proses pembelajaran. Selain itu mereka juga dapat bekerja secara mandiri. Mereka kadang terlihat malu atau agak tertutup.

Ada perbedaan cukup besar yang terjadi dalam anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan dalam hal perkembangan kecerdasan intrapersonal yang lebih lambat karena mereka sedikit agak terlambat dalam perkembangan linguistik. Anak lelaki bertumbuh dan berkembang dengan penekanan pada kemampuan bertindak, bukan bicara. Sering kali kita menjumpai anak laki yang dituntut untuk “kuat”, tidak boleh cengeng, harus mampu mengatasi perasaan mereka.Mereka jarang diberi kesempatan untuk mengekspresikan perasaan atau emosi mereka. Bahkan mereka mungkin tidak mengerti kata yang harus digunakan untuk menjelaskan emosi mereka seperti marah, sedih, kecewa, jengkel, frustasi, sakit hati, bosan, jenuh, tersinggung, senang, hembira, bahagia.

Dunia anak laki berbeda dengan anak perempuan dengan pengertian anak laki sering kurang reflektif, kurang mampu berpikir ke dalam. Mereka lebih fokus pada tindakan dan hasil, hierarki, dan persaingan.

7. Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan kinestetik merupakan kecerdasan yang berhubunga dengan kemampuan kita dalam menggunakan tibuh kita secara terampil untuk mengungkapkan ide atau pikiran dan perasaan, mampu bekerja dengan baik dalam memanipulasi obyek. Kecerdasan ini juga meliputi keterampilan dalam bidang koordinasi, keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan. Kecerdasan ini sangat menonjol pada diri seorang penari, atlet, pematung, pemusik, aktor, mekanik, dokter bedah, ahli permata.

Integrasi gerakan ke dalam proses pembelajaran akansangat membantu meningkatkan daya ingat karena otak mengingat dan menjangkarkan informasi yang dipelajari dengan memasukan unsur pengalaman.

Contoh yang mudah adalah ketika kita mengajarkan anak menghapal posisi sutau negara dengan menggunakan peta dunia.Bila sekedar menghapal dengan menggunakan peta dunia.Bila sekadar menghapal dengan cara melihat, murid mungkin akan binggung. Untuk membantu murid meningkatakn daya ingatnya, mintalah murid untuk menggambarkan peta itu dalam ukuran yang besar, di lantai, dan minta murid untuk berjalan menuju negara yang anda sebutkan.

Sangat disayangkan, seiring dengan semakin tingginya level pendidikan, maka kemungkinan murid untuk mengakses dan menggunakan kecerdasan ini semakin berkurang. Sangat jarang ditemui praktek pengajaran dikelas yang membolehkan murid bergerak aktif. Murid umumnya diwajibkan untuk duduk manis dengan tangan terlipat di depan dada dan diam saat guru mengajar.

Murid kinestetik, di kelas, dapat diberdayakan dengan menggunakan teknik simulasi, permainan kartu, permainan peran, drama, perjalanan, kunjungan ke lingkungan.

8. Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, menggolongkan dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai di alam maupun di lingkungan. Inti dari kecerdasan ini adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta. Walau pada awalnya kecerdasan ini berkembang sebagai alat untuk manusia berhubungan dengan alam sekitar, perkembangan terakhir dari kecerdasan ini juga meliputi kemampuan untuk membedakan benda buatan manusia seperti mobil, sepatu, tas, rumah dan pesawat.

Contohnya seperti mungkin ibu-ibu heran mengapa suami mereka mampu mengenali jenis mobil, merek, tipe, tahun pembuatan, hanya dengan sekali melihat. Padahal bagi ibu-ibu semua mobil itu sama.

Perwujudan dari kecerdasan naturalis adalah orang yang hobi mengumpulkan perangko, memelihara tanaman atau hewan, pencinta alam, pendaki gunung.

2.3. Implementasi Teori Multiple Intelligence dalam Pendidikan

Konsep tentang Multiple Intelligence yang digagas Gardner merupakan salah satu perkembangan paling penting dan menjanjikan dalam pendidikan, Howard Gardner selalu memaparkan tiga hal yang berkaitan dengan MI, yaitu komponen inti, kompetensi, dan kondisi akhir terbaik. Tiga hal tersebut berkaitan dnegan dunia pendidikan, setiap area dalam otak yang disebut lobus of brain ternyata memiliki komponen inti berupa potensi kepekaan yang akan muncul apabila diberi stimulus yang tepat, kepekaan inilai yang akan menghasilkan kompetensi tersebut dilatih terus menerus dalam silabus yang tepat, akan muncul kondisi akhir terbaik dari seseorang.

Dalam dunia pendidikan, teori Multiple Intelligence bisa menjadi sebuah strategi pembelajaran untuk materi apapun dalam semua bidang studi. Inti dari strategi pembelajaran ini adalah bagaimana guru mengemas gaya mengajarnya agar mudah ditangkap dan dimengerti.

a) S-Kecerdasan Spasial-Visual

Kecerdasan ini berkait erat dengan gambar. Untuk membantu siswa mengembangkan kecerdasan spaial-visual ini guru bisa menggambar peta dan labirin ;memimpin kegiatan visualisasi; mengajarkan pemetaan pikiran; menyediakan kesempatan untuk memperlihatkan pemahaman melalui gambar; meminta siswa merancang bangunan, pakaian, pemandangan untuk menggambarkan peristiwa atau periode sejarah.

Strategi yang dapat digunakan untuk mengaktifkan kecerdasan spasial-visual antara lain:

a) Warna

Anak-anak yang mempunyai kecerdasan ini peka terhadap warna. Warna-warna yang menarik pada objek-objek pelajaran dan peralatan kelas sangat membantu mempercepat pemahaman siswa. Dengan cara demikian, sesuatu yang sulit akan lebih mudah dipahami oleh mereka.

b) Grafis

Dengan menggambar anak lebih mudah untuk memahami peajaran yang sedang dipelajari, akan tetapi kejelasan tingkat pengandaian masalah dalam bentuk gambar, bukan pada keindahan gambar.

c) Visualisasi

Bentuk praktis cara ini akan membantu anak mengingat sesuatu berdasarkan gambar, yakni dengan meminta anak untuk memejamkan mata mereka dan membayangkan gambar yang baru saja mereka lihat.

b) L-Kecerdasan Linguistik-Verbal

Untuk membantu siswa mengembangkan kecerdasan Linguistik-Verbal ini guru bisa mendorong penggunaan kata-kata tidak lazim, dan palindrom; melibatkan siswa dalam debat dan presentasi lisan; menunjukkan bagaimana puisi dapat menyampaikan emosi.

Strategi yang dapat digunakan untuk mengaktifkan kecerdasan linguistik-verbal ini antara lain:

a) Mendongeng

Mendongeng sudah menjadi tradisi dalam sejarah peradaban manusia untuk menyampaikan suatu pengetahuan yang bersifat sosial maupun eksakta. Untuk membuat cerita atau dongeng yang menarik sebaiknya anak-anak dibawa ke sebuah perjaanan fantasi dan fiktif.

b) Bahasa yang asing

Memberi sapaan kepada anak dengan menggunakan bahasa asing sangat membantu mengembangkan kecerdasan bahasa.

c) Curah pendapat (brain –storming)

Peraturan dasar untuk sebuah curah pendapat adalah keluarkan dan bagikan semua yang ada dalam pikiran dan angan-angan yang berhubungan dengan topik pembicaraan.

d) Menulis

Menulis dapat secara rutin dikerjakan oleh anak-anak untuk merekam perasaan, tulisan atau gambaran mental yang mereka miliki, apa pun bentuknya.

c) Kecerdasan Interpersonal

Untuk membantu siswa mengembangkan kecerdasan interpersonal ini guru bisa menggunakan pembelajaran kerja sama; menugaskan kerja kelompok; memberi siwa kesempatan untuk mengajar teman sebaya; mendiskusikan penyelesaian masalah; menciptakan situasi yang membuat siswa saling mengamati dan memberi masukan.

Strategi yang dapat digunakan untuk mengaktifkan kecerdasan interpersonal ini antara lain:

a) Saling berbagi diantara teman

Saling berbagi diantara teman dapat pula menjadi latihan suatu bahan pelajaran tertentu. Ini bisa dikembangkan dengan membentuk kelompok yang terdiri atas tiga atau empat orang kemudian bekerjasama dalam mengerjakan sesuatu.

b) Simulasi

Ini dimulai dengan membuat suasana yang diciptakan secara bersama-sama, mengandaikan suatu kejadian tertentu secara bersama-sama.

d) M-Kecerdasan Musikal-Ritmik

Untuk membantu siswa mengembangkan kecerdasan Musikal-ritmik ini guru bisa mengubah lirik lagu untuk mengajarkan konsep; mendorong siswa menambahkan musik dalam drama; menciptakan rumus atau hafalan berirama; mengajarkan sejarah dan geografi melalui musik dari masa dan tempat terkait.

e) N-Kecerdasan Naturalis

Secara alami, semua anak juga memiliki kecerdasan naturalis untuk bisa berdampingan secara selaras dengan alam.

Strategi yang dapat digunakan untuk mengaktifkan kecerdasan naturalis ini antara lain:

a) Melihat kebun dan sawah

Dengan melihat dan mengamati kegiatan yang dilakukan oleh pemilik kebun atau petani, maka itu menjadi awal perkenalan kepada alam dan pentingnya hidup selaras dengan alam.

b) Melihat kebun binatang

Akan sangat bermanfaat jika pengetahuan ini dijadikan bahan permainan, misalnya dengan memperdengarkan suara binatang, lalu anak didik diminta untuk menyebutkan binatang tersebut.

f) B-Kecerdasan Badan-Kinestetik

Memberi pertanyaan kepada anak didik dan menyuruh mereka menjawab dengan menggunakan tubuh sebagai alat ekspresi merupakan salah satu cara mengasah kecerdasan badan kinestetik. Ada berbagai variasi cara dalam strategi ini, main mata atau mengacungkan jari.

g) Kecerdasan Intrapersonal

Para pengajar perlu memberikan kesempatan yang banyak agar anak didik dapat merasa mengalami bahwa diri mereka adalah makhluk berdiri sendiri, yang memiliki kehidupan unik dan individualis.

Strategi yang dapat digunakan untuk mengaktifkan kecerdasan intrapersonal ini antara lain:

a) Merenung dan introspeksi diri

Mengajak anak didik untuk merenung dan introspeksi diri dapat memberikan mereka kesempatan untuk mencerna dan menghubungkan informasi yang telah diberikan dengan diri sendiri.

b) Hubungan pribadi

Mengembangkan dan membuat tradisi berintrospeksi diri ini menjadi tugas kita dalam mengembangkan kecerdasan intrapersonal. Saat penuh perasaan, ada berbagai cara untuk menciptakan saat-saat yang diwarnai perasaan dengan pertama-tama memodelkan emosi yang ingin diajarkan, lalu memberikan perasaan aman kepada anak-anak.

h) L-Kecerdasan Logis-Matematis

Komponen –komponen dari kecerdasan logis-matematis ini dapat diterapkan ke seluruh bidang ilmu lainnya.

Strategi yang dapat digunakan untuk mengaktifkan kecerdasan logis-matematis ini antara lain:

a) Kalkulasi dan Kuantifikasi

Para pendidik dapat membantu membiasakan para murid berlogika. Dari sekadar menghitung kursi di kelas sampai menghitung jumlah permen yang sudah habis dimakan.

b) Klasifikasi dan Ketegorisasi

Strategi ini bertujuan untuk mengorganisasikan fragmen-fragmen informasi yang diterima agar lebih mudah untuk diingat, dipikirkan, dan dibicarakan. Seorang anak yang diajarkan untuk membuang sampah organik dan sampah plastik secara terpisah dapat juga menjadi pelajaran yang berarti dalam mengembangkan kecerdasan logis-matematis.

c) Berpikir ilmiah

Ini dilakukan dengan membangun minat dan rasa peduli anak didik terhadap isu-isu ilmiah. Misalnya, kalau membuang sampah sembarangan menyebabkan kotor, tempat yang kotor dan berair akan menjadi sarang nyamuk. Nyamuk jika menggigit bisa menimbulkan penyakit seperti demam berdarah dan malaria. Hal ini karena di dalam tubuh nyamuk tertentu mengandung bibit penyakit tersebut.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Dari pembahasan makalah kami ini, kami dapat menyimpulkan :

1. Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang mempunyai nilai budaya atau suatu kumpulan kemampuan/ketrampilan yang ditumbuhkembangkan. Semua manusia ataupun dalam konteks makalah adalah anak didik pada dasarnya mempunyai kecerdasan, akan tetapi untuk mengembangkan kecerdasan tersebut masing-masing mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.
2. Sebagai guru, agar mampu mengoptimalkan belajara anak didiknya setidaknya harus mengetahui kecerdasan serta gaya belajar yang dimiliki masing-masing anak didik. Berbagai macam kecerdasan yang dimiliki masing-masing anak adalah:
a) Kecerdasan lingustik
b) Kecerdasan matematika dan logika
c) Kecerdasan visual dan spasial
d) Kecerdasan music
e) Kecerdasan interpersonal
f) Kecerdasan intrapersonal
g) Kecerdasan kinestetik
h) Kecerdasan naturalis

3.2. Saran

Dari pembahasan makalah kami, semoga bisa bermanfaat bagi khalayak umum, khusunya untuk kami sendiri, dan bisa diaplikasikan di dunia pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

✓ Hoerr , Thomas R. 2007. Buku Kerja Multiple Intelligences. Bandung: Kaifa.
✓ Prawiradilaga, Dewi Salma,dkk. 2008. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana
http://atepjs.wordpress.com/2008/09/04/pendekatan-multiple-intelligence-dalam-pembelajaran/

Dikirim dari iPhone saya

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 November 2016 in Tak Berkategori

 

APLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN

APLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN

Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Makalah

Mata Kuliah Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan

Dosen : Iwan Hermawan, S.Ag., M.Pd.I.

Disusun Oleh Kelompok 2:

1. Dewi Fauziyah (1341170501136)

2. Lala Nurmalatifah (1341170501168)

3. Melinda Safitri (1341170501007)

4. Meliyawati (1341170501049)

5. Ranis Malsiva (1341170501004)

6. Ririn Aprilia P (1341170501156)

7. Sayid Salman (1341170501167)

8. Suherni (1341170501089)

9. Tommy Fuziar (1341170501133)

Semester VII (Tujuh) C

Program Studi Pendidikan Agama Islam

Fakultas Agama Islam

UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG

2016

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah “Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan”. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan Sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah “Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan” yang berjudul “APLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN” di Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Negeri Singaperbangsa Karawang. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Iwan Hermawan, S.Ag., M.Pd.I. selaku dosen pembimbing mata kuliah “Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan” dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

Akhirnya kami menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan dan penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Karawang, 22 September 2016

Penulis

DARTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………. 1

A. Latar Belakang Masalah……………………………………………………………………… 1

B. Rumusan Masalah……………………………………………………………………………… 2

C. Tujuan Masalah…………………………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………………… 3

A. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)………………………….. 3

B. Peranan Guru Dalam Pembelajaran Teknologi Informasi (TI)………………….. 5

C. Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran………… 6

D. Masalah-Masalah Dalam Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) 9

E. Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) dalam Pembelajaran PAI…………… 11

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………… 14

A. Kesimpulan……………………………………………………………………………………… 14

B. Saran………………………………………………………………………………………………. 15

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perubahan lingkungan luar dunia pendidikan, mulai lingkungan sosial, ekonomi, teknologi, sampai politik mengharuskan dunia pendidikan memikirkan kembali bagaimana perubahan tersebut mempengaruhinya sebagai sebuah institusi sosial dan bagaimana harus berinteraksi dengan perubahan tersebut. Salah satu perubahan lingkungan yang sangat mempengaruhi dunia pendidikan adalah hadirnya teknologi informasi (TI). Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan elemen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peranan teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar.

Teknologi informasi telah menjadi fasilitas utama bagi kegiatan berbagai sektor kehidupan dimana memberikan andil besar terhadap perubahan – perubahan yang mendasar pada struktur operasi dan manajemen organisasi, pendidikan, trasportasi, kesehatan dan penelitian.Oleh karena itu sangatlah penting peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) TIK, mulai dari keterampilan dan pengetahuan, perencanaan, pengoperasian, perawatan dan pengawasan, serta peningkatan kemampuan TIK para pimpinan di lembaga pemerintahan, pendidikan, perusahaan, UKM (usaha kecil menengah) dan LSM. Sehingga pada akhirnya akan dihasilkan output yang sangat bermanfaat baik bagi manusia sebagai individu itu sendiri maupun bagi semua sektor kehidupan (Pikiran Rakyat,2005:Mei).

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti

telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut (Rosenberg, 2001).

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ?

2. Bagaimana peranan guru dalam Pembelajaran Teknologi Informasi (TI)?

3. Bagaimana Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran?

4. Apa masalah-masalah dalam penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ?

5. Bagaimana pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pembelajaran PAI ?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

2. Untuk mengetahui peranan guru dalam Pembelajaran Teknologi Informasi (TI).

3. Untuk mengetahui Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran.

4. Untuk mengetahui masalah-masalah dalam penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

5. Untuk mengetahui pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) dalam Pembelajaran PAI.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Teknologi informasi dan komunikasi mencakup dua aspek, yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi.

Terdapat banyak pengertian mengenai TIK atau Teknologi informasi dan komunikasi, diantaranya dipaparkan sebagai berikut :

1. Menurut Eric Deeson, Harper Collins Publishers, Dictionary of Information Technology, Glasgow, UK, 1991 “Information Technology (IT) the handling of information by electric and electronic (and microelectronic) means.”Here handling includes transfer. Processing, storage and access, IT special concern being the use of hardware and software for these tasks for the benefit of individual people and society as a whole” Dari penjelasan di atas dapat diartikan bahwa teknologi informasi adalah kebutuhan manusia didalam mengambil dan memindahkan , mengolah dan memproses informasi dalam konteks sosial yang menguntungkan diri sendiri dan masyarakat secara keseluruhan.

2. Menurut Puskur Diknas Indonesia, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi.

a. Teknologi Informasi adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi.

b. Teknologi Komunikasi adalah segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala

kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media

3. Menurut Susanto ( 2002 ) informasi merupakan hasil dari pengolahan data namun tidak semua hasil dari pengolahan tersebut dapat menjadi informasi.

Jadi pengertian TIK adalah sebuah media atau alat bantu yang digunakan untuk transfer data baik itu untuk memperoleh suatu data / informasi maupun memberikan informasi kepada orang lain serta dapat digunakan untuk alat berkomunikasi baik satu arah ataupun dua arah.

4. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum adalah semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi. (Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006: 6).

Jadi Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.

Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.

Arti teknologi informasi bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan sudah merupakan kelaziman.

B. Peranan Guru dalam Pembelajaran Teknologi Informasi (TI)

Setiap siswa memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu sumber informasi.

Informasi melalui media internet, bisa menjadi salah satu kunci untuk membuat dunia pendidikan di Indonesia mempunyai standar yang sama dengan negara lain. Dengan menggunakan media internet, pemerintah dan institusi pendidikan sudah mulai menerapkan pola belajar yang cukup efektif untuk diterapkan bagi masyarakat yang memiliki kendala dengan jarak dan waktu untuk mendapatkan informasi terutama informasi dalam dunia pendidikan.

Salah satu metode yang mulai diterapkan yaitu pembelajaran distance learning. Metode distance learning merupakan suatu metode alternatif dalam pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan. Sistem ini diharapkan dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat keterbatasan tenaga pengajar yang berkualitas. Metode distance learning sangat membantu siswa atau masyarakat dalam mempelajari hal-hal atau ilmu-ilmu baru dengan tampilan yang lebih menarik dan mudah untuk dipahami. Dalam pengaksesan dan pemanfaatan metode ini, peran internet sangatlah diperlukan, karena melalui internet seseorang dapat mengirim file atau meng-upload file yang ingin dipublikasikan dan melalui internet juga seseorang dapat mengakses file yang ingin dicari.

Selain metode distance learning, masih banyak metode-metode lain yang sangat membantu dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, diantaranya dengan adanya modul-modul pembelajaran gratis yang tersedia, portal pembelajaran online, dll.

C. Optimalisasi Pemanfaatan TI dalam Pembelajaran

Kehadiran TI pada saat ini sudah tidak mungkin dihindarkan lagi. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan untuk menerima TI, dan kemampuan untuk memanfaatkanya seoptimal mungkin. Untuk dapat memanfaatkan TI dalam pembelajaram secara optimal, diperlukan hal-hal berikut:

1. Visi pembelajaran, yang menjelaskan bagaimana pembelajaran seharusnya: karakteristik, proses dan paradigmanya di masa mendatang. TI membawa perubahan dalam berbagai aspek pembelajaran, termasuk paradigma pernbelajarannya. Apakah pembelajaran tetap berfokus pada materi dan tenaga pengajar ataukah pembelajaran yang diinginkan adalah yang berfokus pada siswa atau kompetensi? Apakah pembelajaran dipersepsikan memerlukan TI? Dalam hal ini, perlu ada kejelasan isi pembelajaran yang memanfaatkan TI, sehingga TI dapat dimanfaatkan dengan optimal.

2. Realokasi sumberdaya, hal ini sangat penting karena dari waktu ke waktu penerimaan setiap lembaga pendidikan relatif tidak meningkat. Untuk memanfaatkan TI, yang memiliki initial cost yang sangat tinggi, diperlukan keberanian pimpinan Lembaga pendidikan untuk merealokasikan sumber daya sesuai dengan prioritas yang ditentukan. Alokasi sumberdaya ini dapat dibuat secara bertahap dan sistematis.

3. Strategi implementasi, sesuai dengan alokasi sumberdaya yang dibuat bertahap, maka strategi implementasi pun perlu dilakukan secara bertahap dan sistematik. Pentahapan ini menjamin bahwa langkah yang dilakukan tidak terlalu besar sehingga dapat memutar balikkan tradisi pembelajaran yang sekarang sudah berjalan dan banyak orang sudah merasa nyaman dengan hal itu. Pentahapan contoh keberhasilan pemanfaatan TI yang kemudian dapat dimanfaatkan kepada kasus-kasus lainnya, serta nilai tambah yang dapat diperoleh melalui pemanfaatan TI (misalnya keterampilan tenaga pengajar, siswa)

4. Infrastruktur sarana dan prasarana menjadi sangat penting dalam upaya pemanfaatan TI dalam pembelajaran. Pemanfaatan TI sangat bergantung pada kehadiran perangkat keras pendukung, perangkat lunak, jaringan, serta sumberdaya manusia yang dapat mendukung.

5. Akses siswa kepada TI, walaupun pemanfaatan sudah dirancang dengan sistematis dan cermat, jika siswa tidak atau belum memiliki akses terhadap TI, maka pemanfaatan TI akan menjadi beban semata. Jika memungkinkan, institusi pendidikan dapat menyediakan TI yang dapat diakses oleh siswa atau institusi pendidikan dapat menjamin bahwa siswa dapat mengakses TI misalnya melalui penyediaan daftar warnet, computer and internet rental.

6. Kesiapan tenaga pengajar, pembelajaran merupakan proses untuk knowledge prodtion knowledge transmission, dan knowledge application. Sementara itu, TI adalah alat yang dapat mempermudah dan mempercepat terjadinya proses tersebut. Tenaga pengajar perlu memiliki sikap dan pengetahuan yang jelas tentang hal tersebut, sehingga tidak menjadikan TI sebagai pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu, persiapan tenaga pengajar dimulai dari tahap penyadaran, sampai tahap adopsi dan pemanfaatan perlu dilakukan, melalui berbagai cara, seperti pelatihan, learning by doing, sekolah lanjut. Kesiapan tenaga pengajar meliputi computer., and intenet literacy, pengetahuan teknis dan operasional komputer dan internet, keterampilan merancang pembelajaran berbasis TI keterampilan memproduksi pembelajaran berbasis TI, serta keterampilan mengintegrasikan TI dalam sistem pembelajaran secara umum.

7. Kendali mutu dan penjaminan mutu Inisiasi pembelajaran berbasis TI perlu disikapi sebagai proyek pengembangan kualitas pembelajaran. Dalam hal ini, perencanaan secara konseptual maupun operasional merupakan syarat yang tidak dapat ditawar. Pemantauan inisiasi selama dilaksanakan juga merupakan mekanisme pengendalian mutu yang tidak dapat dihindarkan, kemudian evaluasi keberhasilan (cost-efftctiveness dan cost efficiency) menjadi mata rantai akhir untuk menentukan sejauhmana pembelajaran berbasis TI dapat memberikan hasil yang optimal. Perlu diyakinkan bahwa pembelajaran berbasis TI akan memberikan hasil sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, bukannya berkurang atau menyimpang.

8. Kolaborasi dan konsorsium, pembelajaran berbasis TI tidak mungkin untuk berdiri sendiri. Kolaborasi dan pengembangan jejaring keahlian merupakan landasan dasar dari keberhasilan pembelajaran berbasis TI. Artinya, dituntut kerjasama dari berbagai pihak dalam beragam peran untuk dapat mengembangkan pembelajaran berbasis T1, melaksanakannya, serta mengevaluasi serta merevisi untuk kemudian meningkatkan kualitasnya.

Kedelapan strategi tersebut memerlukan perencanaan dan juga sumberdaya yang tidak sedikit. Apakah kita mampu dan mau melakukan semua itu? Menurut Machiavelli dalam bukunya The Prince: “There is nothing more difficu/t to plan, more doubful of success, nor more dangerous to manage than the creation of a new order of things”. Jika memang kita perlu berubah,maka kita dapat melakukanya.

Untuk dapat memanfaatkan TI dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu:

1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru,

2) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, dan

3) guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik.

D. Masalah-Masalah dalam Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Dampak positif teknologi terhadap dunia pendidikan sudah tidak diragukan lagi. Berbagai pendapat pakar dari berbagai disiplin ilmu sepakat bahwa kehadiran teknologi baru akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Namun perlu disadari bahwa kehadiran teknologi tersebut di sekolah juga menimbulkan masalah baru apabila sekolah tidak siap antara lain :

1. Sarana di sekolah belum memadai.

Tidak semua sekolah mempunyai sarana yang menjadi prasarat pemanfaatan teknologi tersebut. Kondisi tersebut, akhirnya sekolah tersebut menjadi enggan untuk menerapkan TIK di sekolahnya.

2. Keterbatasan biaya dan tenaga operasional.

Untuk bisa memanfaatkan TIK perlu adanya tenaga khusus yang mengelola media tersebut, karena tidak setiap guru mampu mengoperasikan media tersebut. Berbagai sekolah yang mempunyai kemampuan baik tenaga maupun biaya tidak menjadi masalah, tetapi bagi sekolah yang miskin dan tenaga guru pas-pasan, kondisi ini merupakan masalah baru yang sangat sulit mengatasinya. Keterbatasan tenaga operasional untuk melakukan penjadwalan, perawatan dan pengoperasian ketika guru akan memanfaatkan media menjadi masalah. Akhirnya guru malas untuk memanfaatkan media tersebut.

3. Kepala sekolah dan guru kurang sadar akan pentingnya media pendidikan.

Secara umum kondisi sekolah di Indonesia memang kesulitan untuk mencari tambahan biaya untuk kegiatan yang diluar kegiatan rutin. Pemanfaatan media pendidikan bagi sekolah kesannya hanya mahal dan menakutkan sehingga kalau sekolah tersebut pemimpinnya dan guru-gurunya kurang sadar pentingnya media pendidikan, akan semakin jauh dari harapan untuk memanfaatkan media pendidikan

4. Beban orang tua siswa lebih berat

Beberapa sekolah telah mempunyai kesadaran tentang pentingnya media. Namun seringkali untuk memenuhi media tersebut, salah satu sumber dana yang dilakukan sekolah adalah dengan membebankan kepada orang tua siswa. Tentu saja hal ini akan menjadi beban yang tidak ringan bagi orang tua siswa.

5. Kondisi keamanan sekolah kurang memadai

Penerapan ICT akan lebih baik jika kondisi keamanan sekolah baik. Namun akan menjadi masalah jika menerapan ICT dilakukan pada sekolah yang kurang aman. Peluang terjadi kasus pencurian akan semakin tinggi disamping itu, pihak sekolah akan terbebani dengan adanya media ICT tersebut karena harus menjaga keamanan. Kalau keamanan saja tidak terjamin bagaimana mau bisa digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan/pembelajaran.

6. Persepsi yang salah terhadap media pembelajaran

Alasan yang sering didengar, mengapa guru enggan memanfaatkan media pembelajaran? karena dengan memanfaatkan media tersebut jam pelajaran siswa menjadi terganggu. Kondisi memang cukup memperihatinkan. Artinya persepsi guru terhadap media pembelajaran salah. Padahal seharusnya justru dengan bantuan media, materi yang disampaikan lebih jelas dan kompreherensif karena pemahaman siswa diharapkan hampir sama.

7. Guru merasa terbebani

Untuk bisa mengajar dengan memanfaatkan media, memang dituntut guru harus lebih kreatif serta persiapan pengajaran lebih matang. Sebelum menggajar menggunakan media, guru dirumah sudah harus mencobanya sehingga nantinya disekolah guru sudah terbiasa dan tidak canggung lagi. Untuk itu, guru perlu menyiapkan waktu, tenaga dan biaya agar bisa berjalan dengan baik. Namun kenyataan banyak guru yang beralasan tidak menggunakan media ICT karena tidak ada waktu atau biaya.

E. Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran PAI

Komunikasi elektronik telah menjadi salah satu strategi terbaru untuk mendukung proses pembelajaran (Davis, 1997: 167-180). Aspek paling penting dalam proes pembelajaran adalah kemampuan peserta didik dan pengajar untuk melakukan komunikasi tanpa batas waktu. Proses pembelajaran secara konvensional menggunakan aktivitas yang ada di kelas begitu kegiatannya selesai, maka interaksi juga usai. Oleh karena itu, komunikasi di kelas konvensional bersifat statis.

Bachari (2001) menyatakan, bahwa pemanfaatan teknologi informasi dalam konteks pemebelajaran pada dasarnya dapat berupa (1) Media proses belajar mengajar jarak jauh, (2) Media pembelajaran mandiri, (3) alat uji kemahiran, (4) media promosi lembaga penyelenggara pendidikan, (5) media penyedia bahan ajar, dan (6) sarana komunikasi profesional bagi para pengajar (guru).

Selanjutnya Bachari (2001) mengemukakan bahwa pembuatan jaringan komunikasi tidaklah terlalu sulit sebab saat ini sangat banyak softwere yang memberikan kemudahan bagi kita untuk mendesai sebuah web.

Mendesain web semacam ini tidaklah berbeda dengan rancangan yang dipergunakan oleh situs-situs surat kabar, hiburan, bisnis, dan perbankan. Softwere-softwere yang sering dipergunakan untuk mendesain sebuah web secara umum adalah MS Publisher, MS Front Page, dan Net Scope Composer, setiap softwere tersebut memiliki fasilitas yang berbeda.

1. MS Publiser, menyediakan falitas yang sangat praktis dalam menggunakan softwere ini, kita cukup mengisi materi yang akan ditampilkan dalam web, karena softwere ini telah menyediakan format web beserta htmlnya.

2. MS Front Page, tugas kita hanya membuat gambar dan mengetik naskah untuk membangun sebuah web. Dapat pula kita sertakan video live dalam situs yang kita bangun dengan menggunakan softwere ini. Karakteristik softwere itu harus kita pahami dan pemanfaatannya harus kita sesuaikan dengan kebutuhan web yang akan kita rancang.

Hal yang penting dan prinsip dalam proses pembelajaran baik dalam konteks langsung tatap muka atau melalui sarana komunikasi melalui jaringan internet adalah komunikasi konvergen (Lihat, Rogers, 1986: 44; Abdulhak, 2001: 12) yang memiliki ciri utama bahwa komunikasi itu pada dasarnya menjalin hubungan (komunikasi) saling pengertian yang dibangun melalui tahapan pemahaman, interprestasi, pengertian dan kegiatan diantara peserta didik untuk kemudian dicapai saling kesepahaman.

Adapun aplikasi Teknologi Informasi untuk Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dikelompokkan ke dalam tiga fungsi, yaitu:

1. Media Pembelajaran mandiri/klasikal, antara lain pemutaran film dan CD interaktif, pertama, pemutaran film, guru dapat memilah jenis film yang ada yaitu film yang bersifat given artinya suatu paket judul film yang telah tersedia dan relevan dengan pembelajaran pendidikan Agama Islam. Kedua, penggunaan CD interaktif lebih ”Maju” dari pemutaran film, karena siswa dapat melakuakn ”interaksi” atau perlakuan terahadap program yang ditawarkan pada CD, misalnya CD interaktif soal-jawab Pendidikan Agama Islam dikemas dalam bentuk permainan seperti dalam ”Who want to Be Millionare”. Madrasah/sekolah dalam hal ini guru Pendidikan Agama Islam harus memiliki koleksi film atau CD interaktif yang terkait dengan materi Pendidikan Agama Islam interaktif yang terkait dengan materi Pendidikan Agama Islam sesuai kurikulum yang berlaku.

2. Teknologi Informasi yang diaplikasikan untuk alat bantu pembelajaran yaitu, pemanfaatan softwere (komputer) untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Beberapa contoh software pendidikan yang dikelan diantaranya; Computer Assisted Instruction (CAI) yang umumnya software ini sangat baik untuk keperluan remidial. Intelligent computer assited learning (ICAL), dapat digunakan untuk material atau konsep. Computer Assisted Training (CAT), Computer Assisted Design (CAD), Computer Assisted Media (CAM) dan sebagainya.

3. Teknologi Informasi yang terkait sebagai sumber belajar (learning resurces) dalam bentuk internet dengan segala komponennya. Materi yang ditampilkan dalam sebuah web yang terkait dengan pendidikan Agama Islam dapat dilacak terlebih dahulu oleh guru dan dipraktekkan langsung oleh murid. Maksud pelacakan oleh guru agar materi atau informasinya relevan dengan tujuan kurikuler PAI.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.

2. Guru memegang peran yang amat penting dalam pembelajaran Teknologi Informasi. Guru harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu sumber informasi.

3. Untuk dapat memanfaatkan TI dalam pembelajaram secara optimal, diperlukan hal-hal berikut:

a. Visi pembelajaran

b. Realokasi sumberdaya

c. Strategi implementasi

d. Infrastruktur sarana dan prasarana

e. Akses siswa kepada TI

f. Kesiapan tenaga pengajar

g. Kendali mutu dan penjaminan mutu

h. Kolaborasi

4. Masalah-Masalah dalam Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK):

a. Sarana di sekolah belum memadai

b. Keterbatasan biaya dan tenaga operasional

c. Kepala sekolah dan guru kurang sadar akan pentingnya media pendidikan

d. Beban orang tua siswa lebih berat

e. Kondisi keamanan sekolah kurang memadai

f. Persepsi yang salah terhadap media pembelajaran

g. Guru merasa terbebani

5. Aplikasi Teknologi Informasi untuk Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dikelompokkan ke dalam tiga fungsi, yaitu:

a. Media Pembelajaran mandiri/klasikal, antara lain pemutaran film dan CD interaktif,

b. Teknologi Informasi yang diaplikasikan untuk alat bantu pembelajaran yaitu, pemanfaatan softwere (komputer) untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

c. Teknologi Informasi yang terkait sebagai sumber belajar (learning resurces) dalam bentuk internet dengan segala komponennya.

B. Saran

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini, seyogyanya para guru telah menguasai TIK untuk diterapkan dalam proses pembelajaran, agar mutu pembelajaran semakin meningkat, peran orang tua juga sangat diperlukan dalam mengawasi anak-anak memanfaatkan media internet agar tidak di salahgunakan.

DAFTAR PUSTAKA

Munir. 2008. Dampak Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Pendidikan. Bandung, Penerbit: Universitas Pendidikan Indonesia

Pahrudin, Agus. 2006. Strategi Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di Madrasah. Bandar Lampung: Fakta Press.

http://datafilecom.blogspot.com//2010/11/aplikasi-teknologi-infformasi-terhadap.html

http://ki2faozi.blogspot.com//2009/04/manfaat-dan-kendala-penerapan-teknologi.html

http://staff.blog.ui.ac.id/harrybs/perkembangan-tik-di-bidang-pendidikan-di-indonesia//

http://sudirmansmansa.wordpress.com/2008/05/08/makalah-pemanfaatan-teknologi-informasi-untuk-meningkatkan-mutu-pembelajaran//

http://tipsgadgetforum.blogspot.com//2012/06/teknologi-informasi-dankomunikasi_8777.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 November 2016 in Tak Berkategori

 

MEDIA PEMBELAJARAN DALAM STRATEGI PEMBELAJARAN

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah

Dosen : Iwan Hermawan S.Pd.I.,M.Pd.I

Disusun Oleh Kelompok

Semester VII B

Fauzi Alvi Yasin 1341170501061

Hapid Padludin Kamil 1341170501028

Enenng Rita F. 1341170501021

Desi Julianti 1341170501115

Ikeu Purnamasari 1341170501082

Irhan Fauziah 1341170501073

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS NEGRI SINGAPERBANGSA KARAWANG

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang memberikan pedoman hidup yakni Al-Quran dan Sunnah.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah ”Sistem Informasi Pendidikan”. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada Iwan Hermawan S.Pd.I.,M.Pd.I selaku Dosen pengampu mata kuliah dan segenap pihak yang telah membantu memberikan bimbingan dan arahan selama penulisan makalah ini.

Akhirnya kami menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Karawang, Oktober 2015

Kelompok 10

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………………………………… 1

1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………………… 1

1.3 Tujuan Masalah………………………………………………………………………………. 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Media Pembelajaran……………………………………………………….. 2

2.2 Pengertian Strategi Pembeljarn………………………………………………………… 2

2.3 Hubungan Media Pembelajaran dalam Strategi Pembelajaran……………… 2

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………. 7

3.2 Saran……………………………………………………………………………………………… 7

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi sekolah pada umumnya adalah rendahnya mutu pendidikan. Usaha peningkatan kualitas pendidikan terus dilaksanakan secara sistematis. Pembaharuan pendidikan tersebut merupakan upaya sadar yang sengaja dilakukan dengan tujuan memperbaiki praktek pendidikan dengan sungguh-sungguh. Upaya peningkatan mutu pendidikan salah satunya adalah menciptakan kurikulum yang lebih memberdayakan peserta didik. Untuk itu, perlu dirancang sebuah kurikulum yang berorientasi pada pencapaian tujuan pendidikan nasional yakni menghasilkan manusia yang berkualitas dan berkompeten.

Selain itu, mutu pendidikan juga sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan yang digunakan para guru dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Ketepatan dalam menggunakan pendekatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan dapat membangkitkan motivasi dan minat siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan, serta terhadap proses dan hasil belajar siswa.

B. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Media Pembelajaran ?

2. Apa Pengertian Strategi Pembelajaran ?

3. Apa hubungan antara Media Pembelajaran dengan Strategi Pembelajarn ?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk Mengetahui Pengertian Media Pembelajaran.

2. Untuk Mengetahui Pengertian Strategi Pembelajaran/

3. Untuk mengetahui keterkaitan Media Pembelajaran dalam Strategi Pembelajaran

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’,’perantara’, atau ‘pengantar’.dalam bahasa Arab, media adalah perantara (وسائل) atau pengantar pesan dan pengirim kepada penerima pesan. Gerlach dan Ely (1971)mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap.

B. Pengertian Strategi Pembelajaran

Strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal. (David, dalam Sanjaya, 2008:2). Dengan demikian strategi pembelajaran diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi merupakan siasat dalam pembelajaran. Tujuan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien manakala dijalankan dengan suatu strategi tertentu. Contoh, strategi yang akan dipakai adalah bagaimana mengaktifkan peserta didik, agar siswa mau aktif. Dalam kegiatan belajar mengajar guru menggunakan Metode tanya jawab, bisa bertanya klasikal, bertanya berantai dan bertanya silih berganti, tujuannya agar aktivitas yang disampaikan bisa efektif tersampaikan (Ali, 2007:83).

C. Hubungan Media Pembelajaran di dalam Strategi Pembelajaran

Media pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keegiatan belajar mengajar, karena seorang guru harus bisa menentukan media pembelajaran dalam RPP yang di buat. Sehingga Strategi pembelajaran dapat tercapai dengan menggunakan media yang tepat. Dalam pengertian ini, guru, buku teks dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, fhotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyususn kembali informasi visual dan verbal.

1. Ciri-ciri Media Pembelajaran

· Media pembelajaran memiliki pengertian fisik dewasa inidikenal sebagai hardware
(perangkat keras) yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar atau diraba dengan pancaindra.

· Media pembelajaran memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak) yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa.

· Penekanan media pembelajaran terdapat visual dan audio.

· Media pembelajaran meniliki pengertian alat bantu pada proses belajar bai di dalam maupun luar kelas

· Media Pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

· Media Pembelajaran dapat digunakan secara massal (misalnya: film,slide, video, OHP), atau kelompok kecil (misalnya: modul, komputer, radio tape/kaset, video recorder)

· Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manjemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.

Dalam proses belajar dan interaksi mengajar belajar tidak harus selalu dimulai dari pengalaman langsung, tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok siswa yang dihadapi dengan mempertimbangkan situasi belajarnya. Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh danbermakna mengenai informasi dan gagasan yang tekandung dalam pengalaman itu, oleh karena itu melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba. Ini juga dikenal dengan Learning

2. Macam-macam Media Pembelajaran

Berdasarkan perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok yaitu:

  1. Media hasil teknologi cetak
  2. Media hasil audio-visual
  3. Media hasil teknologi yang berdasarkan komputer
  4. Media hasil gabungan teknologi cetak dan kompute

Teknologi Cetak adalah cara untuk menghasilkan atau meyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis.

Ciri-ciri teknologi cetak:

  1. Teks dibaca secara linear
  2. Baik teks maupun visual menampilkan komunikasi satu arah dan reseptif
  3. Teks dan visual ditampilkan secara statis (diam)
  4. Pengembangannya sangat tergantung kepada prinsp-prinsip kebahasan dan persepsi visual
  5. Baik teks maupun visual berorientasi (berpusat) pada siswa
  6. Informasi dapat diatur kembali atau ditata ulang oleh siswa.

Teknologi Audio-Visual adalah cara mrnghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual.

Ciri-cirinya:

  1. Bersifat linear
  2. Menyajikan visual yang dinamis
  3. Digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perancang/pembuat
  4. Merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak
  5. Dikembnagkan menurut prinsip psikologis behaviorisme dan kognitif
  6. Umumnya berorientasi pada guru dengan tingkat perlibatan interaktif murid yang rendah.

Teknologi Berbasis Komputer adalah cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikro-prosesor.

Ciri-cirinya:

  1. Dapat digunakan secara acak, non sekuensial atau secara linear
  2. Dapat digunakan berdasarkan keinginan siswa atau berdasarkan keinginan perancang/ pengembang sebagaimana direncanakannya.
  3. Biasanya gagasan-gagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan kata, simbol, dan grafik
  4. Untuk mengembangkan media ini menggunakan prinsip-prisnsip ilmu kognitif
  5. Pembelajaran dapat berorientasi kepada siswa melibatkan interaktivitas siswa yang tinggi.

Teknologi Gabungan adalah cara untuk menghasilkan dan menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa bentuk media yang dikendalikan oleh koputer.

Ciri-cirinya:

  1. Dapat digunakan secara acak, sekuensial, secara linear
  2. Dapat diguankan sesuai dengan keinginan siswa buka saja dengan cara yang direncanakan da diinginkan oleh perancangnya.
  3. Gagasan sering disajikan secara realistik dalam konteks pengalaman siswa, menurut apa yang relevan denga siswa dan dibawah pengendalian siswa.
  4. Dalam pengembangannya menggunakan ilmu kognitif dan konstruktivisme
  5. Pembelajaran ditata dan terpusat pada lingkup kognitif sehingga pengetahuan dikuasai jika pelajaran itu digunakan.
  6. Bahan-bahan pelajaran banyak melibatkan interaktivitas siswa
  7. Bahan-bahan pelajaran memadukan kata dan visual dari berbagai sumber.

Pengelompokan jenis media menurut Seels & Glasgow (1990:181-183), yaitu:

  1. Pilihan media tradisional
  2. Visual yang diproyeksikan meliputi: Proyeksi opaque (tak tembus pandang), Proyeksi, overhead, Slides, Filmstrips
  3. Visual yang tak diproyeksikan meliputi: Gambar, poster, Foto, Charts, grafik, diagram, Pemaran, papan info, papan bulu
  4. Audio meliputi : Rekaman pringan, Pita kaset, reel, catridge
  5. Penyajian multimedia meliputi: Silde plus suara (tape), Multi image
  6. Visual dinamis yag diproyeksikan meliputi : Film, Televisi danVideo
  7. Cetak meliputi : Buku teks, Modil, teks terprogram, Workbook, Majalah ilmiah, berkala, Lembaran lepas (hand out)
  8. Permainan meliputi : Teka-teki, Simulasi, Permainan papan
  9. Realia meliputi : Model, Specimen (contoh), Manipulatif (peta, boneka)
  10. Pilihan media teknologi mutakhir
  11. Media berbasis komunikasi : Telekonferen, Kuliah jarak jauh
  12. Media berbasis mikroprosesor : Comuter assisted instruction, Permainan komputer, Sistem tutor intelijen, Interaktif, Hypermedia, Compact (video) disk

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dengan tersedianya media pembelajaran, guru pendidik dapat menciptakan berbagai situasi kelas, menentukan metode pengajaran yang akan dipakai dalam situasi yang berlainan dan menciptakan iklim yang emosional yang sehat diantara peserta didik. Bahkan alat/media pembelajaran ini selanjutnya dapat membantu guru membawa dunia luar ke dalam kelas. Dengan demikian ide yang abstrak dan asing (remote) sifatnya menjadi konkrit dan mudah dimengerti oleh peserta didik. Bila alat/media pembelajaran ini dapat di fungsikan secara tepat dan proforsional, maka proses pembelajaran akan dapat berjalan efektif.

B. Saran

Mohan maaf apabila makalah ini kurang baik apabila ada tutur kata bahasa yang kurang berkenan kami sebagai penyaji makalah meminta para pembaca makalah untuk berpartisipasi mengkoreksi makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

· Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: San Grafika

· Dimyati dan Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 November 2016 in Tak Berkategori